<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>sambungan baja Archives - Jasa Arsitektur dan Konstruksi Baja</title>
	<atom:link href="https://arsitekta.com/tag/sambungan-baja/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://arsitekta.com/tag/sambungan-baja/</link>
	<description>Arsitekta Layanan Terbaik Untuk Konstruksi Baja dan Desain Bangunan</description>
	<lastBuildDate>Mon, 19 Jul 2021 16:20:42 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.5.5</generator>

<image>
	<url>https://arsitekta.com/wp-content/uploads/2020/06/Icon-CS-Arsitekta-150x150.jpg</url>
	<title>sambungan baja Archives - Jasa Arsitektur dan Konstruksi Baja</title>
	<link>https://arsitekta.com/tag/sambungan-baja/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Detail Sambungan Balok Baja Dengan Kolom Terbaik Begini</title>
		<link>https://arsitekta.com/detail-sambungan-balok-baja-dengan-kolom-terbaik-begini/</link>
					<comments>https://arsitekta.com/detail-sambungan-balok-baja-dengan-kolom-terbaik-begini/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[arsitekta]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 19 Jul 2021 16:20:42 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Metode Kerja]]></category>
		<category><![CDATA[Tutorial]]></category>
		<category><![CDATA[balok baja]]></category>
		<category><![CDATA[detail sambungan]]></category>
		<category><![CDATA[detail sambungan balok baja]]></category>
		<category><![CDATA[sambungan baja]]></category>
		<category><![CDATA[sambungan balok]]></category>
		<category><![CDATA[sambungan baut]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://arsitekta.com/?p=3049</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ada 6 detail sambungan balok baja terhadap kolom. Detail-detail ini akan sering anda temui. Khususnya pada pekerjaan konstruksi dak baja. Mulai yang ber-anggaran ratusan juta, hingga ratusan miliar. Pasti menerapkan sistem sambungan baut dan las, pada setiap komponennya. Sebab sampai sekarang belum temukan metode lain untuk menyatukan material baja. Selain kedua cara tersebut. Pengertian balok [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://arsitekta.com/detail-sambungan-balok-baja-dengan-kolom-terbaik-begini/">Detail Sambungan Balok Baja Dengan Kolom Terbaik Begini</a> appeared first on <a href="https://arsitekta.com">Jasa Arsitektur dan Konstruksi Baja</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Ada 6 detail sambungan balok baja terhadap kolom. Detail-detail ini akan sering anda temui. Khususnya pada pekerjaan konstruksi dak baja. Mulai yang ber-anggaran ratusan juta, hingga ratusan miliar. Pasti menerapkan <a href="https://arsitekta.com/sistem-sambungan-baja-konstruksi-paling-familiar-saat-ini/#:~:text=Sambungan%20baja%20berarti%20hasil%20dari,sebuah%20bentuk%20komponen%2Frangka%20baja.">sistem sambungan</a> baut dan las, pada setiap komponennya. Sebab sampai sekarang belum temukan metode lain untuk menyatukan material baja. Selain kedua cara tersebut.</p>
<h2><strong>Pengertian balok dan kolom baja</strong></h2>
<p>Adalah 2 jenis komponen struktur yang terbuat dari material baja profil. Yang secara bersama-sama bekerja sebagai penopang beban yang terjadi pada konstruksi bangunan. Walau dengan posisi pemasangan yang berbeda. Namun perbedaan tersebut pula, yang mengakibatkan fungsi kedua komponen lebih spesifik. Yaitu kolom baja bekerja menyangga beban tekan aksial secara vertikal. Sedangkan balok baja menopang beban secara horizontal, serta menyalurkan ke tiang kolom.</p>
<p>Perlu anda ketahui gabungan antara balok dan kolom baja ini sering sebut dengan portal. Anda dapat membaca istilah-istilah yang berkaitan tentang baja. Karena harus kita akui struktur baja selalu terikat dengan kajian-kajian<a href="https://arsitekta.com/60-istilah-ilmiah-baja-ini-sering-anda-temui-sehari-hari/"> ilmiah</a>. Tidak terkecuali untuk menetapkan detail sambungan balok baja ini.</p>
<h2><strong>Jenis-jenis pertemuan balok dan kolom</strong></h2>
<p>Secara umum sambungan balok baja ada 2 macam, yaitu: a].Pertemuan balok dengan kolom, dan b].Join antar sesama balok. Nah yang anda baca saat ini adalah yang pertama. Sementara bagian kedua akan kami hadirkan dalam artikel berikutnya. Sementara itu join balok dan kolom sendiri terbagi 2, yaitu:</p>
<ol>
<li>Sambungan balok terjadi pada  <em>flange</em> kolom</li>
<li>Dan sambungan yang berada pada <em>web</em></li>
</ol>
<h2><strong>Pertemuan balok pada<em> flange</em> kolom</strong></h2>
<p>Perlu anda ketahui material yang paling baik untuk kolom, maupun balok adalah baja <a href="https://arsitekta.com/tabel-baja-profil-h-beam-dan-kegunaan-bahan/">profil WF dan H-Beam</a>. Kedua material ini sama-sama memiliki <em>flange</em> (sayap). Nah ketika sebuah balok WF 250x125x6x9. Hendak anda sambung dengan kolom, yang terbuat dari H-Beam 300x300x10x15. Dengan posisi pemasangan pada  sayap. Maka model pertemuan dapat anda terapkan, seperti pada gambar berikut.</p>
<p><img fetchpriority="high" decoding="async" class="size-medium wp-image-3051 aligncenter" src="https://arsitekta.com/wp-content/uploads/2021/07/Join-kolom-dengan-balok-baja-type-I-300x213.jpg" alt="Seluruhnya ada 6 macam detail sambungan balok baja. 3 diantaranya adalah pada flange kolom" width="300" height="213" srcset="https://arsitekta.com/wp-content/uploads/2021/07/Join-kolom-dengan-balok-baja-type-I-300x213.jpg 300w, https://arsitekta.com/wp-content/uploads/2021/07/Join-kolom-dengan-balok-baja-type-I.jpg 600w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" /></p>
<h3><strong>a. Keterangan gambar detail 1</strong></h3>
<p>Detail sambungan balok baja nomor 1, termasuk yang paling praktis serta tergolong kuat. Karena seluruh penampang balok melekat pada <em>flange</em> H-Beam. Hanya dengan menggunakan 2 jenis komponen, yaitu:</p>
<ol>
<li>Pelat lekat T=10 mm, berukuran ≤ 125&#215;260 mm</li>
<li><a href="https://arsitekta.com/baut-konstruksi-baja-yang-benar-begini/">Baut mur</a> Ø5/8” HTB (A-325) sebanyak 6 buah</li>
</ol>
<p>Sedangkan untuk perkuatan kolom H-Beam, cukup dengan menambah 2 buah <em>stiffner</em>. Anda pasang rata dengan pelat lekat balok. Yaitu dengan menggunakan <a href="https://arsitekta.com/tabel-baja-plat-eyzerbordes-dan-kegunaan/">pelat baja</a> T= 10 mm. Agar sesuai dengan ketentuan ≤ tebal <em>web</em> (t1) kolom.</p>
<h3><strong>b. Keterangan gambar detail 2</strong></h3>
<p>Gambar detail sambungan balok baja yang ke-2. Balok terhubung dengan kolom melalui komponen perantara, yakni pelat lekat. Berbeda dengan detail 1. Sehingga model sambungan ini jarang terapkan. Karena balok kurang kokoh. Setelah menerima <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Beban">beran</a> berat sering mengalami puntir. Apalagi bila pemasangan pelat simpul hanya 1 buah. Padahal seharusnya adalah 2. Yakni sisi kanan dan kiri <em>web </em>balok.</p>
<h3><strong>c. Dan penjelasan detail 3</strong></h3>
<p>Gambar 3 merupakan yang terbaik dari 6 detail sambungan balok baja. Hingga saat ini type sambungan seperti ini adalah paling populer. Bahkan untuk <a href="https://arsitekta.com/kondisi-pemasangan-konsol-baja-profil-faktanya-begini-3-5/">join konsol</a> serta kuda-kuda pun menerapkan model ini. Secara visual dapat anda lihat perbandingannya dengan gambar 1 dan 2. Dari dimensi pelat serta jumlah baut mur. Seluruhnya 2x dari model sambungan sebelumnya. Selain itu balok WF juga memiliki perkuatan ekstra, yaitu<em> hounch/couph</em>. Atau dalam istilah lokal elemen ini disebut sumpil atau dagu.</p>
<h2><strong>Sambungan balok dengan <em>web </em>kolom</strong></h2>
<p>Artinya balok baja terhubung dengan kolom dengan sambungan baut yang berada pada <em>web </em>kolom. Silahkan anda perhatikan 3 buah detail sambungan balok baja berikut.</p>
<p><img decoding="async" class="size-medium wp-image-3052 aligncenter" src="https://arsitekta.com/wp-content/uploads/2021/07/Join-kolom-dengan-balok-baja-type-II-300x209.jpg" alt="3 buah detail sambungan balok baja yang terjadi pada web kolom" width="300" height="209" srcset="https://arsitekta.com/wp-content/uploads/2021/07/Join-kolom-dengan-balok-baja-type-II-300x209.jpg 300w, https://arsitekta.com/wp-content/uploads/2021/07/Join-kolom-dengan-balok-baja-type-II.jpg 650w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" /></p>
<h3><strong>Model sambungan type A </strong></h3>
<p>Sambungan type A sama persis dengan detail 1. Yang berbeda adalah letak sambungan. Perlu anda ketahui karena join balok terjadi pada <em>web </em>kolom. Maka anda harus membuat <a href="https://arsitekta.com/membuat-lubang-baut-yang-benar-caranya-seperti-ini/">lubang baut</a> pada kolom. Dan kemungkinan besar hal itu akan mengurangi kekuatan kolom. Karena tebal <em>web </em>(t1) selalu lebih tipis daripada <em>flange</em>. Yakni cuma 10 mm (Kolom menggunakan H-Beam 300x300x10x15).</p>
<h3><strong>Model sambungan type B </strong></h3>
<p>Menerapkan detail sambungan balok baja type B. Berarti anda harus melakukan pengelasan pelat lekat pada <em>web</em>. Dan jika pelat lekat yang anda gunakan adalah 2 buah. Artinya pengelasan harus terjadi 2x. Hal itu dapat mengakibatkan perlemahan kolom. Khusunya pada titik sambungan tersebut. Oleh karena itu metode ini juga kurang familiar hingga sekarang.</p>
<h3><strong>Dan join balok type C </strong></h3>
<p>Sedangkan untuk join balok type C, adalah yang paling bagus. Dimensi komponen sambungan ini sama dengan detail sambungan 3. Penting anda ketahui juga, balok tidak langsung terhubung <em>web </em>kolom. Tetapi terlebih dahulu memasang komponen tambahan, yang terbuat dari WF 250x125x6x9 belah. Serta sebagai pengaku WF belah tersebut terpasang <em>stiffner, </em>yang sekaligus berfungsi sebagai tutup. Pada bagian bawah maupun atas komponen.</p>
<h2><strong>[Penutup] Aplikasi model join pada struktur lain</strong></h2>
<p>6 detail sambungan balok baja ini dapat anda adopsi untuk sambungan komponen struktur lain. Namun terlebih dahulu memperhitungkan kekuatan baut mur. Misalnya untuk detail 2 dan type B, selain untuk sambungan balok <a href="https://arsitekta.com/jenis-jenis-dan-fungsi-kantilever-bangunan-yang-benar-begini/">kantilever</a>, konsol dan kuda-kuda. Juga dapat anda terapkan pada <em>regel (tie beam)</em>. Dengan satu syarat, semua material terbuat dari profil WF atau H-Beam.</p>
<p>Demikian penjelasan 6 macam detail sambungan balok baja dengan kolom. Semoga bermanfaat.</p>
<p>The post <a href="https://arsitekta.com/detail-sambungan-balok-baja-dengan-kolom-terbaik-begini/">Detail Sambungan Balok Baja Dengan Kolom Terbaik Begini</a> appeared first on <a href="https://arsitekta.com">Jasa Arsitektur dan Konstruksi Baja</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://arsitekta.com/detail-sambungan-balok-baja-dengan-kolom-terbaik-begini/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pemasangan Baut Struktur Baja Cara Yang Benar Begini</title>
		<link>https://arsitekta.com/pemasangan-baut-struktur-baja-cara-yang-benar-begini/</link>
					<comments>https://arsitekta.com/pemasangan-baut-struktur-baja-cara-yang-benar-begini/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[arsitekta]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 30 Jan 2021 14:56:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Konstruksi Baja]]></category>
		<category><![CDATA[Metode Kerja]]></category>
		<category><![CDATA[baut baja]]></category>
		<category><![CDATA[baut mur]]></category>
		<category><![CDATA[fabrikasi baja]]></category>
		<category><![CDATA[komponen struktur]]></category>
		<category><![CDATA[pemasangan baut]]></category>
		<category><![CDATA[proyek baja]]></category>
		<category><![CDATA[Rangka Baja]]></category>
		<category><![CDATA[sambungan baja]]></category>
		<category><![CDATA[tukang baja]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://arsitekta.com/?p=2595</guid>

					<description><![CDATA[<p>Struktur baja dapat berdiri kokoh karena menerapkan sambungan baut. Oleh karena itu pada saat pemasangan baut struktur baja, harus anda lakukan dengan benar. Mungkin sebagian orang berpendapat pekerjaan ini mudah. Karena tidak memahami resikonya, jika baut mur tidak terpasang dengan sempurna. Atau karena tidak menyadari selain faktor teknis. Ada pula faktor non teknis yang harus [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://arsitekta.com/pemasangan-baut-struktur-baja-cara-yang-benar-begini/">Pemasangan Baut Struktur Baja Cara Yang Benar Begini</a> appeared first on <a href="https://arsitekta.com">Jasa Arsitektur dan Konstruksi Baja</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Struktur baja dapat berdiri kokoh karena menerapkan sambungan baut. Oleh karena itu pada saat pemasangan baut struktur baja, harus anda lakukan dengan benar. Mungkin sebagian orang berpendapat pekerjaan ini mudah. Karena tidak memahami resikonya, jika baut mur tidak terpasang dengan sempurna. Atau karena tidak menyadari selain faktor teknis. Ada pula faktor non teknis yang harus kita hadapi, ketika melaksanakan pekerjaan ini.</p>
<p><img decoding="async" class="size-medium wp-image-2596 aligncenter" src="https://arsitekta.com/wp-content/uploads/2021/01/Pemasangan-Mur-baut-struktur-baja-300x229.jpeg" alt="Pemasangan baut pada komponen struktur baja dengan benar" width="300" height="229" srcset="https://arsitekta.com/wp-content/uploads/2021/01/Pemasangan-Mur-baut-struktur-baja-300x229.jpeg 300w, https://arsitekta.com/wp-content/uploads/2021/01/Pemasangan-Mur-baut-struktur-baja.jpeg 630w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" /></p>
<p>Memasang baut struktur baja harus oleh tukang yang berpengalaman. Dan telah terbiasa bekerja pada ketinggian, mengangkat beban berat dan bekerja sesuai metode. Karena lingkup pekerjaan ini, tidaklah sekedar memasukkan baut pada material baja yang berlubang. Kemudian mengencangkan baut dengan sebuah kunci, lalu selesai. Sama sekali tidak. Melainkan harus berdasarkan langkah-langkah kerja yang matang. Misalnya mulai dari persiapan alat-alat, antisipasi agar tidak terjadi kecelakaan kerja, maupun tata cara memasang baut mur. Demikian juga memiliki solusi, yang mana bila pekerjaan mengalami kendala.</p>
<h2><strong>Jenis alat yang tepat guna memasang mur baut</strong></h2>
<p>Saat ini banyak jenis kunci yang berfungsi untuk mengencangkan baut mur. Tetapi tidak semua alat-alat tersebut dapat kita gunakan untuk pekerjaan baja. Oleh karena itu <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Kunci_(bengkel)">jenis-jenis kunci</a>, yang tepat untuk pemasangan baut struktur baja adalah: 1].Kunci pas <em>(open end spanner),</em> 2].Kunci ring <em>(box spanner),</em> 3].Kunci ring pas/kombinasi <em>(combination spanner),</em> 4].Kunci soket <em>(socket spanner),</em> 5].Kunci momen atau torsi <em>(torque wrench).</em></p>
<h3><strong>1.Macam-macam ukuran kunci memasang baut konstruksi baja</strong></h3>
<p>Bicara tentang ukuran sangat erat hubungannya dengan satuan. Seperti kita ketahui satuan ukuran kunci maupun baut, sebenarnya ada 2, yaitu metrik dan inci. Tetapi implementasinya pada pelaksanaan pemasangan baut, ukuran kunci yang umum dipergunakan adalah bersatuan metrik (milimeter). Sementara satuan ukuran baut mur adalah inci. Oleh sebab fakta inilah kami sebut sebelumnya, bahwa tukang harus yang berpengalaman.</p>
<p>Mengenai jenis kunci telah jelas, hanya 5 macam. Lalu bagaimana tentang ukuran kunci?, apakah semua ukuran dapat kita pergunakan?. Tentu tidak. Sebab ada banyak ragam ukuran kunci, yaitu mulai dari 8 sampai 80 milimeter. Padahal yang kita perlukan saat pemasangan <a href="https://arsitekta.com/baut-konstruksi-baja-yang-benar-begini/">baut konstruksi baja</a> hanya kunci berukuran 19-36 milimeter saja. Mengapa?. Alasannya adalah karena baut-baut struktur baja Indonesia, umumnya menggunakan diameter M12 sampai M24. Atau kalau dalam satuan inci, Ø1/2” hingga Ø1”.</p>
<p>Penting anda ketahui, ketentuan tentang ukuran kunci berlaku untuk semua jenis. Hanya yang berbeda adalah bentuk kunci. Kita ambil satu contoh, kunci pas dengan ukuran 19. Kunci ini berguna untuk mengencangkan baut M12. Oleh karena untuk 4 jenis kunci lainnya bila ukurannya 19, maka juga berfungsi untuk baut M12. Adapun cara penggunaan ukuran kunci-kunci tersebut adalah:</p>
<ul>
<li>Ukuran kunci 36 berguna untuk pemasangan baut M24 atau Ø1”</li>
<li>Kunci 34 untuk mengencangkan baut M22 atau Ø7/8”</li>
<li>Kunci 30 untuk baut M20 atau Ø3/4”</li>
<li>Ukuran 24 adalah untuk baut M16 atau Ø5/8”</li>
<li>Dan kunci 19 untuk baut M12 atau Ø1/2”</li>
</ul>
<h3><strong>2.Tanda-tanda kunci layak pakai untuk pemasangan baut</strong></h3>
<p>Setiap alat tentu memiliki masa pakai yang terbatas, termasuk kunci. Dalam jangka waktu tertentu lubang pengeras baut akan aus. Dan pada kondisi aus berarti kunci tidak layak pakai lagi. Oleh karena itu, bila masih kita pergunakan kunci tidak berfungsi dengan baik. Nah, guna menghindari mal fungsi pada alat. Sangat penting anda ketahui tanda-tanda kunci yang layak pakai untuk pemasangan baut. Adapun ciri-cirinya sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Gagang maupun lubang pengunci tidak berkarat, bengkok atau retak.</li>
<li>Ukuran kunci presisi. Yakni memiliki toleransi 0,05 sampai 0,1 milimeter.</li>
<li>Khusus kunci ring, kunci pas atau kunci kombinasi, kedua ujungnya masih berfungsi dengan baik.</li>
<li>Untuk kunci momen, indikator kekencangan baut masih berfungsi.</li>
</ol>
<p>Umumnya untuk pemasangan baut rangka baja dengan kunci momen. Jenis harus anda pakai adalah jenis klik. Dengan kunci momen jenis klik, bila kekerasan baut telah mencapai batas maksimal. Maka kunci momen ini akan mengeluarkan suara klik. Berbeda dengan  dua jenis kunci momen lainnya, yaitu jenis dial (digital) dan jenis jarum.</p>
<p>Penilaian tentang kunci yang baik untuk memasang baut, tidak kita nilai dari harga atau merek. Oleh sebab ketentuan standar mutu kunci telah jelas. Yaitu oleh JIS <em>(Japan Industrial Standard),</em> <a href="https://webstore.ansi.org/industry/fasteners/screw-threads">ANSI <em>(American National Standard Institute),</em></a> dan DIN <em>(Deutsches Institut für Normung),</em> dari negeri Belanda. Jadi ketika anda membeli kunci, tanyakan kepada penjaga toko. Apakah kunci tersebut telah sesuai dengan salah satu standar tersebut. Atau jika kunci yang anda beli bermerek, maka produsen akan mencantumkan keterangan standar kualitas.</p>
<h3><strong>3.Alat pelindung diri memasang baut</strong></h3>
<p>Sabuk keselamatan <em>(safty belt)</em> merupakan Alat Pelindung Diri (APD) paling utama. Oleh karena itu saat memasang baut konstruksi baja, para tukang selalu memakai APD ini. Kegunaan alat ini adalah guna melindungi mereka yang bekerja pada ketinggian. Dan seperti kita ketahui, pemasangan baut struktur selalu bersamaan dengan perakitan rangka baja <em>(erection)</em>. Yang mana dominan bekerja pada ketinggian, sehingga dengan memakai alat ini tukang tidak akan jatuh.</p>
<p>Selain sabuk keselamatan, berikut ini adalah jenis APD memasang baut ada rangka baja:</p>
<ol>
<li>Helm proyek berwarna kuning,</li>
<li>Seragam kerja lengkap dengan baju rompi,</li>
<li>Sepatu kerja berbahan kulit,</li>
<li>Kaca mata pelindung debu maupun radiasi matahari,</li>
</ol>
<p>Masih terkait dengan alat kerja pemasangan baut. Ternyata ada beberapa perlengkapan tambahan yang penting untuk menunjang pekerjaan ini. Antara lain palu kecil dan drip. Drip ini sangat mirip dengan drip penitik yang berguna membuat titik baut. Tetapi yang berbeda hanya panjangnya. Kalau drip penitik ±10 centi meter, namun drip untuk pemasangan baut ini bisa mencapai 30 centi meter. Tetapi bahan dan bentuk 2 jenis drip ini adalah sama.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="size-medium wp-image-2597 aligncenter" src="https://arsitekta.com/wp-content/uploads/2021/01/Pemasangan-baut-balok-baja-271x300.jpeg" alt="Cara memasang mur baut pada balok baja profil WF" width="271" height="300" srcset="https://arsitekta.com/wp-content/uploads/2021/01/Pemasangan-baut-balok-baja-271x300.jpeg 271w, https://arsitekta.com/wp-content/uploads/2021/01/Pemasangan-baut-balok-baja-768x852.jpeg 768w, https://arsitekta.com/wp-content/uploads/2021/01/Pemasangan-baut-balok-baja.jpeg 780w" sizes="(max-width: 271px) 100vw, 271px" /></p>
<h2><strong>Cara pemasangan baut balok baja yang benar</strong></h2>
<p>Dalam gambar ini tukang sedang melaksanakan pemasangan baut pada balok baja. Silahkan anda perhatikan, apakah ada yang salah dengan pelaksanaan pekerjaan tersebut?. Jawabnya ada. Yaitu para pekerja tidak menggunakan APD proyek. Lalu kaitannya dengan proses pemasangan baut adalah tanpa menggunakan APD lengkap, tukang tidak dapat mengencangkan baut secara maksimal. Oleh karena resiko terjatuh. Dan akhirnya baut mur tidak terpasang dengan benar dan kuat.</p>
<p>Masih terkait dengan gambar, anda lihat ada 2 tukang berada pada balok baja. Oleh karena balok baja berukuran besar, dan baut-bautnya juga berdiameter besar. Maka pemasangan baut balok seperti ini memang harus 2 orang. Dan langkah-langkah pelaksanaan yang benar, seperti berikut:</p>
<ol>
<li>Pastikan ukuran kunci maupun baut mur telah benar.</li>
<li>Masukkan drip pada lubang baut kolom baja.</li>
<li>Kemudian sorong drip tersebut, hingga masuk ke lubang baut balok.</li>
<li>Masukkan baut satu persatu dan secara perlahan. Sehingga tidak merusak ulir baut.</li>
<li>Pastikan seluruh kepala baut pada sisi yang sama.</li>
<li>Segera pasang mur pada masing-masing baut.</li>
<li>Lakukan pengencangan baut mur, dengan cara mulai dari baut yang tepi.</li>
<li>Seorang tukang menahan mur dengan kunci kombinasi.</li>
<li>Tukang yang lainnya mengencangkan kepala baut dengan kunci momen.</li>
<li>Setelah terdengar suara klik kunci momen, segera hentikan pengencangan kepala baut.</li>
<li>Lakukan langkah 8 sampai 10, untuk setiap proses pengencangan baut mur.</li>
<li>Dan mulai langkah 1 hingga 10, guna memasang baut balok lainnya.</li>
</ol>
<h2><strong>Indikasi baut mur tidak terpasang dengan baik</strong></h2>
<p>Walau pemasangan baut struktur baja telah mengikuti metode kerja. Masih saja ada kemungkinan beberapa baut mur tidak terpasang dengan benar. Seperti pada gambar berikut, silahkan anda perhatikan. Sebab itu sebelum anda melakukan perbaikan. Penting anda ketahui lebih dulu tanda-tandanya, yaitu:</p>
<h3><strong>a. Terjadi celah pada sambungan baut struktur</strong></h3>
<p>Celah antar komponen struktur baja terjadi karena baut mur kurang rapat. Jadi boleh kita sebut penyebabnya adalah faktor non teknis. Sebab kesalahannya terletak pada pelaksanaan saja. Tetapi mengakibatkan konstruksi menjadi tidak kokoh. penting kita ketahui pula, sebenarnya rongga seperti ini tidak perlu terjadi. Apabila pengencangan mur baut terlaksana secara maksimal. Jadi untuk mengatasi baut yang belum rapat, caranya seperti berikut:</p>
<ol>
<li>Lakukan pengencangan ulang pada baut yang telah terpasang, satu demi satu.</li>
<li>Pengencangan baut harus secara perlahan, serta dengan kekuatan yang merata,</li>
<li>Lalu beri tanda pada baut yang telah kencang dengan memakai spidol.</li>
</ol>
<h3><strong>b. Lubang tidak terpasang dengan baut</strong></h3>
<p>Dapat kita pastikan bila masih ada baut yang tidak terisi, adalah karena lubang baut tidak presisi. Yang mana salah satu lubang baut pada komponen bergeser. Oleh sebab itu ketika baut kita masukkan, tidak dapat menembus kedua komponen. Jadi boleh kita simpulkan kesalahan ini terjadi karena faktor teknis. Dan sebenarnya dapat kita antisipasi, bila <a href="https://arsitekta.com/membuat-lubang-baut-yang-benar-ini/">pembuatan lubang baut</a> terlaksana dengan benar.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="size-medium wp-image-2598 aligncenter" src="https://arsitekta.com/wp-content/uploads/2021/01/Baut-mur-tidak-terpasang-dengan-benar-300x225.jpeg" alt="Contoh-contoh baut tidak terpasang dengan benar dan sempurna pada struktur konstruksi baja" width="300" height="225" srcset="https://arsitekta.com/wp-content/uploads/2021/01/Baut-mur-tidak-terpasang-dengan-benar-300x225.jpeg 300w, https://arsitekta.com/wp-content/uploads/2021/01/Baut-mur-tidak-terpasang-dengan-benar.jpeg 640w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" /></p>
<h2><strong>Cara mengatasi lubang baut tidak presisi</strong></h2>
<p>Ketika salah satu baut tidak terpasang, oleh sebab lubang yang tidak presisi. Maka solusi satu-satunya, lubang baut harus anda perbaiki. Sepintas memang terkesan tidak profesional, karena posisi struktur baja telah berdiri. Tetapi mengingat <a href="https://arsitekta.com/sistem-sambungan-baja-konstruksi-paling-familiar-saat-ini/">sistem sambungan baja</a> telah menetapkan baut mur, maka anda haru pastikan alat sambungnya terpasang seluruhnya.</p>
<p>Memperbaiki lubang yang tidak presisi harus dengan pengeboran ulang. Anda tidak boleh menggunakan alat potong blender <em>(cutting torch).</em> Sebab bila dengan alat ini maka kekuatan struktur baja akan berkurang. Oleh sebab terjadinya panas nyala api dengan temperatur yang tinggi. Jadi satu-satunya alat yang boleh anda gunakan adalah bor tangan. Adapun teknis pelaksanaannya adalah dengan cara berikut:</p>
<ol>
<li>Persiapkan sebuah bor tangan. Lengkap dengan sambungan kabel listrik yang cukup.</li>
<li>Pastikan diameter mata bor telah sesuai untuk ukuran baut.</li>
<li>Pasang perancah, yaitu sebagai tempat anda melakukan pengeboran.</li>
<li>Lakukan pengeboran pada lubang yang bergeser. Dan pastikan apakah telah telah presisi.</li>
<li>Terakhir, pasanglah baut mur.</li>
</ol>
<h2><strong>[Penutup]: Agar pemasangan baut terjamin berkualitas</strong></h2>
<p>Adalah tugas pengawas proyek untuk memastikan bahwa semua baut telah terpasang rapat. Sebab menentukan apakah mur baut telah kencang atau belum, seharusnya menjadi wewenang pengawas. Memang dengan alat kunci momen tukang dengan mudah mengetahui bahwa baut telah kencang. Namun tidak berarti pengawas tidak pelu melakukan kontrol. Tetapi dengan adanya pengawasan yang ketat, maka mutu pemasangan baut lebih terjamin.</p>
<p>Selain dari segi pengawasan, agar pemasangan mur baut berkualitas. Yaitu mengantisipasi pengeboran ulang pada struktur baja yang sudah berdiri. Sehingga penanggulangan mengenai lubang yang tidak presisi, dapat terlaksana dengan baik dan profesional. Oleh sebab itu pada saat ada indikasi baut tidak bisa kita pasang, maka komponen struktur segera kita turunkan. Dengan demikian pelaksanaan pengeboran ulang dapat kita lakukan dibawah.</p>
<p>Demikian penjelasan kami mengenai pemasangan mur baut struktur baja. Semoga dengan membaca artikel ini, dapat menambah pengetahuan anda. Sehingga kedepan kejadian seperti pada gambar terlampir, tidak terulang kembali.</p>
<p>The post <a href="https://arsitekta.com/pemasangan-baut-struktur-baja-cara-yang-benar-begini/">Pemasangan Baut Struktur Baja Cara Yang Benar Begini</a> appeared first on <a href="https://arsitekta.com">Jasa Arsitektur dan Konstruksi Baja</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://arsitekta.com/pemasangan-baut-struktur-baja-cara-yang-benar-begini/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>5 Jenis Baut Pengikat Rangka Baja,Ini</title>
		<link>https://arsitekta.com/5-jenis-baut-pengikat-rangka-baja-ini/</link>
					<comments>https://arsitekta.com/5-jenis-baut-pengikat-rangka-baja-ini/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[arsitekta]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 24 Jan 2021 02:32:34 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Konstruksi Baja]]></category>
		<category><![CDATA[angkur baja]]></category>
		<category><![CDATA[baut pengikat]]></category>
		<category><![CDATA[fabrikasi baja]]></category>
		<category><![CDATA[material baja]]></category>
		<category><![CDATA[proyek baja]]></category>
		<category><![CDATA[Rangka Baja]]></category>
		<category><![CDATA[sambungan baja]]></category>
		<category><![CDATA[sambungan baut]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://arsitekta.com/?p=2584</guid>

					<description><![CDATA[<p>Baut pengikat adalah satu kelompok alat sambung berulir, yang berfungsi sebagai jangkar suatu konstruksi bangunan. Konstruksi yang sering menggunakan material ini adalah konstruksi baja maupun kayu. Ada 5 jenis baut pengikat perlu pada konstruksi-konstruksi tersebut. Supaya konstruksi dapat berdiri dengan kokoh. Dan sampai saat ini belum ada temuan material lain, sebagai pengganti baut-baut pengikat ini. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://arsitekta.com/5-jenis-baut-pengikat-rangka-baja-ini/">5 Jenis Baut Pengikat Rangka Baja,Ini</a> appeared first on <a href="https://arsitekta.com">Jasa Arsitektur dan Konstruksi Baja</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Baut pengikat adalah satu kelompok alat sambung berulir, yang berfungsi sebagai jangkar suatu konstruksi bangunan. Konstruksi yang sering menggunakan material ini adalah konstruksi baja maupun kayu. Ada 5 jenis baut pengikat perlu pada konstruksi-konstruksi tersebut. Supaya konstruksi dapat berdiri dengan kokoh. Dan sampai saat ini belum ada temuan material lain, sebagai pengganti baut-baut pengikat ini. Sehingga memang material ini sangat kita perlukan.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="size-full wp-image-2585 aligncenter" src="https://arsitekta.com/wp-content/uploads/2021/01/Baut-Pengikat_cover-1.jpg" alt="judul artikel tentang jenis-jenis baut pengikat yang kita perlukan pada konstruksi baja" width="219" height="155" /></p>
<p>Selanjutnya anda mungkin bertanya: “apa bedanya baut pengikat dengan angkur?, bukankah fungsinya sama?”. Begini penjelasannya. Secara umum boleh kita katakan fungsi baut pengikat dan angkur sama, tetapi peruntukannya tidak. Kalau angkur pada umumnya berguna untuk konstruksi yang bersifat struktural. Sementara pemakaian baut pengikat lainnya, lebih dominan untuk konstruksi non struktur. Penjelasan berikutnya dari segi pengelompokan atau kategori. Angkur adalah salah satu jenis baut pengikat, tetapi baut pengikat tersebut tidak hanya terdiri dari angkur saja. Jadi perlunya pemahaman pada konteks ini. Akan memudahkan anda memahami manfaat, dari 5 jenis baut pengikat ini.</p>
<p>Lalu, ada berapa banyak <a href="https://arsitekta.com/jenis-baut-baja-dan-kegunaan-pada-proyek/">jenis baut</a> pengikat?. Jawabnya sangat banyak. Sebab pada umumnya kegunaan material ini tidak hanya pada proyek bangunan. Tetapi juga pada industri otomotif, infrastruktur jaringan telekomunikasi, Jaringan listrik dan lain sebagainya. Mengingat banyaknya ragam manfaat material ini, maka yang kami bahas dalam tulisan hanya beberapa saja. Yaitu baut pengikat yang kita perlukan konstruksi baja non struktural.</p>
<h2><strong>Macam-macam baut pengikat konstruksi baja</strong></h2>
<p>Konstruksi baja non struktural adalah satu rangkaian komponen konstruksi, yang terbuat dari material baja serta hanya menerima beban yang ringan.  Jadi material pengikat cukup memerlukan kekuatan tarik (cabut) baut yang kecil pula. Sebaliknya pada konstruksi baja struktural, beban yang harus dipikul sangat besar. Itu sebabnya perlu menggunakan baut pengikat yang memiliki kekuatan tarik besar.</p>
<p>Angkur baja adalah salah satu baut pengikat yang memiliki kekuatan tarik besar. Sehingga material inilah yang kita perlukan sebagai jangkar konstruksi baja struktural. Jelas mengenai material yang satu ini, telah kami bahas dalam artikel tersebut. Silahkan anda pelajari. Selanjutnya selain angkur baja, masih ada 5 (lima) jenis baut pengikat yang umum kita pakai pada pekerjaan baja, antara lain: 1].Dinabolt, 2].Fisher, 3].Chemical angkur, 4].Spand skrup, dan 5].Paku rivet.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="size-medium wp-image-2586 aligncenter" src="https://arsitekta.com/wp-content/uploads/2021/01/Jenis-baut-pengikat-kerja-baja-300x240.jpeg" alt="baut pengikat kontruksi baja jenisnya seperti berikut ini" width="300" height="240" srcset="https://arsitekta.com/wp-content/uploads/2021/01/Jenis-baut-pengikat-kerja-baja-300x240.jpeg 300w, https://arsitekta.com/wp-content/uploads/2021/01/Jenis-baut-pengikat-kerja-baja-1024x819.jpeg 1024w, https://arsitekta.com/wp-content/uploads/2021/01/Jenis-baut-pengikat-kerja-baja-768x614.jpeg 768w, https://arsitekta.com/wp-content/uploads/2021/01/Jenis-baut-pengikat-kerja-baja.jpeg 1280w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" /></p>
<h3><strong>1.D</strong><strong>inabolt </strong><strong>memiliki ragam ukuran untuk mengikat baja</strong></h3>
<p>Untuk pelaksanaan pekerjaan konstruksi baja non struktural, ukuran dinabolt yang kita perlukan adalah M8, M10 dan M12. Dengan panjang sekitar 75 sampai 100 milimeter. Beberapa alasan mengapa harus dengan ukuran-ukuran tersebut, adalah berikut:</p>
<ul>
<li>Bahwa dengan ukuran diameter tersebut telah cukup kuat untuk menahan beban yang timbul pada konstruksi. Karena memiliki kekuatan tarik/cabut setara dengan baut kelas 4,4. Sehingga dalam menentukan diameter dinabolt tergantung berapa besar rangka baja. Berdasarkan pengalaman, tidak pernah ada rangka baja yang menggunakan dinabolt M6. Demikian sebaliknya untuk rangka yang relatif besar, apakah kita paksakan harus pakai dinabolt M16?. Bukankah tidak sebaiknya kita gunakan angkur baja?</li>
<li>Dinabolt tidak perlu panjang sebab pemasangan baut pengikat ini pada struktur beton. Yang mana besar kemungkinan saat pemasangan akan tabrakan dengan besi tulangan yang ada dalam beton. Sebab selimut beton umumnya hanya 2,5-3 centi meter saja. Jadi untuk menghindari kejadian tersebut kita tidak perlu memakai dinabolt melebihi 100 milimeter.</li>
</ul>
<p>Lebih lanjut tentang dinabolt, sebenarnya baut pengikat ini memiliki banyak ragam ukuran. Yakni mulai dari M6 sampai dengan M22, serta dengan panjang 50-200 milimeter. Demikian juga tentang warna, material ini tersedia dengan warna kuning maupun putih (chrome). Yang mana seluruh ukuran serta warna dinabolt, sangat mudah kita dapatkan di toko-toko bahan bangunan maupun alat-alat listrik. Jadi tidak hanya ada di toko mur baut. Karena ternyata peruntukan material ini tidak hanya pada pekerjaan baja.</p>
<h3><strong>2.F</strong><strong>isher mirip dengan baut pengikat jenis dinabolt</strong></h3>
<p>Sama halnya dengan dinabolt, implementasi fisher tidak hanya pada lingkup pekerjaan baja. Tetapi juga berguna untuk konstruksi kayu, pekerjaan alumunium, pemasangan kosen pintu atau jendela PVC. Juga pada pekerjaan instalasi listrik, pemasangan pipa dan sebagainya. Jadi peran material ini dalam proyek pembangunan cukup besar. Sebab hampir seluruh sub pekerjaan bangunan memerlukan baut pengikat.</p>
<p>Ukuran fisher yang banyak kita temui saat pelaksanaan konstruksi baja, adalah M8,M10 dan M12. Relatif sama atau lebih kecil dari ukuran dinabolt. Sebab baut pengikat ini perlunya untuk konstruksi yang ringan/kecil. Alasan lainnya karena ketika pemasangan, fisher tertanam pada tembok atau dinding. Misalnya pada dinding dengan pasangan batu bata atau bata ringan. Jadi bukan pada bidang cor/beton.</p>
<p>Berikutnya tentang metode pemasangan fisher maupun dinabolt, secara teknis sama pula. Hanya yang membedakan adalah jenis elemen alat yang kita perlukan. Yaitu pada komponen mata bor guna membuat lubang baut pengikat ini. Yang mana mata bor untuk melubangi struktur beton, tentu jenisnya berbeda dengan mata bor untuk dinding batu bata. Jadi pada prinsipnya mesin bor yang kita pakai adalah sama, yaitu jenis bor tangan.</p>
<h3><strong>3.</strong><strong>Chemical angkur berteknologi terbarukan</strong></h3>
<p>Chemical angkur adalah satu baut pengikat yang memiliki ulir penuh pada sepanjang batang bahan. Yang berfungsi sebagai jangkar/pengikat antara komponen rangka baja dengan struktur beton. Secara harafiah <a href="https://lektur.id/arti-chemical/">chemical</a> berarti kimia, yang mana bila kita kaitkan dengan implementasi pemasangan angkur. Chemical angkur artinya angkur baut yang terpasang dengan memakai campuran bahan kimia sebagai perekat pada cor beton. Jadi tanpa adanya proses kimiawi terhadap angkur dan beton, maka material ini tidak berfungsi sama sekali.</p>
<p>Hubungannya dengan pelaksanaan kerja baja. Hampir seluruh ukuran chemical angkur yang tersedia dapat kita gunakan. Sebab material ini memiliki kekuatan tarik sama dengan baut hitam, yakni setara dengan 55.00 psi. Selain itu, macam-macam diameter yang tersedia mulai dari M8,M10,M12,M16,M20,M24 dan seterusnya. Serta dengan panjang batang bervariasi, yaitu antara 150-300 milimeter. Namun demikian pada situasi tertentu guna memperoleh ukuran khusus, dapat anda lakukan melalui pesanan khusus pada pabrik.</p>
<p>Lanjut mengenai tekhis pemasangan chemical angkur. Penting anda ketahui material ini sebaiknya anda pasang pada beton yang bermutu K250 atau lebih. Hal ini bertujuan agar daya rekat chemical dengan struktur beton benar-benar kuat. Sebab bila mutu cor rendah maka proses kimiawi angkur dan cor beton tidak sempurna. Jadi kuat tidaknya baut pengikat ini tergantung pelaksanaan anda bagaimana. Lebih lengkapnya tentang teknis <a href="https://www.jasahilti.com/2019/01/jasa-dan-cara-pemasangan-hilti-hilti.html#:~:text=Pemasangan%20chemical%20anchor%20(angkur)%20dilakukan,yang%20sudah%20dibor%20tadi%20dibersihkan">pemasangan chemical angkur,</a> silahkan pelajari tutorial yang telah tersedia oleh produsen.</p>
<h3><strong>4.Span skrup dan eksistensinya pada komponen rangka atap</strong></h3>
<p>Span skrup adalah baut pengikat antara 2 (dua) bagian komponen ikatan angin. Yang berfungsi sekaligus sebagai pengeras agar struktur kuda-kuda baja kokoh dan kaku. Itu sebabnya material ini pada daerah tertentu bernama jarum keras. Penting anda ketahui, tanpa adanya span skrup ikatan tidak bekerja dengan sempurna. Selanjutnya, tanpa ikatan angin rangka atap baja menjadi mudah roboh oleh hembusan angin. Itu sebabnya komponen ini terkenal dengan nama ikatan angin<em> (wind brace).</em></p>
<p>Kembali tentang span skrup, ukuran yang kita perlukan sebagai pengikat/pengeras ikatan angin adalah M10,M12,M16 dan M19. Selain ukuran-ukuran tersebut sebenarnya masih ada M6,M8,M22 dan M25. Namun penggunaan 4 macam ukuran ini sangat jarang. Sebab implementasi span skrup menyesuaikan ukuran material ikatan angin. Maksudnya, ketika anda pergunakan besi beton Ø12 sebagai ikatan angin, maka ukuran span skrup yang anda perlukan adalah M12. Demikian selanjutnya. Jadi beginilah ketentuan penggunaan baut pengikat ini dalam pelaksanaan pekerjaan baja.</p>
<p>Masih terkait span skrup, silahkan perhatikan bentuknya pada gambar sebelumnya. Adapun bahan pembuatan baut pengikat ini adalah dari besi, yang memiliki kekuatan tarik setara dengan baut warna. Jadi bila pada gambar tersebut anda lihat span skrup berwarna putih<em> (chrome), </em>itu hanya lapisan luar. Karena proses pelapisan warna itu sama dengan pada material baut.</p>
<h3><strong>5.Paku rivet alat sambung tidak tetap yang bersifat statis.</strong></h3>
<p>Pertama penting kami luruskan. Paku rivet yang kami maksud tidak sama dengan paku keling. Silahkan perhatikan kembali gambar terlampir. Material paku rivet memiliki kepala bulat pada salah satu ujung batang. Adapun ukuran batang material pengikat ini relatif kecil. Yaitu antara Ø3-6 milimeter serta dengan panjang 3 sampai 5 centimeter. Tambah lagi, pada bagaian luar batang paku berselimut pelat logam tipis. Yang mana berfungsi sebagai penjepit material baja. Jadi bila ekspektasi anda menganggap paku rivet sama dengan paku keling, anda telah salah besar.</p>
<p>Perlu anda ketahui, baik paku rivet maupun paku keling merupakan sambung tidak tetap. Namun hasil ikatan yang anda peroleh dari material ini bersifat statis. Artinya sambungan menjadi permanen, sehingga tidak mudah anda lepaskan. Juga pada saat membuka sambungan, besar kemungkinan akan merusak komponen rangka. Jadi boleh kita sebutkan paku rivet merupakan alat sambung tidak tetap bersifat statis.</p>
<p>Terkait tentang perlunya paku rivet pada pelaksanaan kerja baja. Sebenarnya bersifat temporer saja. Penyebabnya adalah, selain karena peruntukan material ini hanya pada konstruksi non struktural. Juga karena penggunaannya berkaitan dengan pekerjaan arsitektur (finishing bangunan), misalnya:</p>
<ol>
<li>Saat pemasangan talang galvalum dengan rangka besi siku,</li>
<li>Pengikat klem pralon yang terbuat dari besi pelat strip,</li>
<li>Ketika memasang Alumunium Composite Panel (ACP),</li>
<li>Pembuatan rangka neon box, dan sebagainya.</li>
</ol>
<p>Sebagai tambahan, berikut beberapa kelemahan paku rivet antara lain: 1]. Hanya mampu mengikat dua objek yang memiliki tebal kurang dari 10 milimeter, 2]. Kekuatan tarik baut sangat kecil, 3].Pemasangan memerlukan proses pengeboran terlebih dahulu, 4].Mutu ikatan hasilnya berbeda-beda pada setiap bahan.</p>
<h2><strong>Jenis alat untuk memasang baut pengikat</strong></h2>
<p>Secara keseluruhan ada 6 (enam) macam baut pengikat, yang diperlukan pada pekerjaan konstruksi baja. Baik yang sifatnya konstruksi baja struktural, maupun non struktural. Antara lain Angkur baja, Dinabolt, Fisher, Angkur chemical, Span skrup dan Paku rivet. Perlunya seluruh material ini pada proyek baja, tergantung jenis material konstruksi yang anda pakai. Ada kemungkinan pada satu proyek anda memerlukan 5 jenis baut pengikat. Namun pada kondisi tertentu mungkin hanya satu macam saja.</p>
<p>Secara umum pula, seluruh baut-baut pengikat membutuhkan peralatan kerja yang sama. Hanya yang berbeda adalah elemen serta ukuran alat. Misal diameter mata bor, untuk membuat lubang dinabolt tentu beda ukurannya dengan membuat lubang paku rivet. Namun pada prinsipnya kita dapat menggunakan alat yang sama. Berikut ini jenis alat yang anda perlukan tersebut:</p>
<ul>
<li>Bor tangan</li>
<li>Kunci pengeras mur</li>
<li>Stang rivet</li>
<li>Water pass atau selang air</li>
<li>Palu kecil</li>
<li>Sikon dan alat ukur meter</li>
</ul>
<h2><strong>Rangkuman: Macam-macam baut sambung dan pengikat konstruksi baja</strong></h2>
<p>Bagian akhir ini adalah rangkuman jenis-jenis alat sambung dan pengikat konstruksi baja. Yaitu sebagai kelanjutan dari beberapa topik yang telah kami bahas pada artikel sebelumnya. Silahkan baca:</p>
<ul>
<li><a href="https://arsitekta.com/baut-konstruksi-baja-yang-benar-begini/">Baut konstruksi baja yang benar begini</a></li>
<li><a href="https://arsitekta.com/baut-warna-pada-proyek-kegunaannya-ini/">Baut warna pada proyek kegunaannya ini</a></li>
</ul>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="size-medium wp-image-2587 aligncenter" src="https://arsitekta.com/wp-content/uploads/2021/01/Kategori-baut-sambung-dan-pengikat-300x169.jpeg" alt="Kategori baut sambung dan baut pengikat beserta jenis masing-masing baut" width="300" height="169" srcset="https://arsitekta.com/wp-content/uploads/2021/01/Kategori-baut-sambung-dan-pengikat-300x169.jpeg 300w, https://arsitekta.com/wp-content/uploads/2021/01/Kategori-baut-sambung-dan-pengikat-1024x576.jpeg 1024w, https://arsitekta.com/wp-content/uploads/2021/01/Kategori-baut-sambung-dan-pengikat-768x432.jpeg 768w, https://arsitekta.com/wp-content/uploads/2021/01/Kategori-baut-sambung-dan-pengikat.jpeg 1280w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" /></p>
<p>Pada gambar tertera klasifikasi baut sambung dan pengikat. Yakni terdiri dari 3 kategori, yaitu berdasarkan standar mutu, bentuk dan warna. Serta pada masing-masing kategori lengkap dengan spesifikasi jenis baut. Semoga melalui penjelasan ini pengetahuan anda mengenai, 5 jenis baut pengikat untuk pelaksanaan kerja baja semakin luas. Sekaligus dapat meluruskan beberapa persepsi yang salah tentang material-material ini.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>The post <a href="https://arsitekta.com/5-jenis-baut-pengikat-rangka-baja-ini/">5 Jenis Baut Pengikat Rangka Baja,Ini</a> appeared first on <a href="https://arsitekta.com">Jasa Arsitektur dan Konstruksi Baja</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://arsitekta.com/5-jenis-baut-pengikat-rangka-baja-ini/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Implementasi Sambungan Baut Pada Konstruksi Baja</title>
		<link>https://arsitekta.com/implementasi-sambungan-baut-pada-konstruksi-baja/</link>
					<comments>https://arsitekta.com/implementasi-sambungan-baut-pada-konstruksi-baja/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[arsitekta]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 20 Jan 2021 06:24:04 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Konstruksi Baja]]></category>
		<category><![CDATA[Arsitek]]></category>
		<category><![CDATA[baja profil]]></category>
		<category><![CDATA[baut baja]]></category>
		<category><![CDATA[baut mur]]></category>
		<category><![CDATA[proyek baja]]></category>
		<category><![CDATA[Rangka Baja]]></category>
		<category><![CDATA[sambungan baja]]></category>
		<category><![CDATA[sambungan baut]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://arsitekta.com/?p=2578</guid>

					<description><![CDATA[<p>Telah kami bahas dalam beberapa topik terkait material baut mur, yaitu pada artikel-artikel sebelumnya. Maka saat ini kami angkat satu topik lagi, yakni tentang implementasi sambungan baut konstruksi baja. Adalah merupakan pendalaman mengenai bahan, serta teknis penggunaan material pada komponen rangka baja. Singkatnya, topik ini khusus kami angkat dengan tujuan sebagai acuan kerja konstruksi baja. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://arsitekta.com/implementasi-sambungan-baut-pada-konstruksi-baja/">Implementasi Sambungan Baut Pada Konstruksi Baja</a> appeared first on <a href="https://arsitekta.com">Jasa Arsitektur dan Konstruksi Baja</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Telah kami bahas dalam beberapa topik terkait material baut mur, yaitu pada artikel-artikel sebelumnya. Maka saat ini kami angkat satu topik lagi, yakni tentang implementasi sambungan baut konstruksi baja. Adalah merupakan pendalaman mengenai bahan, serta teknis penggunaan material pada komponen rangka baja. Singkatnya, topik ini khusus kami angkat dengan tujuan sebagai acuan kerja konstruksi baja.</p>
<h2><strong>Tujuan memahami implementasi sambungan baja</strong></h2>
<p>Bukan maksud kami untuk mengesampingkan metode penentuan jenis, maupun ukuran baut melalui perhitungan struktur. Sebab bagaimanapun perhitungan struktur bahan harus kita lakukan terlebih dahulu. Yaitu guna menghindari adanya kesalahan saat perencanaan bahan. Jadi berdasarkan pemikiran tersebut, ukuran-ukuran baut tercantum dalam artikel ini, sebenarnya telah melalui proses perhitungan tersebut. Jadi walaupun data perhitungan kekuatan baut tidak terlampir, tetapi sistem sambungan seperti ini telah kami implementasikan pada proyek.</p>
<p>Memahami sambungan baja bertujuan guna memudahkan anda, untuk menentukan jenis dan ukuran baut mur. Sebab adakalanya proyek yang kita kerjakan tidak melibatkan konsultan, jadi harus melakukan perencanaan sendiri. Sehingga dengan adanya penjelasan seperti ini, anda dapat memperkirakan ukuran baut yang akan anda pakai. Selanjutnya guna meyakinkan anda bahwa dimensi material tersebut telah kuat, silahkan cross cek dengan perhitungan kekuatan bahan.</p>
<h2><strong>Elemen sambungan baut konstruksi baja</strong></h2>
<p>Penting kami ingatkan kembali, jenis baut mur yang kita pakai untuk pekerjaan struktur baja adalah baja mutu tinggi atau HTB/ASTM A325. Dan baut hitam atau karbon rendah, yang terkenal dengan sebutan ASTM A36. Adapun beberapa jenis baut lain, misalnya baut warna kuning, putih atau crome (galvanis). Secara khusus akan kami bahas pada artikel selanjutnya. Sebab implementasi jenis-jenis baut tersebut berbeda dengan baut baja maupun baut hitam. Jadi jangan bosan-bosan mengunjungi dan membaca artikel-artikel kami.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="size-medium wp-image-2267 aligncenter" src="https://arsitekta.com/wp-content/uploads/2020/08/Gambar-konstruksi-gudang-300x171.jpg" alt="Implementasi sambungan baut pada kontruksi gudang dengan bahan baja" width="300" height="171" srcset="https://arsitekta.com/wp-content/uploads/2020/08/Gambar-konstruksi-gudang-300x171.jpg 300w, https://arsitekta.com/wp-content/uploads/2020/08/Gambar-konstruksi-gudang.jpg 625w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" /></p>
<p>Sebagai tahap awal, penting anda pahami <a href="https://arsitekta.com/komponen-struktur-rangka-baja-profil/">komponen struktur baja</a>. Sebab agar anda dapat mengerti apa saja elemen sambungan baut, anda harus mengetahui komponen-komponen tersebut terlebih dahulu. Silahkan anda pelajari melalui tautan itu. Adapun pelaksanaan sebuah sambungan baut struktur baja, terdiri dari beberapa elemen antara lain:</p>
<h3><strong>1.Komponen rangka baja</strong></h3>
<p>Adalah terdiri dari 2 atau lebih batang material baja, yang bertemu pada 1 titik. Yang mana pada bagian-bagian tertentu material tersebut, telah tersedia lobang untuk baut sambung. Sehingga dengan menyatukan komponen/rangka baja tersebut, terbentuklah satu rangkaian konstruksi bangunan.</p>
<h3><strong>2. Baut baja atau baut hitam</strong></h3>
<p>Baut adalah elemen pengikat berulir, yang terbuat dari baja mutu tinggi maupun dari karbon rendah. Yang pada salah satu ujung/sisinya berupa kepala berbentuk segi enam (heksagonal). Adapun fungsi kepala baut, adalah sebagai penjepit rangka baja, sekaligus media untuk melakukan pengencangan sambungan.</p>
<h3><strong>3.Mur</strong></h3>
<p>Mur adalah elemen penyatu sambungan, yang dengan bentuk menyerupai kepala baut. Tetapi memiliki lobang berulir pada bagian tengahnya. Elemen ini terhubung langsung dengan ulir pada baut, sekaligus sebagai pengikat pada sisi lain rangka baja. Mur menjadi satu kesatuan dengan baut, sebab tanpa elemen ini baut tidak dapat berfungsi. Demikian juga penggunaan mur harus dengan yang sejenis dengan baut. Misalnya sama-sama berbahan baja mutu tinggi, ataupun dari bahan karbon rendah.</p>
<h3><strong>4.Ring Baut</strong></h3>
<p>Adalah elemen tambahan pada baut mur yang terbut dari baja. Material ini berbentuk bulat dan relatif tipis, yang mana pada bagian tengahnya memiliki lobang, yang berukuran lebih besar 2-3 milimeter dari diameter baut. Adapun fungsi ring baut pada sambungan adalah sebagai pengaku, ketika anda lakukan pengencangan pada baut mur. Jadi dengan adanya elemen ini, komponen/rangka baja yang terhubung semakin rapat dan kuat.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="size-medium wp-image-2572 aligncenter" src="https://arsitekta.com/wp-content/uploads/2021/01/Baut-baja-dan-Baut-hitam-300x225.jpeg" alt="Gambar baut baja dan baut hitam yang umum digunakan untuk sambungan pada komponen rangka konstruksi baja" width="300" height="225" srcset="https://arsitekta.com/wp-content/uploads/2021/01/Baut-baja-dan-Baut-hitam-300x225.jpeg 300w, https://arsitekta.com/wp-content/uploads/2021/01/Baut-baja-dan-Baut-hitam-768x576.jpeg 768w, https://arsitekta.com/wp-content/uploads/2021/01/Baut-baja-dan-Baut-hitam.jpeg 1024w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" /></p>
<h2><strong>Cara menentukan ukuran baut mur sebagai alat sambung</strong></h2>
<p>Menerapkan sambungan baut mur pada komponen rangka baja, berkaitan erat dengan jenis atau ukuran material baja. Dengan kata lain, penting anda ketahui lebih dahulu tebal pelat baja (sebagai pelat sambung atau clead plate). Demikian juga profil baja yang anda pakai sebagai komponen rangka. Sebagai contoh, mengetahui ukuran tebal pelat lekat pada konsol, yang akan terhubung/tersambung dengan tiang kolom melalui baut.</p>
<p>Jadi, guna dapat menentukan ukuran baut mur, anda perlu mengetahui seluruh dimensi material baja pada satu konstruksi. Sebab semua komponen rangka baja saling berkaitan satu sama lain. Dengan kata lain, seharusnya proses perencanaan konstruksi baja harus anda lakukan secara menyeluruh. Tidak terkecuali ketika anda hendak menentukan jenis dan diameter baut mur, haruslah anda lakukan bersamaan dengan <a href="https://arsitekta.com/cara-merencanakan-dimensi-material-baja-untuk-gudang/">perencanaan dimensi material baja.</a></p>
<p>Cara mudah menentukan ukuran baut untuk sambungan konstruksi baja, silahkan anda simak berikut ini. Adalah contoh implementasi sambungan baut, yang telah kami terapkan pada proyek baja.</p>
<h3><strong>Sambungan baut konsol</strong></h3>
<p>Konsol baja umumnya menggunakan profil WF dan rangka batang besi siku. Pada kasus tertentu, adakalanya perencana menetapkan bahan profil lain, misalnya UNP atau besi pipa. Namun bila konsol menggunakan WF, maka ukuran baut yang anda pakai seperti ketentuan berikut:</p>
<ol>
<li>Konsol dengan bahan WF 150x75x5x7mm, pakailah baut hitam (ASTM36) berukuran Ø1/2”</li>
<li>Jika material konsol adalah WF 200x100x5,5x8mm, atau IWF 250x125x6x9mm. Maka gunakanlah baut baja (HTB/ASTM A325) Ø5/8”</li>
</ol>
<h3><strong>Baut mur untuk pengikat regel</strong></h3>
<p>Masih dari pengalaman, apabila material regel anda pakai juga profil WF, maka dimensi mur bautnya sama dengan konsol. Sehingga implementasi sambungan dapat anda lakukan dengan menggunakan ukuran baut sama. Tetapi adakalanya bahan yang anda pakai lain, misalnya profil CNP dobel. Oleh sebab alasan untuk efisiensi biaya. Sebaiknya ukuran baut mur regel, anda ikuti ketentuan berikut ini:</p>
<ol>
<li>Jika material regel menggunakan 2CNP 100x50x20x2,3mm dan 2CNP 125x50x20x2,3mm. Maka pengikatnya pakai baut hitam berukuran Ø1/2”.</li>
<li>Pada regel dengan bahan 2CNP 150x50x20x2,3mm serta 2CNP 200x75x20x2,8mm anda gunakan baut baja Ø5/8”</li>
</ol>
<h3><strong>Ukuran baut untuk sambungan Kuda-kuda WF</strong></h3>
<p>Demikian halnya implementasi ukuran baut pengikat kuda-kuda, sama dengan ketentuan ukuran baut konsol atau regel. Adapun ketentuan tersebut berlaku apabila bahan yang anda gunakan benar-benar sama, yakni profil WF. Kasusnya ketika dimensi material kuda-kuda lebih besar daripada konsol atau regel, maka diameter baut anda tentukan dengan cara berikut:</p>
<ol>
<li>Untuk kuda-kuda dengan material profil WF 300x150x6,2&#215;9 dan WF 350x175x7x11mm, anda pakai baut baja Ø3/4”</li>
<li>Sementara jika kuda-kuda tersebut memakai WF 400x200x8x13 pakailah baut baja Ø7/8”</li>
</ol>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="size-medium wp-image-1807 aligncenter" src="https://arsitekta.com/wp-content/uploads/2020/07/Gambar-komponen-plat-lekat-300x190.jpg" alt="ukuran serta jumlah baut pada pelat lekat baja profil WF" width="300" height="190" srcset="https://arsitekta.com/wp-content/uploads/2020/07/Gambar-komponen-plat-lekat-300x190.jpg 300w, https://arsitekta.com/wp-content/uploads/2020/07/Gambar-komponen-plat-lekat.jpg 734w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" /></p>
<p>Adapun daftar implementasi sambungan beserta ukuran-ukuran baut baut tersebut dapat anda lihat pada gambar. Dalam gambar ini juga tertera berapa jumlah baut yang anda butuhkan untuk satu sambungan. Demikian juga mengenai keterangan tebal pelat baja, sehingga memudahkan anda menghitung panjang baut.</p>
<p>Sebagai tambahan mengenai cara menentukan panjang baut, silahkan anda baca artikel mengenai <a href="https://arsitekta.com/baut-konstruksi-baja-yang-benar-begini/">kebutuhan baut konstruksi yang benar.</a> Dan perlu anda ketahui teknis perhitungan ini dapat anda implementasikan pada semua sambungan baut.</p>
<h2><strong>Cara menentukan baut mur kuda-kuda baja kastela</strong></h2>
<p>Akhir-akhir ini implementasi kuda-kuda dengan profil baja kastela banyak kita temui. Bahkan pada beberapa proyek milik asing yang kami kerjakan memakai material ini. Dari pengalaman ini berarti penggunaan profil ini juga familiar pada negara mereka. Serta kami yakin kedepan kebutuhan terhadap material ini akan semakin meningkat. Sehinga sedini mungkin penting anda tingkatkan pemahaman tentang bahan ini. Misalnya cara membuat baja kastela maupun mengenai sistem sambungan baut pada konstruksi.</p>
<p>Pada dasarnya ketentuan baut untuk kuda-kuda baja kastela sama dengan kuda-kuda WF. Baik mengenai ukuran diameter maupun panjang baut. Adapun perbedaannya adalah mengenai jumlah baut yang kita gunakan. Hal ini terjadi karena adanya penambahan tinggi profil (h) pada baja kastela, yaitu 1,5x lebih tinggi dari bahan dasarnya (WF). Contohnya, bila bahan awal yang kita gunakan adalah profil WF 250x125x6x9, maka ketika telah berbentuk baja kastela tingginya (Dc) menjadi 375 mm. Yang mana penulisannya menjadi WF 250 HCO 375x125x6x9.</p>
<p>Dari contoh tersebut, kita jadikan juga contoh kasus dalam menentukan jumlah baut baja kastela. Sebelumnya pada sambungan baut konsol telah kita ketahui, imlpementasi sambungan dengan baut baja Ø5/8”. Demikian pula berdasarkan gambar komponen pelat lekat jumlah baut adalah 10 buah. Maka tambahan baut untuk kuda-kuda baja kastela WF 250 HCO 375x125x6x9 adalah:</p>
<p style="text-align: center;">(10&#215;1,5)/4 = 3,75 atau kita genapkan menjadi 4 buah.</p>
<p style="text-align: center;">Sehingga total baut baja Ø5/8” yang kita implementasikan pada satu sambungan kuda-kuda tersebut adalah:</p>
<p style="text-align: center;">10+4=14 buah.</p>
<p>Contoh kedua, apabila kuda-kuda baja kastela menggunakan profil WF 400 HCO 600x200x8x13. Adapun dimensi baut yang kita peroleh dari gambar komponen pelat lekat adalah Ø7/8” HTB, yang berjumlah 16 buah. Sehingga untuk mengetahui jumlah baut keseluruhan adalah:</p>
<p style="text-align: center;">(16&#215;1,5)/4 = 6 buah.</p>
<p style="text-align: center;">Sehingga total baut baja Ø7/8” yang kita butuhkan pada kuda-kuda ini adalah 16+6=24 buah.</p>
<p>&nbsp;</p>
<h2><strong>Menerapkan sambungan baut pada gording</strong></h2>
<p>Secara umum material gording menggunakan profil CNP. Serta dengan menerapkan sistem sambungan baut mur. Hal ini bertujuan guna memudahkan para tukang saat melaksanakan pemasangan. Adapun cara menentukan ukuran baut pada gording, seerti berikut:</p>
<ol>
<li>Gording dengan profil CNP 100, CNP 125 dan CNP 150 anda gunakan baut hitam berukuran Ø1/2”.</li>
<li>Sementara untuk CNP 200 pakailah baut hitam Ø5/8”.</li>
</ol>
<p><u>Catatan:</u></p>
<p><em>Dimensi CNP sengaja tidak kami tulis lengkap namun hanya ukuran tinggi badan CNP, sebab pemasangan baut mur berada pada badan profil ini. Sekaligus guna memberi anda ruang <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Improvisasi">improvisasi</a> dalam menentukan lebar maupun tebal CNP. </em></p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="size-medium wp-image-1808 aligncenter" src="https://arsitekta.com/wp-content/uploads/2020/07/Gambar-komponen-dudukan-gording-300x218.jpg" alt="Komponen sepatu/dudukan gording lengka dengan ukuran dan jumlah baut sambungan" width="300" height="218" srcset="https://arsitekta.com/wp-content/uploads/2020/07/Gambar-komponen-dudukan-gording-300x218.jpg 300w, https://arsitekta.com/wp-content/uploads/2020/07/Gambar-komponen-dudukan-gording.jpg 633w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" /></p>
<p>Pada gambar ini terlihat dengan jelas jumlah serta jenis baut mur yang anda gunakan. Misalnya menerapkan sambungan mur baut gording CNP 125 tertulis 4Ø1/2” Hitam. Penulisan ini berarti jumlah baut pada satu titik sambung adalah 4 buah dan spesifikasinya adalah baut hitam. Sementara panjang baut gording umumnya kami terapkan adalah 1,2” atau 38 milimeter.</p>
<h2><strong>Penutup</strong></h2>
<p>Semoga dengan penjelasan ini, saudara telah dapat memahami kebutuhan tentang sistem sambungan baut baja. Asalkan dengan sungguh-sungguh, mempelajari beserta dengan artikel yang tertaut dalam artikel ini. Maka kami yakin anda dengan mudah mengimplementasikan pengetahuan ini pada proyek-proyek baja anda.</p>
<p>Kami menyadari masih ada komponen rangka baja yang belum kami jabarkan dalam artikel ini. Antara lain mengenai jarum gording (trecstang) serta ikatan angin. Yang mana memiliki peran penting juga pada rangka atap baja. Mengingat begitu pentingnya kegunaan 2 komponen ini, maka dalam pelaksanaan ukuran baut harus benar.</p>
<p>The post <a href="https://arsitekta.com/implementasi-sambungan-baut-pada-konstruksi-baja/">Implementasi Sambungan Baut Pada Konstruksi Baja</a> appeared first on <a href="https://arsitekta.com">Jasa Arsitektur dan Konstruksi Baja</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://arsitekta.com/implementasi-sambungan-baut-pada-konstruksi-baja/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Cara Menghitung Kebutuhan Kawat Las Konstruksi Gudang</title>
		<link>https://arsitekta.com/cara-menghitung-kebutuhan-kawat-las-konstruksi-gudang/</link>
					<comments>https://arsitekta.com/cara-menghitung-kebutuhan-kawat-las-konstruksi-gudang/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[arsitekta]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 20 Sep 2020 00:09:48 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Konstruksi Baja]]></category>
		<category><![CDATA[Tutorial]]></category>
		<category><![CDATA[kebutuhan kawat las]]></category>
		<category><![CDATA[pengelasan baja]]></category>
		<category><![CDATA[proyek konstruksi]]></category>
		<category><![CDATA[Rangka Baja]]></category>
		<category><![CDATA[rap baja]]></category>
		<category><![CDATA[rap proyek]]></category>
		<category><![CDATA[sambungan baja]]></category>
		<category><![CDATA[tonase baja]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://arsitekta.com/cara-menghitung-kebutuhan-kawat-las-konstruksi-gudang/</guid>

					<description><![CDATA[<p>Banyak bangunan gudang yang terbuat dari material baja ada di lingkungan kita, yaitu dari yang berukuran terkecil sampai yang terbesar. Setiap konstruksi gudang tersebut jelas melalui tahap pengelasan dengan jumlah kebutuhan kawat las tertentu. Jadi kita tak dapat pungkiri peran material bantu ini pada sebuah konstruksi sangat menentukan dan belum dapat tergantikan. Sebab peran kawat [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://arsitekta.com/cara-menghitung-kebutuhan-kawat-las-konstruksi-gudang/">Cara Menghitung Kebutuhan Kawat Las Konstruksi Gudang</a> appeared first on <a href="https://arsitekta.com">Jasa Arsitektur dan Konstruksi Baja</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="has-drop-cap has-text-align-justify has-normal-font-size">Banyak bangunan gudang yang terbuat dari material baja ada di lingkungan kita, yaitu dari yang berukuran terkecil sampai yang terbesar. Setiap konstruksi gudang tersebut jelas melalui tahap pengelasan dengan jumlah kebutuhan kawat las tertentu. Jadi kita tak dapat pungkiri peran material bantu ini pada sebuah konstruksi sangat menentukan dan belum dapat tergantikan.</p>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Sebab peran kawat las (elektroda) menentukan kualitas serta usia pakai sebuah konstruksi. Hal ini dapat kita buktikan sampai saat ini kita belum pernah terdengar ada bangunan roboh karena terdapat cacat las, dan kita harapkan takkan pernah terjadi selamanya.</p>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Kami sebut pula peran kawat las belum tergantikan dalam proyek konstruksi baja, sebab sejak ratusan tahun lalu metode penyambungan baja menerapkan 2 pilihan, yaitu sambungan las atau baut. Adapun dalam sistem pengelasan baja yang terus mengalami inovasi adalah pada mesin/peralatan, namun kawat las yang kita butuhkan tetap sama sampai hari ini, yaitu jenis kawat las berselaput maupun polos (tanpa selaput).</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Tujuan menghitung kawat las</strong></h2>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Nah begitu pentingnya peran kawat las pada pembuatan sebuah konstruksi baja, disini kita akan menghitung secara detail berapa tonase kawat, yang kita butuhkan dalam pembuatan sebuah konstruksi gudang.</p>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Persepsi sebagian tema-teman mungkin tidak anggap ini terlalu penting, karena persentase kebutuhan kawat las pada sebuah gudang tidak besar. Tetapi <em>mindset</em> kami tidak membedakan besar atau kecil kebutuhannya, tetapi semua harus terbukti melalui perhitungan. Termasuk perhitungan yang akan kita lakukan ini, adalah bertujuan untuk:</p>



<ol type="1"><li>Memahami metode perhitungan yang tepat, cepat serta akurat</li><li>Mengetahui jumlah nyata kawat las untuk sebuah konstruksi gudang</li><li>Memperoleh persentase kawat las berdasarkan tonase baja konstruksi gudang </li><li>Data bahan untuk <a href="https://arsitekta.com/cara-membuat-rap-proyek-baja-pada-tahun-ini/">Membuat RAP (Rencana Anggaran Pelaksanaan) Proyek Baja</a></li><li>Melakukan kendali atas biaya yang harus kita alokasikan untuk pembelian kawat las.</li></ol>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Jenis Kawat las yang akan dihitung</strong></h2>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Nah dari 5 tujuan perhitungan tersebut, nomor 1 dan 2 bagi teman-teman yang telah terbiasa melakukan perhitungan dengan asumsi, mungkin mudah mengetahui kisaran jumlah kawat las yang kita butuhkan. Namun bagaimana bila tujuannya adalah untuk &nbsp;nomor 3 s/d 5?, bukankah harus kita lakukan dengan perhitungan yang matang?.</p>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Adapun tahap awal harus kita pastikan sebelum menghitung kebutuhan kawat las adalah jenis mesin. Seperti telah dijelaskan kepada kita melalui artikel tentang <a href="https://arsitekta.com/metode-pengelasan-baja-konstruksi-yang-harus-di-ketahui/">Metode Pengelasan Baja Konstruksi</a>, salah satu jenis alat sambung paling populer saat ini adalah mengelas dengan <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Las_listrik">las busur listrik (<em>Shielded Metal Arc Welding/SMAW).</em></a></p>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="518" height="497" src="https://arsitekta.com/wp-content/uploads/2020/09/Gambar-1_Kelengkapan-alat-las-busur-listrik.jpg" alt="Memahami jenis alat penting sebelum menghitung kebutuhan kawat las" class="wp-image-2438" srcset="https://arsitekta.com/wp-content/uploads/2020/09/Gambar-1_Kelengkapan-alat-las-busur-listrik.jpg 518w, https://arsitekta.com/wp-content/uploads/2020/09/Gambar-1_Kelengkapan-alat-las-busur-listrik-300x288.jpg 300w" sizes="(max-width: 518px) 100vw, 518px" /><figcaption>Gambar 1: Alat las busur listrik (SMAW)</figcaption></figure></div>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Dengan demikian jika jenis alat las yang kita pergunakan ternyata SMAW, selanjutnya dapat diketahui bahwa spesifikasi kawat las yang kita pakai adalah jenis elektroda berselaput. Serta untuk mengelas baja karbon rendah tentu menggunakan jenis/kode elektroda E 6013. <em>Silahkan perhatikan gambar 1.</em></p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Contoh perhitungan kawat las konstruksi gudang</strong></h2>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Disini kita akan hitung berapa jumlah kawat las yang harus kita sediakan untuk pengerjaan sebuah gudang, yang berukuran 48&#215;48 meter. Adapun total <a href="https://arsitekta.com/menghitung-tonase-baja-konstruksi-gudang/">Tonase Baja Pada Konstruksi Gudang</a> ini sebenarnya telah kita hitung yaitu sebesar 29.362,39 Kg, serta kini kita jadikan acuan untuk menghitung kebutuhan elektroda.</p>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Tentu ada tujuan kita menetapkan gudang tersebut sebagai acuan untuk perhitungan kawat las, antara lain untuk memudahkan anda memahami cara menghitung konstruksi baja secara keseluruhan. Artinya perlu kita buat kesinambungan antara menghitung tonase baja dan elektroda, sebab dua material ini memang sama-sama kita butuhkan dalam pembangunan sebuah gudang.</p>



<h3 class="wp-block-heading">1.<strong>Macam-macam bahan yang disambung las</strong></h3>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Ada beberapa jenis bahan baja yang harus kita lakukan pengelasan pada konstruksi gudang tersebut, adalah:</p>



<ol type="1"><li>Pelat sambung baja tebal (t)=6; 8 dan 10 mm</li><li>Besi beton Ø12 mm, yaitu bahan untuk ruji-ruji regel</li><li>Couph/sumpil CT-WF 200x100x5,5&#215;8 mm; CT=Cut; artinya dibelah secara miring/serong</li><li>Sumpil CT-WF 150x75x5x7 mm</li><li>Baja profil siku L 50x50x5 mm, yang berguna sebagai dudukan regel</li><li>Serta siku L 40x40x4 mm, yaitu untuk rangka talang</li></ol>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Adapun total tonase 6 jenis bahan ini adalah sebesar 3.383,67 Kg, yang mana nantinya akan kita jadikan pedoman untuk mencari berapa persentase kawat las.</p>



<h3 class="wp-block-heading">2.<strong>Menentukan diameter kawat las berselaput</strong></h3>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Masih berdasarkan 6 jenis material tersebut, dapat kita ketahui bahwa tebal bahan yang akan kita las adalah (t)= 4 s/d 12 mm. Sehingga sebagai dasar melakukan perhitungan dapat kita pahami beberapa hal, antara lain:</p>



<ol type="1"><li>Untuk bahan t= 8 s/d 12 mm, sesuai ketentuan tebal las (T) adalah 4 mm</li><li>Sementara untuk bahan t˂ 8 mm, tebal las (T)= 3 mm</li></ol>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="463" height="424" src="https://arsitekta.com/wp-content/uploads/2020/09/Gambar-2_Typical-pengelasan-dan-penampang-kawat-las.jpg" alt="Gambar berikut sebagai pedoman untuk melakukan perhitungan kebutuhan kawat las" class="wp-image-2451" srcset="https://arsitekta.com/wp-content/uploads/2020/09/Gambar-2_Typical-pengelasan-dan-penampang-kawat-las.jpg 463w, https://arsitekta.com/wp-content/uploads/2020/09/Gambar-2_Typical-pengelasan-dan-penampang-kawat-las-300x275.jpg 300w" sizes="(max-width: 463px) 100vw, 463px" /><figcaption>Gambar 2: Typical pengelasan dan Penampang las</figcaption></figure></div>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Cara menghitung volume (V) kawat untuk pengelasan T=4 mm</strong></h2>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Agar memudahkan perhitungan perlu kita kelompokan, bahwa ada 3 jenis bahan yang akan kita las dengan ketebalan 4 mm, yaitu: 1]. Pelat baja t=10 mm, 2]. Pelat baja t=8, dan 3]. Besi beton Ø12 mm. Serta berkaitan dengan ukuran, baik panjang atau lebar bahan tetap mengacu pada tabel perhitungan <em>“Tonase Baja Pada Konstruksi Gudang”.</em> Silahkan anda buka<em> link</em> artikel tersebut. </p>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Kemudian perhitungan volume kawat las kita lakukan sesuai keterangan pada gambar 2, yaitu dengan langkah-langkah sebagai berikut:</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>I.Menghitung panjang (L) las pada pelat baja t=10 mm</strong></h3>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Pada konstruksi gudang ini, panjang pengelasan pelat baja dengan ketebalan (t)=10 mm, dapat kita hitung masing-masing berdasarkan kegunaan bahan:</p>



<ol type="1"><li>Sebagai pelat landasan <em>(base plate) </em>pada tiang kolom WF 250x125x6x9; kita ketahui panjang las = ((0,25&#215;2)+(0,125&#215;4)) x 9 buah kolom = 9,0 meter</li><li>Pelat landasan pada tiang kolom WF 200x100x5,5&#215;8; maka panjang las adalah = ((0,20&#215;2)+(0,10&#215;4)) x 19 buah kolom = 14,4 meter</li><li>Pelat lekat kuda-kuda WF 200x100x5,5&#215;8, panjang las kita hitung = ((0,20x2x2)+(0,10&#215;6)) x 72 buah = 100,8 meter</li></ol>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Jadi bila kita total panjang (L) keseluruhan pengelasan pada pelat baja t=10 mm adalah:</p>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">9,0+14,4+100,8 meter = 124,2 meter.</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>II.Menghitung panjang (L) las pada baja t=8 mm</strong></h3>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Sementara untuk pengelasan terhadap bahan yang memiliki tebal (t)= 8 mm, adalah terdiri dari:</p>



<ol type="1"><li>Bahan couph/sumpil CT-WF 200x100x5,5&#215;8 mm = (2,5&#215;0,2&#215;2) x 36 buah = 36,0 meter</li><li>Pelat lekat konsol WF 150x75x5x7, dengan panjang las = ((0,15x2x2)+(0,075&#215;6)) x 18 buah = 18,9 meter</li><li>Sepatu ikatan angin (clead plate) = (0,05&#215;2) x 80 bh = 8,0 meter</li></ol>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Lalu kita jumlahkan seluruh pengelasan pada bahan t=8 mm, maka panjangnya (L) adalah: 36,0+18,9+8,0 meter = 63,9 meter. Adapun dasar perhitungan dapat anda perhatikan pada gambar 3, berikut ini.</p>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="150" height="150" src="https://arsitekta.com/wp-content/uploads/2020/09/Gambar-3_Contoh-menghitung-kawat-las-pada-kuda-kuda.jpg" alt="Gambar ini berguna sebagai acuan untuk menghitung kebutuhan kawat las" class="wp-image-2452"/><figcaption>Gambar 3: Mengelas pelat baja kuda-kuda dan pengaku (Couph)</figcaption></figure></div>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>III.Menghitung panjang (L) las pada besi beton Ø12 mm</strong></h3>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Pada bahan ini pengelasan kita lakukan pada pertemuan dengan bahan regel lainnya, sehingga panjang (L) kawat las kita hitung pada keliling besi beton saja, yaitu:</p>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">= (0,012&#215;0,14&#215;2) x 1.152 buah = 43,4 meter.</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>IV.Perhitungan volume (V) kawat untuk pengelasan T=4 mm</strong></h3>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Untuk kelompok pengelasan dengan tebal 4 mm, berdasarkan hasil perhitungan tersebut selanjutnya kita rekap total panjang (L) las adalah: 124,2+63,9+43,4 <strong>= 231,5 meter</strong>. Kemudian kita lakukan perhitungan volume las berdasarkan rumus berikut:</p>



<p class="has-normal-font-size"><strong>V         = A x L</strong></p>



<p class="has-normal-font-size">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; = ½ (T x T) x L</p>



<p class="has-normal-font-size">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; = ½ x 0,04 x 0,04 x 231,5 meter = 0,185 m³</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>V.Total tonase kebutuhan kawat las pada pengelasan T=4 mm</strong></h3>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Terakhir untuk mengetahui tonase kawat las untuk pengelasan T=4 mm, kita hitung berdasarkan rumus berikut ini:</p>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size"><strong>Tonase kawat          = Volume kawat las (V) x Berat jenis logam</strong></p>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; = 0,185 x 7.850 Kg/m³</p>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; = 1.452,25 Kg</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Cara menghitung volume (V) kawat untuk pengelasan T=3 mm</strong></h2>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Volume elektroda untuk pengelasan dengan T=3 mm, kita lakukan terhadap 4 jenis bahan yaitu: 1]. Pelat baja t=6 mm, 2]. CT-WF 150x75x5x7 mm, 3]. Dudukan regel L 50x50x5, dan 4]. Rangka talang L 40x40x4 mm. Adapun perhitungan pada masing-masing jenis bahan, akan kita lakukan dengan tahap-tahap berikut:</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>1.Menghitung panjang (L) las pada pelat baja t=6 mm</strong></h3>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Pada konstruksi gudang tersebut pelat baja t=6 mm terdiri dari bermacam fungsi, yang mana masing-masing panjang pengelasan dapat kita rinci, berdasarkan hitungan sebagai berikut:</p>



<ol type="1"><li>Pelat rib <em>(stiffners)</em> pada tiang kolom WF 250x125x6x9; kita ketahui panjang las = ((0,25&#215;2)+(0,125&#215;2)) x (9+27) buah kolom = 27,0 meter</li><li>Pelat rib tiang kolom WF 200x100x5,5&#215;8; perhitungan panjang las adalah: ((0,20&#215;2)+(0,10&#215;2)) x 54 buah kolom = 32,4 meter</li><li>Pelat rib kuda-kuda WF 200x100x5,5&#215;8; = ((0,20&#215;2)+(0,10&#215;2)) x 144 buah kolom = 86,4 meter</li><li>Pelat rib konsol WF 150x75x5x7; dapat kita hitung panjang las adalah: ((0,15&#215;2)+(0,075&#215;2)) x 18 buah kolom = 8,1 meter</li><li>Dudukan gording adalah: (0,10&#215;2) x 324 buah = 64,8 meter</li></ol>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Jadi bila kita total panjang (L) keseluruhan pengelasan pada pelat baja t=6 mm ini adalah:</p>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">27,0+32,4+86,4+8,1+64,8 meter = 218,7 meter.</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>2.Menghitung panjang (L) las pada profil baja lainnya</strong></h3>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Adapun perhitungan panjang pengelasan pada bahan-bahan yang lain, kita ketahui terdiri dari:</p>



<ol type="1"><li>Dudukan regel L 50x50x5; dapat kita hitung panjang las adalah: 0,40 x 24 buah = 9,6 meter</li><li>Bahan couph/sumpil CT-WF 150x75x5x7 mm adalah: (2,5&#215;0,15&#215;2) x 18 buah = 13,5 meter</li><li>Rangka talang L 40x40x4 mm = (0,04&#215;2) x 300 buah = 24,0 meter</li></ol>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Maka kita jumlahkan panjang&nbsp; (L) masing-masing pengelasan tersebut menjadi: 9,60+13,5+24,0 meter = 47,1 meter.</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>3.Perhitungan total volume (V) kawat untuk pengelasan T=3 mm</strong></h3>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Berdasarkan hasil perhitungan tersebut, selanjutnya dapat kita lakukan penjumlahan panjang (L) total las t=3 mm, yakni: 218,7+47,1 =&nbsp; <strong>265,8 meter</strong>. Setelah itu kita hitung volume las melalui rumus berikut:</p>



<p class="has-normal-font-size"><strong>V         = A x L</strong></p>



<p class="has-normal-font-size">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; = ½ (T x T) x L</p>



<p class="has-normal-font-size">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; = ½ x 0,04 x 0,04 x 265,8 meter = 0,212 m³</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>4.Total tonase kebutuhan kawat las pada pengelasan T=3 mm</strong></h3>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Selanjutnya berdasarkan perhitunggan volume tersebut, sehingga dapat kita ketahui tonase kawat las untuk mengelas T=3 mm, adalah:</p>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Tonase kawat          = 0,212 x 7.850 Kg/m³</p>



<p class="has-normal-font-size">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; = 1.664,20 Kg</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Jumlah total kebutuhan kawat las</strong></h2>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Berikut ini kita tahu jumlah total kebutuhan kawat las untuk pengerjaan konstruksi gudang, yaitu dengan menjumlahkan total tonase pengelasan T=4 dan T=3 mm, yakni:</p>



<p class="has-normal-font-size">= 1.452,25+1.664,20 Kg</p>



<p class="has-normal-font-size">= 3.116,45 Kg.</p>



<p class="has-text-align-justify has-pale-cyan-blue-background-color has-background has-normal-font-size">Perlu kita tambahkan, jumlah total kebutuhan las ini adalah untuk mengelas konstruksi dengan total panjang = 497,3 meter. Serta bila kita rata-rata dengan tonase kawat las, maka per meter pengelasan T=3 atau 4 mm membutuhkan ±6,27 Kg elektroda.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Kesimpulan</strong></h2>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Berdasarkan hasil perhitungan kebutuhan kawat las tersebut, apabila kita lakukan perbandingan dengan tonase baja maka hasinya adalah: 3.116,45Kg/29.362,39 Kg = 0,106. Dengan kata lain dapat kita ambil kesimpulan, kebutuhan kawat las untuk pembuatan konstruksi gudang ±10,6% dari tonase baja.</p>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Lalu kita coba <a href="https://lektur.id/arti-konversi/">konversi</a> dengan tonase bahan yang kita las, yaitu: 3.116,45Kg/3.383,67 Kg = 0,921, atau 92,10%. Sehingga dapat kita simpulkan kembali, bahwa kebutuhan kawat las nyaris sama dengan tonase bahan yang disambung.</p>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Sementara terkait dengan jumlah logam hasil pengelasan dengan jumlah elektroda yang telah kita gunakan <em>(Deposition efficiency/DE),</em> disini tidak kita hitung secara detail sebab masing-masing produk berbeda. Namun demikian khusus untuk mengelas SMAW dengan menggunakan kawat las panjang 350 mm, memiliki sekitar 62% dari jumlah elektroda terpakai.</p>



<p class="has-drop-cap has-text-align-justify has-normal-font-size">Adapun catatan terakhir mengenai perhitungan tonase kawat las ini adalah bukan untuk mengelas sambungan perkuatan struktur <em>(Reinforcement), </em>jadi boleh kita sebut berlaku pada pengelasan dengan standar umum. Serta total tonase tersebut telah meliputi untuk kebutuhan <a href="https://arsitekta.com/cara-membuat-las-titik-yang-benar-pada-proyek-baja/">Membuat las Titik.</a> </p>
<p>The post <a href="https://arsitekta.com/cara-menghitung-kebutuhan-kawat-las-konstruksi-gudang/">Cara Menghitung Kebutuhan Kawat Las Konstruksi Gudang</a> appeared first on <a href="https://arsitekta.com">Jasa Arsitektur dan Konstruksi Baja</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://arsitekta.com/cara-menghitung-kebutuhan-kawat-las-konstruksi-gudang/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>1</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pengerutan Baja Begini Cara Mencegah dan Mengatasinya</title>
		<link>https://arsitekta.com/pengerutan-baja-begini-cara-mencegah-dan-mengatasinya/</link>
					<comments>https://arsitekta.com/pengerutan-baja-begini-cara-mencegah-dan-mengatasinya/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[arsitekta]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 14 Sep 2020 18:39:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Konstruksi Baja]]></category>
		<category><![CDATA[Metode Kerja]]></category>
		<category><![CDATA[baja profil]]></category>
		<category><![CDATA[las titik]]></category>
		<category><![CDATA[memotong baja]]></category>
		<category><![CDATA[pengelasan baja]]></category>
		<category><![CDATA[pengerutan baja]]></category>
		<category><![CDATA[Rangka Baja]]></category>
		<category><![CDATA[sambungan baja]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://arsitekta.com/pengerutan-baja-begini-cara-mencegah-dan-mengatasinya/</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pengerutan baja bagi para tukang las profesional bukan lagi hal yang baru atau asing. Sebab kejadian seperti ini terus berulang-ulang pada setiap material baja yang mereka olah, utamanya bahan yang akan dipakai untuk struktur bangunan bertingkat atau bentang lebar. Namun kita sadari atau tidak, ternyata sedikit dari pihak pelaksana atau engineer bangunan yang paham tentang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://arsitekta.com/pengerutan-baja-begini-cara-mencegah-dan-mengatasinya/">Pengerutan Baja Begini Cara Mencegah dan Mengatasinya</a> appeared first on <a href="https://arsitekta.com">Jasa Arsitektur dan Konstruksi Baja</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="has-drop-cap has-text-align-justify has-normal-font-size"><span class="has-inline-color has-vivid-green-cyan-color">P</span>engerutan baja bagi para tukang las profesional bukan lagi hal yang baru atau asing. Sebab kejadian seperti ini terus berulang-ulang pada setiap material baja yang mereka olah, utamanya bahan yang akan dipakai untuk struktur bangunan bertingkat atau bentang lebar.</p>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Namun kita sadari atau tidak, ternyata sedikit dari pihak pelaksana atau engineer bangunan yang paham tentang pengerutan baja. Sehingga bagaimana cara mencegah serta mengatasi perihal kasus ini sepenuhnya berserah kepada tukang las. Sangat ironi bukan?</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Pengertian pengerutan baja</strong></h2>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Pengerutan <em>(shrinkage) </em>baja artinya adanya susutan atau menciut bahan baja yang mengakibatkan perubahan bentuk dari apa yang sebelumnya kita rencanakan, yang terjadi secara tidak terduga dan tanpa kita sengaja.</p>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Perlu kita ketahui ada sedikit perbedaan antara perubahan bentuk (deformasi) dan pengerutan baja, dan perbedaan tersebut dapat kita identifikasi melalui sebab akibat. Yaitu bahwa deformasi tidak seluruhnya terjadi akibat bahan yang susut, tetapi dapat kita pastikan salah satu penyebab deformasi adalah karena adanya susutan. Agar mudah kita pahami perhatikan gambar berikut ini.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Penyebab terjadinya pengerutan baja konstruksi</strong></h2>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Sedikit telah kita sebutkan sebelumnya, dalam proses pengerjaan baja untuk keperluan konstruksi sering menimbulkan suatu kejadian yang tidak dapat kita hindari. Namun bukan berarti dengan kejadian tersebut langsung kita klaim bahwa prosedur pengerjaan telah salah. Melainkan penting kita cari adalah penyebab terjadinya pengerutan, sehingga kemudian dapat kita cari apa solusi untuk mencegah atau mengatasi.</p>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="602" height="340" src="https://arsitekta.com/wp-content/uploads/2020/09/Gambar-proses-pengerutan-baja.jpg" alt="Gambar yang berisi penjelasan tentang penyebab terjadinya pengerutan baja" class="wp-image-2444" srcset="https://arsitekta.com/wp-content/uploads/2020/09/Gambar-proses-pengerutan-baja.jpg 602w, https://arsitekta.com/wp-content/uploads/2020/09/Gambar-proses-pengerutan-baja-300x169.jpg 300w" sizes="(max-width: 602px) 100vw, 602px" /><figcaption>Gambar penyebab terjadinya pengerutan baja</figcaption></figure></div>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Adapun pengerutan baja konstruksi terjadi pada tahap fabrikasi, bukan pada saat pemasangan. Dan yang mengakibatkan kejadian tersebut kita bagi menjadi 2 faktor, yaitu:</p>



<h3 class="wp-block-heading">1.<strong>Faktor pelaksanaan pemotongan baja</strong></h3>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Pelaksanaan pemotongan baja dapat mengakibatkan terjadinya pengerutan sebab prinsip kerja pemotongan baja dengan blender, yaitu memanfaatkan reaksi baja dalam keadaan berpijar/panas dengan zat asam murni. Jadi yang kita maksud disini adalah pemotongan dengan blender, bukan yang menggunakan mesin gerinda.</p>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Sangat penting kita ketahui teknis pelaksanaan pemotongan bahan yang benar, guna mengurangi terjadinya pengerutan, yang terutama pada bahan yang memiliki tebal (t)≤ 3 mm, misalnya Profil Baja CNP dan besi Hollow. Anda dapat pahami dengan jelas bagaimana <a href="https://arsitekta.com/memotong-baja-dengan-blender-panduan-paling-lengkap/">Pedoman Memotong Baja Dengan Blender</a>.</p>



<h3 class="wp-block-heading">2.<strong>Faktor pelaksanaan pengelasan baja</strong></h3>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Mengelas baja yang memerlukan pemanasan dengan temperatur yang tinggi, serta adanya proses pendinginan yang begitu cepat setelah mengelas adalah yang paling banyak mengakibatkan pengerutan. Inilah yang kita sebut di awal suatu kejadian tak terduga, diluar perencanaan sekaligus yang tidak dapat kita hindari.</p>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Ditambah lagi bila mutu pengelasan tidak baik dapat menyebabkan pengerutan baja lebih besar. Jadi agar susut tidak lebih parah, kita perlu memahami <a href="https://arsitekta.com/metode-pengelasan-baja-konstruksi-yang-harus-di-ketahui/">Metode Pengelasan Baja Konstruksi,</a> serta faktor-faktor yang mempengaruhi mutu las.</p>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Selain 2 faktor ini pengerutan baja juga dapat terjadi, apabila mutu baja yang kita potong atau las tidak sesuai dengan spesifikasi teknis (Spektek). Atau dengan kata lain karena menyalahi ukuran, misalnya dalam <em>shop drawing</em> menetapkan tebal bahan (t) adalah 12 milimeter tetapi pada kenyataan hanya 11 milimeter.</p>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Adanya pengurangan ukuran walau hanya beberapa milimeter saja, secara tidak langsung berdampak pada proses pemotongan maupun mengelas baja. Dan efek selanjutnya adalah pengerutan bahan terjadi diluar dugaan kita. Karena bisa saja prosedur mengelas telah kita lakukan dengan benar, namun karena bahan yang terlalu tipis dapat mengakibatkan hasil las tidak sesuai dengan apa yang kita rencanakan/inginkan.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Ciri-ciri pengerutan pada baja</strong></h2>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Perhatikan gambar sebelumnya, telah tercantum beberapa ciri-ciri baja yang mengalami pengerutan. Sebenarnya sangat mudah membedakan pengerutan yang terjadi akibat pemotongan atau akibat pengelasan baja. Tanda-tanda terjadinya susut pada bahan dapat kita lihat dengan mata telanjang, jadi tidak perlu menggunakan alat khusus atau yang memiliki teknologi canggih.</p>



<h3 class="wp-block-heading">1.<strong>Pengerutan karena pemotongan baja dengan blender</strong></h3>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Berikut ini ciri-ciri material baja yang mengalami pengerutan setelah kita lakukan pemotongan dengan blender, antara lain:</p>



<ol type="1"><li>Penampang profil berubah. Kasus seperti ini dapat kita jumpai pada besi pipa, yang mana sebelum kita potong bentuk penampang masih bulat, namun setelah pemotongan berkerut menjadi lonjong atau gepeng.</li><li>Pemotongan tidak rata/halus. Hal ini terjadi karena prosedur pemotongan yang salah, misalnya yang seharusnya memakai Nozzle nomor 2 namun dalam praktek kita paksa menggunakan nomor 3.</li></ol>



<h3 class="wp-block-heading">2.<strong>Pengerutan akibat pengelasan baja</strong></h3>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Adapun ciri-ciri pengerutan setelah kita mengelas baja adalah seperti berikut:</p>



<ol type="1"><li>Penampang sambungan <a href="https://kbbi.web.id/pelintir">melintir atau puntir.</a> Seperti kita tahu tujuan pengelasan adalah menyatukan 2 atau lebih bagian komponen/rangka, maka tak jarang hasil sambungan tersebut menjadi tidak presisi atau tidak siku. Pengerutan ini umumnya kita temukan pada saat menyatukan pelat-pelat baja dengan rangka batang. Contoh pada gambar berikut, misalnya ketika kita mengelas sebuah pelat buhul dengan rangka kuda-kuda cremona siku.</li><li>Terjadi cacat las. Hal ini dapat terjadi karena prosedur atau metode pengelasan yang tidak terlaksana dengan benar. Adapun jenis cacat las yang paling berpotensi mengakibatkan pengerutan bahan ada 2 yaitu: <span class="has-inline-color has-vivid-green-cyan-color">1].Adanya retak-retak pada hasil las, 2]. Penetrasi kampuh yang terlalu dalam.</span> Dan perlu kita ingat 2 jenis cacat las ini juga dapat mengakibatkan penampang sambungan pelintir.</li></ol>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="680" height="468" src="https://arsitekta.com/wp-content/uploads/2020/07/Gambar-detail-buhul-sambungan-las.jpg" alt="Gambar pengelasan pelat buhul pada rangka kuda-kuda cremona yang berpotensi terjadi pengerutan baja" class="wp-image-1903" srcset="https://arsitekta.com/wp-content/uploads/2020/07/Gambar-detail-buhul-sambungan-las.jpg 680w, https://arsitekta.com/wp-content/uploads/2020/07/Gambar-detail-buhul-sambungan-las-300x206.jpg 300w" sizes="(max-width: 680px) 100vw, 680px" /><figcaption>Gambar sambungan las pada sebuah kuda-kuda</figcaption></figure></div>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Bahaya sambungan yang berkerut terhadap konstruksi</strong></h2>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Tentu ada resiko yang menjadi konsekuensi atas setiap proses pengerjaan baja yang tidak kita lakukan sesuai standar atau aturan. Termasuk bila terjadi pengerutan pada bahan yang telah kita sambung menggunakan las. Adakalanya pada saat fabrikasi pengelasan kita anggap masih dalam batas-batas toleransi, namun dampaknya adalah pada saat perakitan atau pemasangan komponen/rangka baja.</p>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Berikut ini beberapa bahaya pengerutan baja yang terjadi akibat sambungan las, antara lain:</p>



<ol type="1"><li>Ukuran bahan yang kita las tidak sesuai dengan <em>shop drawing</em></li><li>Ketika merakit pertemuan antara komponen/rangka batang tidak sempurna</li><li>Mur baut menjadi sulit dipasang karena lubang yang bergeser akibat terjadinya pengerutan</li><li>Dapat kita pastikan mutu las tidak berkualitas</li><li>Sambungan las lepas</li></ol>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Cara mencegah pengerutan baja</strong></h2>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Seperti pepatah yang mengatakan lebih baik mencegah daripada mengobati, jadi solusi pertama yang harus anda persiapkan adalah melakukan pencegahan. Yaitu bagaimana supaya pengerutan baja dapat anda kurangi atau bila memungkinkan ditiadakan.</p>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Adapun tips untuk antisipasi pengerutan bahan yang lebih parah, baik pada saat melaksanakan pemotongan maupun saat mengelas. Adalah penting anda terapkan berdasarkan 2 metode pencegahan berikut ini:</p>



<h3 class="wp-block-heading">1.<strong>Mencegah pengerutan saat pemotongan</strong></h3>



<ol type="1"><li>Lakukan pemotongan dengan menggunakan mesin gerinda potong bila tebal bahan yang akan anda potong  (t)≤ 3 milimeter. Dan untuk baja yang memiliki (t)˃ 3 milimeter pemotongan harus dengan alat blender. Harap dicatat jangan sebaliknya!</li><li>Memotong baja dengan blender harus sesuai standar kecepatan pemotongan, misalnya untuk (t)=12 mm kecepatan potong antara 38 s/d 58 cm/menit. Hal ini akan mempengaruhi permukaan bahan yang anda potong, yang selanjutnya dapat berakibat pada mutu pengelasan sambungan.</li><li>Nomor nozzle yang anda pergunakan harus terlebih dahulu sesuaikan dengan tebal bahan yang akan dipotong. Akibat penggunaan nozzle yang salah dapat mengakibatkan panjang bahan yang akan anda potong menjadi berkurang</li><li>Pastikan pemotongan baja dilakukan oleh tukang yang bertugas spesialis memotong.</li></ol>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Selain 4 cara pencegahan pengerutan tersebut, ketika anda melaksanakan pemotongan baja dengan blender juga tidak terlepas dari 3 hal berikut: <span class="has-inline-color has-vivid-green-cyan-color">1]. Teknis melaksanakan pemanasan pendahuluan, 2]. Cara mengatur nyala api normal, 3]. Kelengkapan komponen alat potong.</span></p>



<h3 class="wp-block-heading">2.<strong>Mencegah pengerutan saat pengelasan</strong></h3>



<ol type="1"><li>Selalu <a href="https://arsitekta.com/cara-membuat-las-titik-yang-benar-pada-proyek-baja/">Membuat Las Titik Yang Benar</a> sebelum melakukan las penuh <em>(full welding)</em></li><li>Memasang beberapa bahan pengaku tambahan <em>(jig) </em>pada bagian-bagian bahan yang akan anda sambung</li><li>Jika pada 2 bagian bahan terjadi rongga atau tidak rapat, maka jangan anda tambal dengan bahan tambahan, misalnya mengisi dengan besi beton</li><li>Lakukan pengelasan dengan menyesuaikan antara jenis polaritas, tebal bahan (t), jenis serta diameter elektroda (kawat las).</li><li><a href="https://arsitekta.com/prosedur-pengelasan-pelat-baja-dengan-busur-listrik/">Pengelasan Pelat Baja Menggunakan Busur Listrik,</a> harus anda lakukan sesuai prosedur yang tersedia dalam <em>link</em> ini</li><li>Mengatur arus listrik berkisar 80 Amper dengan tegangan 22 Volt, serta batas kecepatan las ±4 milimeter/detik</li><li>Beri jeda waktu untuk pengelasan yang memiliki panjang ≥50 cm,</li><li>Buat urutan-urutan pengelasan untuk menghindari konsentrasi panas dan pengerutan baja</li><li>Buat las tumpu <em>(overlap)</em> secukupnya</li><li>Jangan menyiram air pada sambungan yang baru di las</li><li>Mengelas baja harus dilakukan oleh tukang yang profesional. Silahkan perhatikan gambar berikut ini.</li></ol>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="440" height="343" src="https://arsitekta.com/wp-content/uploads/2020/06/WhatsApp-1.jpg" alt="Gambar pengelasan baja yang panjang dan bervariasi, berpotensi menimbulkan pengerutan pada baja" class="wp-image-1736" srcset="https://arsitekta.com/wp-content/uploads/2020/06/WhatsApp-1.jpg 440w, https://arsitekta.com/wp-content/uploads/2020/06/WhatsApp-1-300x234.jpg 300w" sizes="(max-width: 440px) 100vw, 440px" /><figcaption>Gambar mengelas pelat lekat <em>(connecting plate) </em></figcaption></figure></div>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Faktor yang tak kalah penting dalam antisipasi terjadinya pengerutan bahan adalah persiapan alat keselamatan dan kesehatan sewaktu pelaksanaan las. Logikanya cukup sederhana, yaitu bagaimana mungkin kita peroleh hasil sambungan yang berkualitas jika faktor K3 tidak kita utamakan.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Tips mengatasi sambungan las yang berkerut</strong></h2>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Pada kondisi tertentu adakalanya pencegahan tidak sepenuhnya berhasil kita lakukan, maka langkah selanjutnya adalah melakukan perbaikan. Demikian juga kita tidak berharap terjadi kesalahan las yang mengakibatkan baja berkerut, jadi solusi yang dapat kita lakukan pada situasi seperti ini adalah:</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>Cara 1: Meluruskan baja dengan api</strong></h3>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Memanasi baja adalah cara yang umum dilakukan oleh para pekerja las terhadap sambungan yang berkerut. Metode ini mereka lakukan dengan cara menarik atau merenggangkan posisi bahan agar sesuai dengan yang diharapkan. Adapun syarat-syarat serta tahap pelaksanaan dapat anda contoh, seperti berikut:</p>



<ol type="1"><li>Perlu anda memastikan bahwa penampang sambungan yang puntir masih dalam batas-batas normal, sehingga memungkinkan untuk anda perbaiki dengan cara memanasi.</li><li>Namun bila penampang sambungan telah terlalu parah untuk anda luruskan dengan api, maka jangan sekali-sekali anda lakukan. Sebab panas api yang terlalu banyak dapat merusak kandungan/unsur logam.</li></ol>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Setelah anda memastikan melalui 2 syarat tersebut, bahwa perbaikan bahan yang berkerut dapat berhasil anda lakukan, selanjutnya anda meluruskan sambungan yang mengerut dengan cara berikut:</p>



<ol type="1"><li>Panasi bagian belakang penampang baja yang mengkerut secara merata</li><li>Kemudian pukul bagian yang anda panasi secara perlahan-lahan</li><li>Lakukan pengecekan apakah menjadi retak akibat pemanasan dan pemukulan tersebut, jika anda menemukan retak maka metode ini jangan anda lanjutkan.</li><li>Namun apabila tidak ada retak, kemudian proses pemanasan serta pemukulan dapat anda lanjutkan, hingga penampang baja kembali lurus dan benar-benar rata.</li></ol>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>Cara 2: Mengulang pengelasan baja</strong></h3>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Cara kedua ini adalah solusi yang pantas anda pertimbangkan, apabila anda ragu bahwa cara yang pertama tidak berhasil mengatasi pengerutan baja. Adapun teknis pelaksanaan adalah seperti berikut:</p>



<ol type="1"><li>Lepaskan sambungan pelat baja dengan memakai <a href="https://arsitekta.com/mesin-gerinda-panduan-penggunaan-alat-untuk-kerja-baja/">Alat Mesin Gerinda</a></li><li>Haluskan permukaan bahan dari bekas las yang masih menempel</li><li>Lakukan pengelasan ulang dengan memakai bahan yang sama, serta memprioritaskan pencegahan yaitu agar tidak terjadi pengerutan ulang.</li></ol>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>Cara 3: Mengganti material baja yang baru</strong></h3>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Perbaikan yang ketiga ini anda lakukan jika cara yang pertama dan kedua tidak memungkinkan untuk dilakukan. Pada prinsipnya adalah mengganti sebagian atau seluruhnya material baja yang mengerut akibat sambung las. Adapun syarat dan teknis pelaksanaannya anda lakukan seperti berikut:</p>



<ol type="1"><li>Bila pengerutan telah terlalu parah, dimana baik dengan cara pemanasan atau mengulang pengelasan mustahil anda lakukan</li><li>Untuk bahan yang memenuhi syarat anda pakai kembali, maka harus bersih dari sisa atau bekas las</li><li>Lakukan pemotongan bahan yang baru, yaitu untuk pengganti material yang berkerut</li><li>Lakukan penyitelan serta pengelasan ulang.</li></ol>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Adapun cara yang terakhir ini tidak kita sebutkan bagian dari <a href="https://kbbi.web.id/risiko">resiko</a> atas proses pengerjaan baja yang tidak benar. Namun sebenarnya merupakan momok bagi para tukang dan <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Kontraktor">kontraktor</a>, karena harus mengeluarkan biaya untuk perbaikan bahan yang berkerut yang tidak sedikit.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Penutup</strong></h2>



<p class="has-drop-cap has-text-align-justify has-normal-font-size"><span class="has-inline-color has-vivid-green-cyan-color">K</span>ita berharap dengan penjelasan ini problem pengerutan baja tidak dianggap lagi sepele. Jadi para pengawas, pelaksana serta engineer yang bergerak pada bidang konstruksi baja, sudah seharusnya memahami penyebab, indikasi serta dampak akibat pemotongan dan pengelasan baja yang tidak benar.</p>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Sehingga andai pun terjadi pengerutan pada bahan, tidak seluruhnya menjadi tanggungjawab tukang. Atau bila tetap anda biarkan hal tersebut terjadi, berarti selain kerugian materi anda juga berpotensi mengalami kerugian non materi. Cukup fatal bukan?</p>
<p>The post <a href="https://arsitekta.com/pengerutan-baja-begini-cara-mencegah-dan-mengatasinya/">Pengerutan Baja Begini Cara Mencegah dan Mengatasinya</a> appeared first on <a href="https://arsitekta.com">Jasa Arsitektur dan Konstruksi Baja</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://arsitekta.com/pengerutan-baja-begini-cara-mencegah-dan-mengatasinya/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Cara Pengelasan Plat Baja Dengan Las Busur Listrik</title>
		<link>https://arsitekta.com/cara-pengelasan-plat-baja-dengan-las-busur-listrik/</link>
					<comments>https://arsitekta.com/cara-pengelasan-plat-baja-dengan-las-busur-listrik/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[arsitekta]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 10 Sep 2020 18:21:36 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Konstruksi Baja]]></category>
		<category><![CDATA[Tutorial]]></category>
		<category><![CDATA[baja plat]]></category>
		<category><![CDATA[fabrikasi baja]]></category>
		<category><![CDATA[las listrik]]></category>
		<category><![CDATA[las titik]]></category>
		<category><![CDATA[pengelasan baja]]></category>
		<category><![CDATA[prosedur las]]></category>
		<category><![CDATA[Rangka Baja]]></category>
		<category><![CDATA[sambungan baja]]></category>
		<category><![CDATA[teknik pengelasan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://arsitekta.com/cara-pengelasan-plat-baja-dengan-las-busur-listrik/</guid>

					<description><![CDATA[<p>Bagi anda yang ingin mendalami lebih detail tentang prosedur pengelasan, silahkan ikuti pembahasan yang kami uraikan dalam artikel ini. Adapun alasan kami buat secara spesifik, karena metode pembahasan kami batasi pada 5 hal, yaitu: Benda kerja yang akan kita pakai khusus pelat baja, Pelat baja tersebut kita gunakan untuk keperluan konstruksi, Pelaksanaan pengelasan secara khusus [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://arsitekta.com/cara-pengelasan-plat-baja-dengan-las-busur-listrik/">Cara Pengelasan Plat Baja Dengan Las Busur Listrik</a> appeared first on <a href="https://arsitekta.com">Jasa Arsitektur dan Konstruksi Baja</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Bagi anda yang ingin mendalami lebih detail tentang prosedur pengelasan, silahkan ikuti pembahasan yang kami uraikan dalam artikel ini. Adapun alasan kami buat secara spesifik, karena metode pembahasan kami batasi pada 5 hal, yaitu:</p>



<ol type="1"><li><span class="has-inline-color has-vivid-red-color">Benda kerja yang akan kita pakai khusus pelat baja,</span></li><li><span class="has-inline-color has-vivid-red-color">Pelat baja tersebut kita gunakan untuk keperluan konstruksi,</span></li><li><span class="has-inline-color has-vivid-red-color">Pelaksanaan pengelasan secara khusus pada saat fabrikasi,</span></li><li><span class="has-inline-color has-vivid-red-color">Alat yang kita gunakan juga khusus, yaitu las busur listrik atau <em>Shielded Metal Arc Welding (SMAW)</em>.</span></li><li><span class="has-inline-color has-vivid-red-color">Posisi pengelasan pelat baja berada dibawah tangan <em>(downhand/flat position)</em>,</span></li></ol>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Seperti pada artikel-artikel kami yang lain, kami berusaha membuat batasan dalam kerangka penulisan. Dan saat ini pembatasan tersebut juga penting kita lakukan, dengan tujuan agar anda dapat menguasai prosedur pengelasan bukan berdasarkan teori saja, tetapi sekaligus dapat anda jadikan acuan dalam praktek. &nbsp;</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Alasan membuat batasan mengenai prosedur pengelasan</strong></h2>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Berikut ini jawaban kami atas 5 hal, yang kami pilih sebagai batasan tentang prosedur pengelasan pada artikel ini.</p>



<h3 class="wp-block-heading">1.<strong>Alasan memilih mengelas pelat baja</strong></h3>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Fungsi pelat baja pada sebuah konstruksi sangat penting. Walau terlihat sepintas sekedar penghubung <em>(connecting)</em> antar profil baja, dengan melalui sebuah <a href="https://arsitekta.com/sistem-sambungan-baja-konstruksi-paling-familiar-saat-ini/">Sistem Sambungan Baja </a>yang menggunakan las atau baut. Namun hampir semua jenis pekerjaan baja membutuhkan bahan pelat baja, yaitu berguna sebagai pelat landasan, rib <em>(stiffners), </em>pelat buhul, kopel/pengaku sambungan dan masih banyak lagi.</p>



<h3 class="wp-block-heading">2.<strong>Mengelas bahan untuk keperluan konstruksi</strong></h3>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Ada banyak manfaat yang kita peroleh dengan menggunakan pelat baja, selain sebagai bahan bangunan juga untuk beberapa keperluan lain. Misalnya untuk industri otomotif, karoseri bus, bak truk/trailer dan sebagainya. Oleh sebab itu kita batasi agar konsentrasi kita bisa fokus pada satu tujuan, yaitu pengelasan untuk kebutuhan konstruksi saja. &nbsp;</p>



<h3 class="wp-block-heading">3.<strong>Pengelasan khusus pada saat fabrikasi</strong></h3>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Telah kita ketahui, pelaksanaan pekerjaan konstruksi baja terdiri dari 2 tahap, yaitu fabrikasi dan pemasangan. Nah, batasan kita buat ketika fabrikasi saja sebab pada tahap inilah proses pengelasan pelat baja banyak kita lakukan. Sementara pada saat pemasangan di lokasi proyek relatif sedikit.</p>



<h3 class="wp-block-heading">4.<strong>Alasan menggunakan las busur listrik</strong></h3>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Selain karena faktor kebiasaan tukang saat melaksanakan fabikasi, menggunakan las busur listrik juga memiliki banyak kelebihan bila kita bandingkan dengan jenis alat las lain. Macam-macam kelebihan tersebut meliputi biaya pengadaan dan operasional alat yang rendah, juga dapat kita pakai untuk berbagai posisi pengelasan serta pada tebal baja yang tidak terbatas.  Dari segi biaya dapat kita sebut rendah karena arus listrik yang kita butuhkan cukup 85-110 Amper, dan dengan <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Tegangan_listrik">tegangan listrik </a>berkisar antara 17-45 Volt.</p>



<h3 class="wp-block-heading">5.<strong>Alasan memilih posisi las di bawah tangan</strong></h3>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Salah satu cara untuk mendapat hasil pengelasan yang terbaik, yaitu meletakkan baja yang akan kita las berada di bawah atau dengan istilah <em>downhand/flat position</em>. Dari segi kenyamanan tukang menginginkan bekerja dengan posisi bahan seperti ini. Pertimbangan lainnya karena lokasi fabrikasi yang kita lakukan di workshop, maka sangat memungkinkan penerapan las datar.</p>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Jadi dengan batasan-batasan tersebut kita berharap setiap tahap prosedur pengelasan dapat lebih detail. Adapun tahap-tahap yang akan kita jelaskan berikut ini.</p>



<h2 class="has-vivid-cyan-blue-color has-text-color wp-block-heading"><strong>Tahap I: Persiapan sebelum mengelas baja</strong></h2>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Ada 2 jenis persiapan yang harus kita lakukan sebelum melaksanakan pengelasan pada pelat baja, antara lain:</p>



<h3 class="wp-block-heading">1.<strong>Kesiapan mengelas secara teoritis</strong></h3>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Yaitu pengetahuan yang berhubungan dengan mutu, standar dan aturan pengelasan serta mengenai keselamatan dan kesehatan kerja (K3) las. Agar anda dapat memahami lebih detail jenis-jenis persiapan ini, silahkan pelajari mengenai <a href="https://arsitekta.com/metode-pengelasan-baja-konstruksi-yang-harus-di-ketahui/">Metode Pengelasan Baja Konstruksi.</a></p>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Sebagai tambahan yang perlu anda persiapkan adalah pemahaman tentang gambar kerja. Hal ini penting agar tidak terjadi kesalahan pada saat pengelasan. Juga telah menjadi suatu keharusan pada pelaksanaan fabrikasi baja, yaitu selalu mengacu pada gambar tersebut.</p>



<h3 class="wp-block-heading">2.<strong>Persiapan mengelas secara praktis</strong></h3>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Yaitu mempersiapkan segala sesuatu yang anda butuhkan selama melakukan pengelasan. Sangat perlu anda ketahui agar proses fabrikasi baja berjalan lancar, sesuai standar dan berkualitas. Adapun persiapan yang harus anda lakukan untuk hal ini meliputi:</p>



<ol type="1"><li>Lokasi kerja&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; : hubungannya selain untuk menjaga K3 las, juga bertujuan agar pelat baja tidak bercampur dengan bahan-bahan untuk proyek lain.</li><li>Tata letak bahan&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; : yakni menempatkan setiap bahan sesuai alur dan proses pengelasan. Sehingga antara bahan jadi dan yang masih dalam pengerjaan tidak menjadi satu,</li><li>Penempatan alat&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; : maksudnya adalah setiap alat kerja yang anda pakai harus berada pada lokasi yang mudah anda jangkau,</li><li>Pemeriksaan bahan dan alat&nbsp;&nbsp;&nbsp; : yaitu memastikan bahan telah tersedia dan semua peralatan dalam kondisi baik.</li></ol>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="518" height="497" src="https://arsitekta.com/wp-content/uploads/2020/09/Gambar-1_Kelengkapan-alat-las-busur-listrik.jpg" alt="Kelengkapan alat adalah salah satu prosedur pengelasan yang harus kita persiapkan" class="wp-image-2438" srcset="https://arsitekta.com/wp-content/uploads/2020/09/Gambar-1_Kelengkapan-alat-las-busur-listrik.jpg 518w, https://arsitekta.com/wp-content/uploads/2020/09/Gambar-1_Kelengkapan-alat-las-busur-listrik-300x288.jpg 300w" sizes="(max-width: 518px) 100vw, 518px" /><figcaption>Gambar 1: Kelengkapan alat las busur listrik</figcaption></figure></div>



<h2 class="has-vivid-cyan-blue-color has-text-color wp-block-heading"><strong>Tahap II: Menentukan polaritas pengelasan</strong></h2>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Sebab mayoritas pengelasan baja di workshop menggunakan polaritas DC <em>(Direct Current), </em>yaitu tenaga listrik yang kita peroleh menurut jenis arus yang keluar dari sebuah mesin. Adapun kekurangan polaritas jenis ini adalah voltage yang dapat turun, yaitu terjadi jika kita menggunakan kabel las yang menghubungkan trafo dengan stang elektroda terlalu panjang. Maka mengantisipasi hal tersebut, sedapat mungkin kita buat jarak trafo dengan bahan tidak terlalu jauh.</p>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Kekurangan kedua jenis polaritas DC adalah apabila pengelasan kita lakukan berlawanan dengan ketentuan tebal pelat, serta jenis penetrasi/tekan akan mengakibatkan hasil penyatuan bahan buruk. Maka dalam praktek penggunaan polaritas DC terdiri dari 2 macam, yang dapat anda pilih melalui syarat-syarat seperti berikut  ini:</p>



<ol type="1"><li><span class="has-inline-color has-vivid-red-color"><strong>Apabila tebal pelat baja (t)= 7 s/d 10 mm</strong>, </span>maka jenis polaritas yang anda pakai adalah polaritas lurus atau DCEP <em>(Reversed Polarity).</em> Dengan cara ini pengelasan yang anda lakukan cukup dengan penetrasi/tekan dangkal, serta menggunakan elektroda Ø3,2 mm.  Perlu anda ketahui, praktek polaritas DCEP dapat anda lakukan dengan cara: 1]. Kabel massa anda hubungkan dengan kutup negatif (-) trafo, 2]. Kabel las anda pasang pada kutup positif (+). Perhatikan Gambar 1, sebelumnya.</li><li><span class="has-inline-color has-vivid-red-color"><strong>Jika tebal pelat (t)= 10 s/d 15 mm</strong>,</span> anda pilih jenis polaritas terbalik atau DCEN <em>(Straight polarity).</em> Adalah kebalikan dari DCEP, artinya pengelasan anda lakukan dengan penetrasi yang dalam, serta menggunakan elektroda Ø4,5 mm. Adapun cara pemasangan kabel pada trafo, juga anda lakukan kebalikan dari DCEP.</li></ol>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Pada kasus tertentu, jika tebal pelat baja yang akan anda las ternyata >15 mm, maka anda tetap bisa menggunakan polaritas DCEN namun dengan 2 pilihan. Yaitu menambah daya/kapasitas trafo serta menggunakan elektroda yang berdiameter lebih besar. Atau pengelasan tetap anda lakukan menggunakan elektroda Ø4,5 mm, tetapi dengan 2 atau 3x tahap.</p>



<h2 class="has-vivid-cyan-blue-color has-text-color wp-block-heading"><strong>Tahap III: Teknik pelaksanaan mengelas pelat baja</strong></h2>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Prosedur pengelasan pelat baja artinya adalah tata laksana atau panduan secara bertahap dan terurai, untuk melaksanakan suatu pekerjaan las terhadap jenis bahan pelat baja. Pada tahap ini kita tidak lagi membahas tentang <a href="https://arsitekta.com/cara-membuat-las-titik-yang-benar-pada-proyek-baja/">Cara Membuat Las Titik Pada Baja,</a> jadi anda dapat pelajari mengenai pelaksanaannya pada link ini.</p>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="583" height="438" src="https://arsitekta.com/wp-content/uploads/2020/09/Gambar-2_Prosedur-pengelasan.jpg" alt="Langkah-langkah melaksanakan prosedur pengelasan pada pelat baja" class="wp-image-2439" srcset="https://arsitekta.com/wp-content/uploads/2020/09/Gambar-2_Prosedur-pengelasan.jpg 583w, https://arsitekta.com/wp-content/uploads/2020/09/Gambar-2_Prosedur-pengelasan-300x225.jpg 300w" sizes="(max-width: 583px) 100vw, 583px" /><figcaption>Gambar 2: Prosedur pengelasan pelat baja</figcaption></figure></div>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>Langkah I: Cara memulai nyala las busur listrik</strong></h3>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Berdasarkan Gambar 2 ini, anda perlu memulai nyala busur listrik dengan tujuan untuk memastikan apakah alat las tersebut telah berfungsi dengan baik atau tidak. Adapun teknik pelaksanaannya dapat anda lakukan dengan cara berikut:</p>



<ol type="1"><li>Hubungkan kabel massa dengan bahan baja. Adapun teknik pemasangan anda lakukan seperti syarat pada Tahap II</li><li>Silahkan anda pasang elektroda pada tangkai/stang las</li><li>Pastikan elektroda tegak lurus terhadap permukaan pelat baja</li><li>Lakukan <em>Scratching,</em> yaitu dengan cara mengetuk elektroda pada pelat sampai timbul busur listrik. Segera kemudian anda tarik agar elektroda tidak lengket pada bahan</li><li>Selanjutnya anda lakukan beberapa kali <em>scratching,</em> dengan kombinasi posisi elektroda yang tegak lurus maupun miring,</li></ol>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Apabila setelah beberapa kali percobaan, anda tidak menemukan kendala selama memulai nyala busur listrik, hal itu menandakan anda telah dapat melakukan pengelasan penuh <em>(full welding) </em>pada pelat baja.</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>Langkah 2: Cara melakukan pengelasan penuh</strong></h3>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Masih menurut Gambar 2, langkah-langkah untuk melakukan pengelasan penuh pada pelat dapat anda lakukan sesuai urutan berikut:</p>



<ol type="1"><li>Saat nyala busur listrik terjadi, posisi elektroda anda tahan dengan jarak nyala sama dengan diameter elektroda</li><li>Selanjutnya elektroda anda tarik keatas hingga tinggi nyala 2x diameter elektroda, hal ini anda lakukan guna memanaskan pelat baja</li><li>Setelah pelat panas, kemudian anda kembalikan jarak nyala pada posisi semula, yaitu 1x diameter elektroda</li><li>Kemudian elektroda anda miringkan hingga membentuk sudut  5 s/d 10º</li><li>Arahkan pengelasan secara perlahan sesuai jalur yang telah anda tentukan, dengan syarat lebar jalur las sama dengan tinggi nyala, yaitu maksimal 2x diameter elektroda</li><li>Hentikan pengelasan apabila selaput elektroda telah habis, kemudian anda ganti dengan yang baru</li><li>Anda dapat melanjutkan pengelasan dengan cara mundur sekitar 1 centimeter dari titik akhir pengelasan sebelumnya, sehingga menumpu<em> (overlap) </em>pada las sebelumnya.</li></ol>



<p>Sampai pengelasan pada bahan tersebut telah anda selesaikan, kemudian pada tahap selanjutnya agar posisi las tetap bisa seperti semula, yakni berada dibawah tangan. Maka yang perlu anda rubah adalah posisi pelat baja, adapun tekniknya dapat anda gunakan alat bantu kerja berupa <em>chain block </em>atau <em>hoizt crane </em>bila ada.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Macam-macam bentuk ayunan/gerak kawat las</strong></h2>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Bentuk ayunan kawat las atau elektroda penting anda ketahui dalam pelaksanaan pengelasan, sebab berkaitan dengan lebar jalur las, yaitu maksimal 2x diameter elektroda yang kita pakai. Anda perhatikan Gambar 3, berikut ini adalah jenis-jenis bentuk ayunan elektroda, yang umum kita temui pada pelaksanaan fabrikasi baja.</p>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="628" height="341" src="https://arsitekta.com/wp-content/uploads/2020/09/Gambar-3_Bentuk-gerakan-ayunan-elektroda.jpg" alt="Mengenal beberapa jenis bentuk ayunan/gerak elektroda pada saat pengelasan" class="wp-image-2440" srcset="https://arsitekta.com/wp-content/uploads/2020/09/Gambar-3_Bentuk-gerakan-ayunan-elektroda.jpg 628w, https://arsitekta.com/wp-content/uploads/2020/09/Gambar-3_Bentuk-gerakan-ayunan-elektroda-300x163.jpg 300w" sizes="(max-width: 628px) 100vw, 628px" /><figcaption>Gambar 3: Macam-macam bentuk ayunan/gerak elektroda</figcaption></figure></div>



<h3 class="wp-block-heading">1.<strong>Ayunan crescent</strong></h3>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Atau dalam bahasa pertukangan terkenal dengan istilah bentuk silang melengkung atau zig-zag. Adalah melakukan pengelasan pada baja dengan cara menggerakkan elektroda ke samping kanan dan kiri jalur las, hingga pola gerakan elektroda tersebut menyerupai gergaji.</p>



<h3 class="wp-block-heading">2.<strong>Ayunan angka delapan</strong></h3>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Yaitu menggerakkan elektroda dengan pola teratur pada jalur las, hingga hasil pengelasan anda berbentuk angka delapan, yang saling bersambung.</p>



<h3 class="wp-block-heading">3.<strong>Ayunan melingkar</strong></h3>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Atau pola lingkaran, artinya anda melaksanakan pengelasan dengan cara menggerakkan elektroda hingga membentuk lingkaran-lingkaran yang saling menumpuk.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Penutup</strong></h2>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Berikut ini beberapa catatan mengenai praktek pengelasan saat fabrikasi baja, antara lain:</p>



<ol type="1"><li>Sebuah elektroda dengan Ø3,2 mm jika kita gunakan untuk pengelasan penuh, maka dapat menghasilkan panjang pengelasan ±7,5 cm</li><li>Gerak maju elektroda untuk masing-masing bentuk ayunan adalah sama dengan diameter elektroda yang kita pakai. Misalnya kita pakai elektroda Ø3,2 mm, maka gerak maju 3,2 mm</li><li>Untuk melanjutkan pengelasan yang terhenti akibat elektroda yang habis, maka pengelasan yang baru kita mundurkan sekitar 3x diameter elektroda</li><li>Jenis elektroda yang kita pakai untuk pengelasan baja adalah elektrodan karbon rendah atau baja lunak, yaitu dengan kode penulisan E 6010, E 6011, E 6012 atau E 6013. &nbsp;</li></ol>
<p>The post <a href="https://arsitekta.com/cara-pengelasan-plat-baja-dengan-las-busur-listrik/">Cara Pengelasan Plat Baja Dengan Las Busur Listrik</a> appeared first on <a href="https://arsitekta.com">Jasa Arsitektur dan Konstruksi Baja</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://arsitekta.com/cara-pengelasan-plat-baja-dengan-las-busur-listrik/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Cara Membuat Las Titik Yang Benar Pada Proyek Baja</title>
		<link>https://arsitekta.com/cara-membuat-las-titik-yang-benar-pada-proyek-baja/</link>
					<comments>https://arsitekta.com/cara-membuat-las-titik-yang-benar-pada-proyek-baja/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[arsitekta]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 08 Sep 2020 16:51:16 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Konstruksi Baja]]></category>
		<category><![CDATA[Metode Kerja]]></category>
		<category><![CDATA[baja profil]]></category>
		<category><![CDATA[las titik]]></category>
		<category><![CDATA[pengelasan baja]]></category>
		<category><![CDATA[Rangka Baja]]></category>
		<category><![CDATA[sambungan baja]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://arsitekta.com/cara-membuat-las-titik-yang-benar-pada-proyek-baja/</guid>

					<description><![CDATA[<p>Las titik atau paku las (Tack weld), yang sering kita dengar juga dengan sebutan las kunci, adalah pekerjaan yang kita laksanakan hanya pada tempat-tempat tertentu pada sebuah bahan. Jenis pengelasan ini dalam proyek baja jarang mendapat perhatian dan terlihat sepele, karena ukurannya yang sangat kecil. Padahal memiliki fungsi yang sangat penting, terutama pada pelaksanaan fabrikasi. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://arsitekta.com/cara-membuat-las-titik-yang-benar-pada-proyek-baja/">Cara Membuat Las Titik Yang Benar Pada Proyek Baja</a> appeared first on <a href="https://arsitekta.com">Jasa Arsitektur dan Konstruksi Baja</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="has-drop-cap has-text-align-justify has-normal-font-size">Las titik atau paku las <em>(Tack weld),</em> yang sering kita dengar juga dengan sebutan las kunci, adalah pekerjaan yang kita laksanakan hanya pada tempat-tempat tertentu pada sebuah bahan. Jenis pengelasan ini dalam proyek baja jarang mendapat perhatian dan terlihat sepele, karena ukurannya yang sangat kecil. Padahal memiliki fungsi yang sangat penting, terutama pada pelaksanaan fabrikasi.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Pengaruh las titik terhadap sambungan</strong></h2>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Pembuatan las titik memerlukan waktu yang sangat singkat, serta panas yang dihasilkan juga relatif kecil. Khususnya bila kita lakukan pada bahan baja yang tebal, yang mana suhu/panas yang kecil tersebut akan segera terserap oleh baja. Akibatnya terjadilah suatu tempat pada permukaan bahan yang mengalami pemanasan serta pendinginan yang begitu cepat. Sehingga pada akhirnya terbentuklah sambungan yang bersifat keras dan <a href="https://kbbi.web.id/getas">getas</a> <em>(martensitik).</em></p>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Pada sambungan bahan yang keras dan getas tadi akan sangat rawan terjadi retakan, karena adanya <a href="https://lektur.id/arti-pengerutan/">pengerutan</a> <em>(shrinkage) </em>yang berasal dari tegangan internal bahan, yang mengalami panas dan dingin secara tiba-tiba. Jadi potensi retak ini selanjutnya yang akan mempengaruhi proses pengelasan baja. Tidak hanya itu, kemungkinan terjadinya kecelakaan kerja juga sangat besar, utamanya jika dimensi profil baja yang kita satukan memiliki ukuran besar.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Tujuan membuat las titik</strong></h2>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Seperti kita ketahui membuat las titik selalu dilakukan pada tahap pertama, sebelum melaksanakan pengelasan penuh <em>(full welding)</em>. Adapun pekerjaan ini sangat penting, serta perlu kita laksanakan yaitu dengan tujuan untuk:</p>



<ol type="1"><li>Memasang satu bahan tambahan <em>(jig), </em>yang berfungsi sebagai pengikat sementara antara 2 atau lebih bagian-bagian bahan baja, yang akan kita sambung,</li><li>Membantu tukang agar selama proses pengelasan baja tidak bergerak, goyang atau berubah posisi karena adanya pengerutan atau benturan,</li><li>Agar pelaksanaan pekerjaan dapat berjalan lancar dan cepat, khususnya untuk pengelasan yang panjang. Misalnya ketika kita membuat <a href="https://arsitekta.com/baja-welded-beampilihan-terbaik-atau-solusi-terakhir/">baja <em>Welded Beam</em> </a>atau <em>King Cross,</em></li><li>Memudahkan penyitelan bagian-bagian komponen/rangka baja agar sesuai dengan bentuk yang kita harapkan atau <em>shop drawing,</em></li></ol>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="680" height="373" src="https://arsitekta.com/wp-content/uploads/2020/08/Gambar-baja-welded-beam.jpg" alt="Pengelasan penuh pada baja welded beam terlebih dahulu melalui pembuatan las titik" class="wp-image-2273" srcset="https://arsitekta.com/wp-content/uploads/2020/08/Gambar-baja-welded-beam.jpg 680w, https://arsitekta.com/wp-content/uploads/2020/08/Gambar-baja-welded-beam-300x165.jpg 300w" sizes="(max-width: 680px) 100vw, 680px" /><figcaption>Gambar profil baja welded beam</figcaption></figure></div>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Dari gambar ini dapat kita ketahui untuk membentuk sebuah profil <em>welded beam</em>, memerlukan beberapa las titik sehingga bagian-bagian bahan bisa menjadi satu. Jadi berdasarkan gambar ini, kita juga mengerti fungsi pelaksanaan pekerjaan ini ada 2 yaitu:</p>



<ol type="1"><li>Berguna untuk memasang <em>jig</em>,</li><li>Menyitel/membentuk bagian-bagian bahan.</li></ol>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Langkah-langkah membuat las titik</strong></h2>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Adapun poin yang perlu kita cacat, seperti telah kita jabarkan mengenai tujuan dan fungsi las titik. Ada beberapa tahap yang harus kita lakukan, agar kualitas pekerjaan ini baik yaitu: </p>



<h3 class="wp-block-heading">1.<strong>Mempersiapkan alat dan kelengkapan las</strong></h3>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Tahap ini terlebih dahulu kita harus tahu jenis alat/mesin yang akan kita gunakan, apakah las busur listrik atau pengelasan dengan gas. Anda akan mendapat penjelasan mengenai hai ini, silahkan anda baca <a href="https://arsitekta.com/metode-pengelasan-baja-konstruksi-yang-harus-di-ketahui/">Metode Pengelasan Baja Konstruksi</a>. Setelah itu kita dapat mempersiapkan kelengkapan lainnya, antara lain:</p>



<ol type="1"><li>Jenis elektroda (kawat las), sangat penting agar kita sesuaikan antara tebal baja dengan ukuran/spesifikasi kawat,</li><li>Bila alat yang kita gunakan adalah jenis busur listrik serta tebal baja <strong>(t)</strong> ≤ 7 milimeter, maka tebal minimal las adalah 3 milimeter. Dan elektroda yang kita persiapkan adalah jenis E 6013 dengan Ø3,2 milimeter,</li><li>Jika kita melakukan pengelasan dengan gas <em>(Gas Metal Arc Welding/GMAW)</em>, maka elekroda yang kita pergunakan adalah jenis kawat las polos (tanpa selaput), dengan Ø2 milimeter,</li></ol>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Selain persiapan tentang jenis alat dan elektroda, kita juga perlu melengkapi alat keselamatan dan kesehatan kerja (K3) las.</p>



<h3 class="wp-block-heading">2.<strong>Mengatur letak las terhadap baja</strong></h3>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Agar kita tahu maksud letak las adalah posisi las titik yang akan kita buat pada sebuah bahan. Posisi ini sangat penting kita tentukan agar penyatuan bahan dapat kita lakukan dengan sempurna. Yaitu dengan cara sedapat mungkin pengelasan kita lakukan pada posisi dibawah tangan <em>(downhand/flat position)</em>, atau posisi horizontal<em> (horizontal vertical position)</em>.</p>



<ol type="1"><li>Posisi las dibawah tangan<em>. </em>Yaitu menempatkan <em>jig</em> atau bagian-bagian baja dengan letak yang datar <em>(flat), </em>serta berada dibawah tangan orang yang melakukan pengelasan,</li><li>Posisi las horizontal. Adalah las titik yang berada pada sudut pertemuan antara <em>jig </em>atau bagian-bagian bahan, juga berada dibawah tangan orang yang melakukan pengelasan,</li></ol>



<h3 class="wp-block-heading">3.<strong>Ketentuan mengenai las titik yang benar</strong></h3>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Untuk mengantisipasi terjadinya retak serta pengerutan pada baja, ada beberapa syarat yang harus kita patuhi dalam membuat las titik, yaitu:</p>



<ol type="1"><li>Pekerjaan ini harus terlaksana oleh tukang yang berpengalaman,</li><li>Las titik tidak boleh kita buat secara berulang-ulang pada tempat yang sama, </li><li>Untuk jenis elektroda E 6013, kita menggunakan <em>voltage</em> listrik yang rendah. Dengan tujuan agar pengelasan tidak terlalu dalam,</li><li>Lakukan pengelasan dengan penembusan yang sedang, sehingga tidak merusak permukaan profil baja.</li></ol>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="526" height="473" src="https://arsitekta.com/wp-content/uploads/2020/09/Gambar-Pelaksanaan-Las-Titik.jpeg" alt="Proses pelaksanaan las titik pada bahan baja" class="wp-image-2431" srcset="https://arsitekta.com/wp-content/uploads/2020/09/Gambar-Pelaksanaan-Las-Titik.jpeg 526w, https://arsitekta.com/wp-content/uploads/2020/09/Gambar-Pelaksanaan-Las-Titik-300x270.jpeg 300w" sizes="(max-width: 526px) 100vw, 526px" /><figcaption>Gambar pelaksanaan las titik pada bahan baja</figcaption></figure></div>



<p class="has-vivid-red-color has-text-color has-normal-font-size"><strong><span style="text-decoration: underline;">Keterangan gambar:</span></strong></p>



<ol type="A"><li><strong>Las titik pada pertemuan sudut 90º, yaitu antara baja dengan jig atau dengan bagian-bagian bahan lain,</strong></li><li><strong>Cara melepaskan <em>jig</em> yang tidak benar,</strong></li><li><strong>Memotong <em>jig</em> dengan menggunakan blender,</strong></li><li><strong>Memotong dan menghaluskan permukaan baja dengan gerinda tangan,</strong></li></ol>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Tips membersihkan las titik</strong></h2>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Membersihkan las titik perlu kita lakukan apabila fungsi las tersebut adalah untuk pemasangan <em>jig</em>. Sementara bila berfungsi untuk menyitel/membentuk bagian-bagian bahan, maka sambungan tidak perlu kita buka kembali sebab akan tertimpa oleh pengelasan penuh.</p>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Seperti tertera pada gambar, cara yang benar melakukan pembersihan las titik pada <em>jig,</em> adalah seperti berikut:</p>



<ol type="1"><li>Lakukan pemotongan <em>jig</em> dengan blender potong atau menggunakan mesin gerinda tangan,</li><li>Beri jarak yang cukup bila kita <a href="https://arsitekta.com/memotong-baja-dengan-blender-panduan-paling-lengkap/">Memotong Baja Dengan Blender,</a> hal ini bertujuan agar permukaan baja tidak rusak akibat termakan nyala api,</li><li>Bersihkan dan haluskan permukaan baja dari sisa-sisa bahan yang masih menempel. Lebih jelas untuk anda dapat pelajari mengenai <a href="https://arsitekta.com/mesin-gerinda-panduan-penggunaan-alat-untuk-kerja-baja/">Panduan Penggunaan Mesin Gerinda</a> untuk kerja baja.</li></ol>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Kesimpulan</strong></h2>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size"><strong>Kita harapkan</strong> penerapan las titik pada pekerjaan konstruksi baja mendapat perhatian dari para engineer, pengawas atau pelaksana proyek. Sebab mutu baja yang kita sambung sebenarnya dapat terpengaruh oleh kualitas las titik yang kita buat.</p>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size"><strong>Apakah las titik</strong> kita lakukan untuk memasang <em>jig</em> atau menyatukan bagian-bagian bahan, ternyata 2 fungsi ini tidak dapat kita anggap remeh. Sebab ada resiko yang terlalu besar akan kita tanggung, yaitu pada saat mengerjakan profil-profil baja yang berukuran besar seperti IWF, H Beam, baja Kastela dan sebagainya.</p>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size"><strong>Dari tips-tips </strong>tersebut kita harapkan pekerjaan seperti ini bisa memiliki kualitas yang baik, yang dapat kita tandai melalui 3 indikasi, yaitu: 1]. Tidak ada terjadi kecelakaan kerja, 2]. Permukaan baja tidak rusak akibat sisa las atau nyala api blender, 3]. Bagian-bagian bahan yang kita satukan telah sesuai <em>shop drawing.</em></p>
<p>The post <a href="https://arsitekta.com/cara-membuat-las-titik-yang-benar-pada-proyek-baja/">Cara Membuat Las Titik Yang Benar Pada Proyek Baja</a> appeared first on <a href="https://arsitekta.com">Jasa Arsitektur dan Konstruksi Baja</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://arsitekta.com/cara-membuat-las-titik-yang-benar-pada-proyek-baja/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>1</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Metode Pengelasan Baja Konstruksi Yang Harus Diketahui</title>
		<link>https://arsitekta.com/metode-pengelasan-baja-konstruksi-yang-harus-di-ketahui/</link>
					<comments>https://arsitekta.com/metode-pengelasan-baja-konstruksi-yang-harus-di-ketahui/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[arsitekta]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 06 Sep 2020 18:04:22 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Konstruksi Baja]]></category>
		<category><![CDATA[Metode Kerja]]></category>
		<category><![CDATA[jenis las]]></category>
		<category><![CDATA[kualitas las]]></category>
		<category><![CDATA[pengelasan baja]]></category>
		<category><![CDATA[proyek baja]]></category>
		<category><![CDATA[Rangka Baja]]></category>
		<category><![CDATA[sambungan baja]]></category>
		<category><![CDATA[tujuan pengelasan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://arsitekta.com/metode-pengelasan-baja-konstruksi-yang-harus-di-ketahui/</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pengelasan baja yang kita maksud adalah khusus lingkup pekerjaan konstruksi yang menggunakan baja sebagai bahannya. Hal ini perlu kita batasi, agar kita dapat mengetahui secara spesifik apa tujuan pengelasan. Seperti telah kita ketahui, menyambung material adalah salah satu pekerjaan utama, yang harus ada pada saat kita membuat sebuah komponen/rangka baja. Serta menyambung baja dengan las, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://arsitekta.com/metode-pengelasan-baja-konstruksi-yang-harus-di-ketahui/">Metode Pengelasan Baja Konstruksi Yang Harus Diketahui</a> appeared first on <a href="https://arsitekta.com">Jasa Arsitektur dan Konstruksi Baja</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Pengelasan baja yang kita maksud adalah khusus lingkup pekerjaan konstruksi yang menggunakan baja sebagai bahannya. Hal ini perlu kita batasi, agar kita dapat mengetahui secara spesifik apa tujuan pengelasan. Seperti telah kita ketahui, menyambung material adalah salah satu pekerjaan utama, yang harus ada pada saat kita membuat sebuah komponen/rangka baja. Serta menyambung baja dengan <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Las">las</a>, adalah cara yang cukup familiar hingga saat ini selain sambungan baut.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Tujuan pengelasan baja</strong></h2>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Pekerjaan pengelasan baja merupakan salah satu proses pembuatan konstruksi baja, yang banyak kita temui saat fabrikasi, silahkan baca <a href="https://arsitekta.com/metode-kerja-fabrikasi-baja-u-konstruksi/">Metode Kerja Fabrikasi Baja.</a> Namun demikian, pekerjaan ini juga banyak kita temui sewaktu perakitan serta pemasangan komponen.</p>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Nah, dari deskripsi ini dapat kita jabarkan, ada 2 macam tujuan melakukan pengelasan pada material baja, yaitu:</p>



<h3 class="has-vivid-red-color has-text-color wp-block-heading">a.<strong>Pengelasan baja pada saat fabrikasi</strong></h3>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Beberapa tujuan pelaksanaan pengelasan pada saat proses fabrikasi baja adalah:</p>



<ol type="1"><li>Untuk menyatukan 2 bahan yang berbeda jenis hingga terbentuk sebuah komponen baja. Misalnya guna membuat sebuah tiang/kolom, kita harus  menyatukan pelat baja dengan profil IWF.</li><li>Menyatukan 2 bagian bahan yang sama jenis hingga terbentuk sebuah profil baja yang baru. Misalnya guna <a href="https://arsitekta.com/begini-cara-membuat-baja-kastela-yang-benar-dan-efisien/">Membuat Baja Kastela</a>, profil baja King Cross atau Welded beam.</li><li>Membuat <em>Jig</em> atau alat bantu kerja yang berfungsi menjepit bahan selama pengelasan berlangsung.</li></ol>



<h3 class="has-vivid-red-color has-text-color wp-block-heading">b.<strong>Pengelasan baja di lokasi proyek</strong></h3>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Adapun tujuan pengelasan yang kita lakukan pada lokasi proyek antara lain:</p>



<ol type="1"><li>Untuk menyatukan beberapa komponen baja hingga terbentuk kesatuan konstruksi. Misalnya untuk membuat rangka talang yang menggunakan bahan besi Siku, kita harus lakukan pengelasan dengan gording.</li><li>Menyatukan seluruh rangka batang baja agar membentuk sebuah rangka atap. Misalnya untuk membuat rangka atap kubah atau lengkung, yang terbuat dari bahan pipa besi,</li><li>Menghubungkan komponen baja dengan struktur beton/cor. Misalnya untuk memasang sebuah konsol baja pada kolom beton, maka dapat kita lakukan dengan cara pengelasan.</li></ol>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="505" height="287" src="https://arsitekta.com/wp-content/uploads/2020/08/Gambar-proses-petongan-dan-penggabungan-baja-kastela-1.jpg" alt="Prosedur pengelasan baja kastela yang benar" class="wp-image-2232" srcset="https://arsitekta.com/wp-content/uploads/2020/08/Gambar-proses-petongan-dan-penggabungan-baja-kastela-1.jpg 505w, https://arsitekta.com/wp-content/uploads/2020/08/Gambar-proses-petongan-dan-penggabungan-baja-kastela-1-300x170.jpg 300w" sizes="(max-width: 505px) 100vw, 505px" /><figcaption>Gambar proses penyatuan baja kastela dengan las</figcaption></figure></div>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Jenis-jenis pengelasan baja</strong></h2>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Hingga pada saat ini ada sekitar 35 jenis pengelasan seluruh dunia. Namun dari begitu banyak jenis sambungan las, yang paling populer untuk <a href="https://arsitekta.com/sistem-sambungan-baja-konstruksi-paling-familiar-saat-ini/">Sistem Sambungan Baja Konstruksi</a> hanya 2 jenis, yaitu:</p>



<h3 class="has-vivid-cyan-blue-color has-text-color wp-block-heading">1.<strong>Pengelasan dengan las busur listrik</strong></h3>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Atau dalam istilah asing <em>Shielded Metal Arc Welding (SMAW),</em> adalah sambungan las yang menggunakan busur nyala listrik sebagai sumber pencair baja. Adapun busur listrik terjadi, yaitu pada saat kawat las (elektroda) yang telah teraliri arus listrik positif, bersentuhan dengan material baja yang beraliran listrik negatif.</p>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Selanjutnya, panas dari busur listrik yang terbentuk antara baja dengan elektroda meyebabkan baja maupun ujung elektroda mencair, dan kemudian membeku (menjadi dingin) secara bersamaan. Demikian populernya jenis las ini, sehingga tidak hanya untuk keperluan konstruksi, sebab hampir semua kepentingan pengelasan, pemakaian las busur listrik banyak kita temui.&nbsp;</p>



<h3 class="has-vivid-cyan-blue-color has-text-color wp-block-heading">2.<strong>Pengelasan dengan gas</strong></h3>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Atau yang kita kenal dengan istilah <em>Gas Metal Arc Welding (GMAW)</em> atau <em>CO2 Welding.</em> Adalah pengelasan baja yang menggunakan sumber panas dari energi listrik yang berubah/konversi menjadi energi panas. Atau dapat kita sebut kombinasi busur listrik dengan gas kekal <em>(Inert).</em></p>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Adapun busur listrik kita pergunakan untuk mencairkan profil baja melalui adanya tambahan berupa kawat las polos (tanpa selaput elektroda), yang memiliki diameter 2-3 milimeter serta berbentuk gulungan. Sementara pelindung oksidasi antara baja dengan kawat tersebut, berasal dari gas pelindung yang berupa gas kekal atau CO2. Itu sebabnya jenis las ini juga terkenal dengan sebutan <em>CO2 welding.</em></p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Macam-macam Posisi pengelasan baja</strong></h2>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Berdasarkan 2 jenis pengelasan tersebut, bila kita tinjau kembali dari posisi pengelasan baja. Ada berbagai macam posisi yang dapat kita praktekan untuk melaksanakan sambungan las. Yaitu menurut ketentuan/standar ASME <em>(American Society of Mechanical engineers)</em> ada 7 jenis posisi pengelasan. Sementara menurut ISO <em>(International Organization for Standardization)</em>, praktek pengelasan dapat kita lakukan dengan 8 jenis posisi.</p>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Sengaja tidak kita jabarkan secara detail masing-masing posisi pengelasan baja tersebut, sebab implementasi sambungan las pada konstruksi baja, memperioritaskan 2 macam posisi pegelasan saja. Yang artinya sedapat mungkin posisi pengelasan jenis lain kita hindari, dengan tujuan agar menghasilkan mutu sambungan pengelasan yang baik.</p>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="871" height="258" src="https://arsitekta.com/wp-content/uploads/2020/09/Posisi-Pengelasan-baja.jpg" alt="Posisi yang paling baik untuk melaksanakan pengelasan baja" class="wp-image-2424" srcset="https://arsitekta.com/wp-content/uploads/2020/09/Posisi-Pengelasan-baja.jpg 871w, https://arsitekta.com/wp-content/uploads/2020/09/Posisi-Pengelasan-baja-300x89.jpg 300w, https://arsitekta.com/wp-content/uploads/2020/09/Posisi-Pengelasan-baja-768x227.jpg 768w" sizes="(max-width: 871px) 100vw, 871px" /><figcaption>Gambar posisi melakukan pengelasan pada baja</figcaption></figure></div>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Seperti tertera pada gambar, 2 macam posisi pengelasan baja tersebut adalah:</p>



<ol type="1"><li>Posisi las dibawah tangan <em>(downhand/flat position)</em>, atau dengan kode PA dan 1G</li><li>Posisi las horizontal<em> (horizontal vertical position)</em>, dengan kode PB dan 2F.</li></ol>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Faktor yang mempengaruhi mutu pegelasan baja</strong></h2>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Selain menentukan jenis serta posisi pengelasan pada baja, ternyata ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kualitas baja yang kita sambung. Hal ini menjadi perhatian kita, sebab menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam pelaksanaan las.</p>



<h3 class="has-vivid-red-color has-text-color wp-block-heading">1.<strong>Potensi terjadinya cacat pada pengelasan</strong></h3>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Terjadinya cacat atau kesalahan pada proses pengelasan baja secara umum terbagi 2 yaitu: 1]. Cacat las yang terlihat dengan mata, dan 2]. Cacat las yang tidak terlihat.</p>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Adapun potensi terjadinya cacat pada pengelasan baja, terjadi sebab adanya kelalaian kerja, antara lain:</p>



<ol type="1"><li>Persiapan pegelasan yang tidak baik. Yaitu melaksanakan sambungan pada bahan dengan peralatan yang tidak lengkap, terburu-buru serta tidak berdasarkan <em>shop drawing.</em></li><li>Tidak ada kontrol/pengawasan terhadap material baja yang telah tersambung dengan las, sehingga harus melakukan perbaikan. Perlu kita ketahui adanya perbaikan tersebut akan mengakibatkan kerusakan pada profil baja.</li><li>Penggunaan jenis elektroda yang tidak sesuai dengan alat las,</li><li>Tidak mengikuti prosedur pengelasan dengan benar.</li></ol>



<h3 class="has-vivid-red-color has-text-color wp-block-heading">2.<strong>Jenis-jenis cacat las</strong></h3>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Dari 3 macam kelalaian kerja tersebut, dapat kita pastikan akan terjadi cacat pada sambungan las bila kita melakukan salah satu kelalaian saja. Adapun jenis-jenis cacat pengelasan yang perlu kita ketahui, adalah seperti berikut:</p>



<ol type="1"><li>Peleburan tidak sempurna. Yaitu terjadi akibat bahan baja dan elektroda tidak melebur secara bersama-sama dan menyeluruh. Indikasinya adalah karena adanya kotoran, terak, oksida serta bahan lain yang menempel pada permukaan baja,</li><li>Penetrasi kampuh yang tak memadai. Adalah kondisi dimana kedalaman las lebih dari tinggi alur yang telah ditetapkan. Cacat las seperti ini dapat terjadi bila diameter elektroda terlalu besar, sementara daya listrik yang kita pakai terlalu kecil,</li><li>Porositas. Yaitu adanya rongga atau kantung-kantung gas yang kecil terperangkap selama proses pendinginan. Adapun cacat ini dapat terjadi sebab arus listrik yang terlalu tinggi atau busur nyala yang terlalu panjang,</li><li>Peleburan berlebih. Yaitu terjadinya alur pada permukaan material baja yang tidak terisi oleh las, yang terlihat menyerupai lembah. Cacat las ini terjadi sebab pemakaian arus yang terlalu tinggi, sementara ayunan elektroda terlalu pendek/lambat.</li><li>Kemasukan terak. Yaitu adanya elektroda yang mencair dan kemudian segera mendingin, mengakibatkan terak terjebak sebelum naik ke permukaan material baja.</li><li>Retak. Yakni keadaan pecah-pecah ada baja yang kita las, baik yang sejajar maupun yang melintang terhadap garis las.  Hal ini terjadi sebab adanya unsur-unsur getas yang terbentuk selama proses pengelasan.</li></ol>



<h3 class="has-vivid-red-color has-text-color wp-block-heading">3.<strong>Standar dan aturan pegelasan baja</strong></h3>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Berikut ini standar dan aturan pengelasan baja yang berlaku secara universal. Artinya baik pada sistem pegelasan busur listrik maupun las gas, dapat kita terapkan dalam satu standar, yaitu:</p>



<ol type="1"><li>Panjang minimum las tidak kurang dari 40 milimeter, atau 8-10 tebal las,</li><li>Bila harus terjadi panjang las yang lebih dari 40 milimeter, maka pengelasan kita lakukan dengan putus-putus,</li><li>Pada kasus las yang putus-putus, pada batang tarik jarak masing-masing bagian las yang terputus tidak lebih dari 16 <strong><em>t</em></strong> atau 30 cm. Sedangkan untuk batang tekan tidak lebih dari 24 <strong><em>t</em></strong> atau 30 cm. Adapun <strong><em>t</em></strong> yang kita maksud adalah tebal minimal profil baja yang kita las.</li><li>Tebal las sudut tidak melebihi 1/2<strong><em>t</em></strong>, misal untuk tebal baja 8 milimeter maka tebal las sudut maksimal adalah 4 milimeter,</li><li>Dalam hal penentuan standar tebal las berdasarkan tebal profil yang akan kita las, maka untuk t ≤ 7 milimeter tebal minimal las adalah 3 milimeter,</li><li>Untuk t =7 s/d 10 milimeter tebal minimal las adalah 4 milimeter, sementara t =10 s/d 15 milimeter tebal minimal las adalah 5 milimeter. Dan untuk t ≥15 milimeter tebal minimal las adalah 6 milimeter,</li><li>Gambar kerja <em>(shop drawing) </em>yang menunjukan tentang pelaksanaan las harus jelas, yaitu meliputi jenis alat las serta posisi pengelasan, jenis elektroda, panjang maupun bentuk sambungan las,</li></ol>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Peralatan keselamatan dan kesehatan dalam pengelasan</strong></h2>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Sesuai dengan standar mengenai <a href="https://prodiaohi.co.id/kesehatan-dan-keselamatan-kerja">keselamatan dan kesehatan kerja (K3),</a> dalam pengelasan baja baik sebagai juru/tukang las atau pembantu tukang, penting melakukan persiapan yang matang guna terhindar dari hal-hal yang tidak kita inginkan, utamanya untuk menghindari kecelakaan saat bekerja.</p>



<h3 class="has-vivid-purple-color has-text-color wp-block-heading">1.<strong>Jenis peralatan keselamatan kerja las</strong></h3>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Adapun persiapan yang harus kita lakukan terlebih dahulu adalah melengkapi segala macam alat keselamatan selama pengelasan baja berlangsung, antara lain:</p>



<ol type="1"><li>Seragam kerja las, yaitu terdiri dari baju lengan panjang serta celana panjang yang terbuat dari bahan kain katun,</li><li>Topi pet berbahan katun, yang dapat kita putar kebelakang untuk memudahkan pemasangan topeng las,</li><li>Topeng las, yaitu berfungsi untuk melindungi mata dan wajah dari radiasi nyala busur las maupun dari percikan nyala las,</li><li>Apron, yaitu berguna untuk melindungi tubuh selama proses pengelasan,</li><li>Sarung tangan yang terbuat dari kulit,</li><li>Sepatu kerja <em>(safty).</em></li></ol>



<h3 class="has-vivid-purple-color has-text-color wp-block-heading">2.<strong>Kesehatan dalam pelaksanaan pengelasan</strong></h3>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Selama pelaksanaan pengelasan baja, yang harus kita perioritaskan adalah keselamatan mata, paru-paru serta kulit. Maka untuk semua hal-hal yang perlu kita persiapkan agar kesehatan tetap prima, kita lakukan terlebih dahulu sebelum pekerjaan pengelasan mulai.</p>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Adapun resiko terhadap kesehatan akibat pengelasan baja, dapat kita jabarkan berikut ini:</p>



<ol type="1"><li>Mata perlu kita lingdungi dari radisi busur nyala listrik, sehingga tidak merusak selaput luar mata dan mengakibatkan mata kering. Sebab jika kita biarkan dan berlanjut untuk jangka waktu tertentu, maka mata dapat menjadi buta.</li><li>Paru-paru kita jaga agar tetap bersih, sebab pengelasan baja menghasilkan berbagai macam gas. Yang jika kita hirup pada jangka waktu yang lama, akan berakibat pada kesehatan paru-paru serta dapat meracuni darah.</li><li>Kulit sangat rentan terhadap panas dan radiasi ultra ungu, serta dapat mengakibatkan kulit terbakar.</li></ol>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Penutup</strong></h2>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Seperti telah kita sebutkan, walau ada berbagai jenis alat las serta posisi pengelasan, namun penting untuk menentukan metode mana yang akan kita terapkan. Hal ini berkaitan dengan persiapan alat, tenaga kerja, mutu pengelasan serta perlengkapan alat keselamatan serta kesehatan kerja.</p>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Sebab mustahil dapat kita kuasai serta terapkan semua jenis las, demikian juga mengenai posisi pengelasan. Sehingga untuk menjaga kualitas pekerjaan tetap baik, kita harus tetapkan cukup dengan 2 jenis pengelasan, yaitu las busur listrik dan pengelasan dengan gas. Juga cukup dengan menerapkan 2 posisi pengelasan, yakni posisi las bawah tangan (PA/1G) dan posisi las horizontal (PB/2F).Cukup simple, praktis namun sangat efektif.</p>
<p>The post <a href="https://arsitekta.com/metode-pengelasan-baja-konstruksi-yang-harus-di-ketahui/">Metode Pengelasan Baja Konstruksi Yang Harus Diketahui</a> appeared first on <a href="https://arsitekta.com">Jasa Arsitektur dan Konstruksi Baja</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://arsitekta.com/metode-pengelasan-baja-konstruksi-yang-harus-di-ketahui/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>4</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Sistem Sambungan Baja Konstruksi Paling Familiar Saat Ini</title>
		<link>https://arsitekta.com/sistem-sambungan-baja-konstruksi-paling-familiar-saat-ini/</link>
					<comments>https://arsitekta.com/sistem-sambungan-baja-konstruksi-paling-familiar-saat-ini/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[arsitekta]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 06 Sep 2020 17:00:06 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Konstruksi Baja]]></category>
		<category><![CDATA[Metode Kerja]]></category>
		<category><![CDATA[baja profil]]></category>
		<category><![CDATA[baut baja]]></category>
		<category><![CDATA[material baja]]></category>
		<category><![CDATA[pengelasan baja]]></category>
		<category><![CDATA[Rangka Baja]]></category>
		<category><![CDATA[sambungan baja]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://arsitekta.com/sistem-sambungan-baja-konstruksi-paling-familiar-saat-ini/</guid>

					<description><![CDATA[<p>Baja konstruksi artinya satu struktur bangunan yang terbuat dari beberapa jenis bahan baja. Adalah yang harus kita pahami lebih dahulu, pada konstruksi baja terdapat 2 macam pekerjaan utama yang harus kita laksanakan, yaitu: 1].Memotong, 2].Menyambung. Dimana 2 macam item ini saling terkait satu sama lain, sehingga sangat penting juga kita kuasai agar proses pekerjaan berjalan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://arsitekta.com/sistem-sambungan-baja-konstruksi-paling-familiar-saat-ini/">Sistem Sambungan Baja Konstruksi Paling Familiar Saat Ini</a> appeared first on <a href="https://arsitekta.com">Jasa Arsitektur dan Konstruksi Baja</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Baja konstruksi artinya satu struktur bangunan yang terbuat dari beberapa jenis bahan baja. Adalah yang harus kita pahami lebih dahulu, pada konstruksi baja terdapat 2 macam pekerjaan utama yang harus kita laksanakan, yaitu: 1].Memotong, 2].Menyambung. Dimana 2 macam item ini saling terkait satu sama lain, sehingga sangat penting juga kita kuasai agar proses pekerjaan berjalan lancar serta berkualitas. Nah, pada artikel kita mendalami tentang pelaksanaan sambungan baja. Sementara tentang pekerjaan <a href="https://arsitekta.com/memotong-baja-dengan-blender-panduan-paling-lengkap/">Memotong Baja dengan Blender</a>, anda dapat pelajari dari <em>link</em> tersebut.</p>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Halnya dengan material baja yang memiliki ukuran panjang sangat terbatas, misalnya untuk profil IWF, H Beam dan Besi beton tersedia panjang 12 meter. Sementara jenis-jenis profil lain hanya memiliki panjang 6 meter saja. Demikian juga pelat baja lembaran, tersedia ukuran 122&#215;244 centimeter, atau 4”x8”. Padahal agar dapat kita gunakan sebagai bahan konstruksi, pelat-pelat tersebut harus kita potong terlebih dahulu sesuai ukuran yang kita butuhkan. Nah, agar potongan pelat ini menjadi satu komponen dengan baja profil, kita implementasikan melalui sebuah sambungan baja.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Pengertian sambungan baja</strong></h2>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Sambungan baja berarti hasil dari penyatuan 2 bagian atau lebih bahan baja, yang terdiri dari jenis yang sama atau berbeda jenis, serta bisa memiliki ukuran/bentuk yang sama bisa juga atau tidak. Adapun tujuan sambungan kita lakukan adalah untuk membuat sebuah bentuk komponen/rangka baja.</p>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Pada pelaksanaan sambungan baja dapat kita terapkan melalui metode tertentu, dimana penentuan metode tersebut tergantung bentuk komponen/rangka baja yang akan kita satukan. Misalnya untuk membuat komponen balok IWF, tentu sistem pelaksanaannya berbeda dengan membuat sebuah kuda-kuda cremona.</p>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Dari sini perlu kita ketahui, ternyata tidak mudah menghubungkan bagian bahan satu dengan yang lain, agar bisa membentuk sebuah rangka konstruksi. Sebab ada risiko yang harus kita tanggung bila terjadi hal-hal yang tidak kita duga, misalnya baja yang kita sambung ternyata retak, lepas atau patah. Dengan demikian, penyatuan bahan harus oleh tukang yang berpengalaman, serta harus melalui perhitungan struktur yang tepat.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Tujuan menyambung material baja</strong></h2>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Pada lingkup pekerjaan konstruksi baja yang berskala kecil maupun besar, kita selalu melaksanakan sambungan pada bahan baja dengan tujuan seperti berikut ini:</p>



<ol type="1"><li>Agar bahan yang kita gunakan efisien, artinya material baja sedapat mungkin kita pergunakan seluruhnya tanpa harus ada yang terbuang/sisa,</li><li>Untuk menggabungkan beberapa bagian/batang baja sehingga terbentuk kesatuan konstruksi yang sesuai dengan <em>shop drawing,</em></li><li>Guna mendapatkan ukuran profil baja yang sesuai dengan <em>shop drawing</em>, yaitu meliputi panjang, lebar, tebal serta tinggi penampang profil,</li><li>Agar memudahkan kita melakukan pemasangan/perakitan rangka konstruksi,</li><li>Untuk memudahkan penggantian bahan, yaitu bila satu bagian bahan mengalami kerusakan atau karena adanya perobahan rencana pada struktur kemudian hari,</li><li>Memberikan ruang gerak pada konstruksi atas terjadinya lendutan, sehingga struktur tidak roboh,</li><li>Guna mendapatkan satu kekuatan struktur yang kokoh.</li></ol>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Jenis-jenis sambungan pada baja </strong></h2>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Secara umum pada bidang industri dan permesinan kita mengenal berbagai macam sambungan baja. Tetapi berdasarkan sifat-sifat bahan yang akan kita satukan, terdapat 2 jenis sambungan, antara lain:</p>



<h3 class="wp-block-heading">1.<strong>Sambungan tetap</strong></h3>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Atau penyatuan statis, adalah proses menghubungkan baja satu dengan yang lain secara permanen atau tetap. Artinya ketika sambungan telah selesai, kita tidak dapat rubah atau lepaskan, kecuali dengan cara merusak komponen/rangka. Contoh sambungan seperti ini adalah dengan menggunakan las, patri, paku keling dan rivet.</p>



<h3 class="wp-block-heading">2.<strong>Sambungan tidak tetap</strong></h3>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Atau penyatuan dinamis, adalah menghubungkan beberapa komponen atau rangka baja yang sewaktu-waktu dapat kita robah atau lepaskan kembali. Hal ini memungkinkan, misalnya untuk kepentingan renovasi. Yang mana masing-masing komponen/rangka tetap utuh, sebab sambungan baja dapat kita buka tanpa merusak bahan sedikit pun. Contohnya adalah sambungan dengan memakai baut, skrup <em>(screw drilling) </em>serta sambungan pasak untuk konstruksi kayu.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Macam-macam sistem sambungan konstruksi baja</strong></h2>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Penjelasan sebelumnya kita telah mengenal berbagai macam sambungan, namun pada pekerjaan konstruksi baja tidak semua dapat kita terapkan. Sebab ada faktor-faktor yang harus kita pertimbangkan sebelum melakukan sambungan pada baja. Misalnya faktor kekuatan struktur, efisiensi bahan, efektivitas pelaksanaan serta bentuk komponen/rangka yang akan kita buat.</p>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Ada banyak metode pelaksanaan sambungan baja, namun yang terbaik untuk konstruksi baja terdiri dari 2 jenis, yaitu:1.</p>



<h3 class="wp-block-heading">1.<strong>Sistem Sambungan baja dengan las</strong></h3>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Atau pengelasan baja adalah suatu proses penyambungan material baja yang terlebih dahulu kita panaskan hingga mencapai titik lebur yang sama. Kemudian kita padukan bersama-sama dengan bahan pengisi <em>(Filler),</em> dimana umumnya bahan pengisi dari material yang sama akan meleleh secara bersama dengan material baja yang akan kita sambung.</p>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Juga dapat kita definisikan sebagai ikatan metalurgi yang timbul karena adanya gaya tarik menarik antara <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Atom">atom</a>. Adapun hal ini terjadi akibat panas dengan atau tanpa pengaruh tekanan. Adapun panduan serta teknis pelaksanaan sambungan baja, akan kita bahas pada artikel-artikel berikutnya. </p>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="640" height="427" src="https://arsitekta.com/wp-content/uploads/2020/09/Pengelasan-baja.jpeg" alt="Pelaksanaan sambungan baja dengan menggunakan alat las" class="wp-image-2421" srcset="https://arsitekta.com/wp-content/uploads/2020/09/Pengelasan-baja.jpeg 640w, https://arsitekta.com/wp-content/uploads/2020/09/Pengelasan-baja-300x200.jpeg 300w" sizes="(max-width: 640px) 100vw, 640px" /><figcaption>Gambar menyambung baja dengan las</figcaption></figure></div>



<h3 class="wp-block-heading">2.<strong>Sistem sambungan baja menggunakan baut</strong></h3>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Baut benda alat sambung baja dengan bentuk batang yang bulat dan memiliki ulir. Dimana salah satu ujungnya yang kita kenal dengan nama kepala baut, memiliki bentuk segi enam. Serta pada ujung yang lain terpasang elemen baut, yaitu terdiri dari ring dan mur. Jadi boleh kita simpulkan, bahwa penggunaan baut yang benar pada pekerjaan konstruksi baja harus beserta ring dan mur.</p>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Tambah lagi, spesifikasi ulir yang baik pada batang baut adalah berbentuk segi tiga, yaitu jenis ulir UNC <em>(Unified Coarse Thread)</em> yang berfungsi sebagai pengikat antara bahan baja. Sementara pemilihan ring dan mur, perlu kita sesuaikan dengan jenis baut. Misalnya bila baut yang kita pakai adalah jenis baut baja, maka mur serta ring juga kita pilih dari jenis tersebut.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Kelebihan dan kekurangan sambungan las</strong></h2>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Sesungguhnya walau kita telah akui, sambungan baja yang paling familiar saat ini adalah las dan baut. Namun 2 jenis sambungan ini juga memiliki kelebihan serta kekurangan.</p>



<h3 class="wp-block-heading">1.<strong>Kelebihan sambungan las</strong></h3>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Alasan beberapa orang memilih sambungan baja menggunakan las, karena memiliki banyak kelebihan. Tetapi perlu kita ketahui dengan adanya kelebihan-kelebihan seperti ini, pelaksanaan pengelasan baja konstruksi tetap harus kita lakukan mengikuti teknik/prosedur. Berikut ini adalah kelebihan penyatuan baja dengan sistem las:   </p>



<ol type="1"><li>Pertemuan bahan baja pada titik sambung dapat melumer bersama elektroda las, yang menyatu secara bersama-sama sehingga baja menjadi lebih kokoh,</li><li>Permukaan profil baja yang kita sambung lebih bersih, walau ada sedikit tonjolan bekas pengelasan namun tonjolan tersebut memiliki pola yang rapi,</li><li>Akibat adanya sambungan las beban pada konstruksi tidak bertambah banyak, yakni berkisar 1 s/d 1,5% dari berat konstruksi,</li><li>Luas penampang profil tetap utuh seperti semula sebab tidak terjadi lubang, sehingga dari segi kekuatan tetap terjamin,</li><li>Sambungan las menjadi pilihan terbaik untuk kita terapkan pada rangka baja yang berbentuk khusus, misalnya konstruksi atap kubah atau lengkung.</li><li>Proses pengerjaan lebih praktis dan cepat karena bisa kita lakukan pada workshop maupun proyek.</li></ol>



<h3 class="wp-block-heading">2.<strong>Kekurangan sambungan las</strong></h3>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Dari segi kekurangan, sambungan baja yang menggunakan las, tentu tidak kita harapkan sampai berdampak pada kualitas pekerjaan. Tetapi kita jadikan sebagai antisipasi pada setiap detail pelaksanaan. Perhatikan berikut ini beberapa kekurangan sistem sambungan las pada baja:</p>



<ol type="1"><li>Kekuatan sambungan las tergantung oleh kualitas pengelasan baja, artinya bila pengelasan kita lakukan dengan metode/teknik yang baik maka hasilnya juga akan baik, demikian juga sebaliknya.</li><li>Kesalahan sedikit saja sewaktu pelaksanaan sambungan dapat berakibat fatal. Antaranya jika terjadi cacat las, maka dapat kita pastikan cacat las tersebut menjadi titik lemah konstruksi,</li><li>Untuk kasus tertentu kita perlu menghaluskan permukaan baja yang tidak rata akibat adanya tonjolan pegelasan. Silahkan baca <a href="https://arsitekta.com/mesin-gerinda-panduan-penggunaan-alat-untuk-kerja-baja/">Panduan Penggunaan Alat Mesin Gerinda</a> untuk kerja baja.</li><li>Biaya pegelasan baja sering tidak muncul secara spesifik pada BoQ atau dalam penawaran harga, padahal untuk anggaran pelaksanaan sambungan las cukup tinggi.</li><li>Komponen/rangka menjadi bersifat tetap atau statis,</li></ol>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Kelebihan dan kekurangan sambungan baut</strong></h2>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Selanjutnya sistem sambungan yang kedua, paling banyak kita temui pada konstruksi jembatan, bangunan pabrik, gudang, tower listrik, pemancar dan masih banyak lagi. Sama halnya dengan las, sambungan yang menggunakan baut juga memiliki kelebihan maupun kekurangan. &nbsp;</p>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="715" height="420" src="https://arsitekta.com/wp-content/uploads/2020/06/Gbr_1-samb.mur-baut.jpg" alt="Cara pelaksanaan sambungan baja dengan menggunakan baut" class="wp-image-1730" srcset="https://arsitekta.com/wp-content/uploads/2020/06/Gbr_1-samb.mur-baut.jpg 715w, https://arsitekta.com/wp-content/uploads/2020/06/Gbr_1-samb.mur-baut-300x176.jpg 300w" sizes="(max-width: 715px) 100vw, 715px" /><figcaption>Gambar menyambung baja dengan baut</figcaption></figure></div>



<h3 class="wp-block-heading">1.<strong>Kelebihan sambungan baut</strong></h3>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Guna mengetahui bagaimana kelebihan sambungan baut pada sebuah konstruksi, perhatikan gambar tersebut. Hal ini sekaligus memberi kita gambaran betapa besar peran baut pada sebuah sambungan.</p>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Adapun jenis-jenis kelebihan sambungan baut adalah sebagai berikut:</p>



<ol type="1"><li>Memudahkan kita untuk melakukan pengiriman bahan ke lokasi proyek, sebab setiap bagian komponen/rangka baja masih terpisah satu dengan yang lain,</li><li>Proses perakitan serta pemasangan konstruksi lebih cepat dan mudah,</li><li>Dapat kita terapkan untuk konstruksi yang memiliki bentang lebar serta pada bangunan bertingkat,</li><li>Hasil sambungan cukup rapi, serta tidak perlu menghaluskan permukaan baja yang telah kita sambung,</li><li>Konstruksi mudah kita lepas atau bongkar sebab seluruh bagian komponen/rangka baja terikat dengan baut,</li><li>Sebagian besar biaya pengadaan dan pemasangan baut telah masuk dalam BoQ atau penawaran harga.</li></ol>



<h3 class="wp-block-heading">2.<strong>Kekurangan sambungan baut</strong></h3>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Masih berdasarkan gambar, adanya memungkinkan konstruksi tidak kokoh yaitu bila pemasangan baut tidak kita laksanakan dengan benar. Adapun potensi resiko tersebut sebenarnya dapat kita antisipasi, jikalau telah mengetahui beberapa kekurangan sistem sambungan ini, yaitu:</p>



<ol type="1"><li>Lubang baut yang terlalu kecil/besar akan berdampak rangka baja tidak terpasang dengan sempurna,</li><li>Pembuatan beberapa lubang baut pada permukaan baja dapat mengurangi kekuatan bahan,</li><li>Perlu perawatan secara berkala terhadap potensi kerusakan baut serta adanya baut yang longgar atau lepas,</li><li>Proses pengerasan 1 buah baut yang tidak sempurna, dapat berakibat pada kekuatan struktur secara keseluruhan,</li><li>Terjadi penambahan beban pada konstruksi, yakni akibat adanya berat beberapa buah baut yang terpusat pada satu titik sambung.</li></ol>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Penutup</strong></h2>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Kita tidak perlu harus melaksanakan berbagai macam metode sambungan untuk sebuah konstruksi baja. Sebab cukup dengan mengimplementasikan jenis sambungan las dan baut, bila kita laksanakan dengan cara yang benar maka komponen/rangka baja terjamin berkualitas, efisien serta efektif.</p>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Kita dapat buktikan beberapa dekade belakangan ini, ada banyak konstruksi baja yang hanya menggunakan las dan baut sebagai alat sambung. Dengan alasan tersebut dapat kita simpulkan 2 sistem sambungan inilah yang paling familiar hingga saat ini.</p>
<p>The post <a href="https://arsitekta.com/sistem-sambungan-baja-konstruksi-paling-familiar-saat-ini/">Sistem Sambungan Baja Konstruksi Paling Familiar Saat Ini</a> appeared first on <a href="https://arsitekta.com">Jasa Arsitektur dan Konstruksi Baja</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://arsitekta.com/sistem-sambungan-baja-konstruksi-paling-familiar-saat-ini/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
