<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>rap proyek Archives - Jasa Arsitektur dan Konstruksi Baja</title>
	<atom:link href="https://arsitekta.com/tag/rap-proyek/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://arsitekta.com/tag/rap-proyek/</link>
	<description>Arsitekta Layanan Terbaik Untuk Konstruksi Baja dan Desain Bangunan</description>
	<lastBuildDate>Sun, 20 Sep 2020 00:09:48 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.5.5</generator>

<image>
	<url>https://arsitekta.com/wp-content/uploads/2020/06/Icon-CS-Arsitekta-150x150.jpg</url>
	<title>rap proyek Archives - Jasa Arsitektur dan Konstruksi Baja</title>
	<link>https://arsitekta.com/tag/rap-proyek/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Cara Menghitung Kebutuhan Kawat Las Konstruksi Gudang</title>
		<link>https://arsitekta.com/cara-menghitung-kebutuhan-kawat-las-konstruksi-gudang/</link>
					<comments>https://arsitekta.com/cara-menghitung-kebutuhan-kawat-las-konstruksi-gudang/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[arsitekta]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 20 Sep 2020 00:09:48 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Konstruksi Baja]]></category>
		<category><![CDATA[Tutorial]]></category>
		<category><![CDATA[kebutuhan kawat las]]></category>
		<category><![CDATA[pengelasan baja]]></category>
		<category><![CDATA[proyek konstruksi]]></category>
		<category><![CDATA[Rangka Baja]]></category>
		<category><![CDATA[rap baja]]></category>
		<category><![CDATA[rap proyek]]></category>
		<category><![CDATA[sambungan baja]]></category>
		<category><![CDATA[tonase baja]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://arsitekta.com/cara-menghitung-kebutuhan-kawat-las-konstruksi-gudang/</guid>

					<description><![CDATA[<p>Banyak bangunan gudang yang terbuat dari material baja ada di lingkungan kita, yaitu dari yang berukuran terkecil sampai yang terbesar. Setiap konstruksi gudang tersebut jelas melalui tahap pengelasan dengan jumlah kebutuhan kawat las tertentu. Jadi kita tak dapat pungkiri peran material bantu ini pada sebuah konstruksi sangat menentukan dan belum dapat tergantikan. Sebab peran kawat [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://arsitekta.com/cara-menghitung-kebutuhan-kawat-las-konstruksi-gudang/">Cara Menghitung Kebutuhan Kawat Las Konstruksi Gudang</a> appeared first on <a href="https://arsitekta.com">Jasa Arsitektur dan Konstruksi Baja</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="has-drop-cap has-text-align-justify has-normal-font-size">Banyak bangunan gudang yang terbuat dari material baja ada di lingkungan kita, yaitu dari yang berukuran terkecil sampai yang terbesar. Setiap konstruksi gudang tersebut jelas melalui tahap pengelasan dengan jumlah kebutuhan kawat las tertentu. Jadi kita tak dapat pungkiri peran material bantu ini pada sebuah konstruksi sangat menentukan dan belum dapat tergantikan.</p>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Sebab peran kawat las (elektroda) menentukan kualitas serta usia pakai sebuah konstruksi. Hal ini dapat kita buktikan sampai saat ini kita belum pernah terdengar ada bangunan roboh karena terdapat cacat las, dan kita harapkan takkan pernah terjadi selamanya.</p>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Kami sebut pula peran kawat las belum tergantikan dalam proyek konstruksi baja, sebab sejak ratusan tahun lalu metode penyambungan baja menerapkan 2 pilihan, yaitu sambungan las atau baut. Adapun dalam sistem pengelasan baja yang terus mengalami inovasi adalah pada mesin/peralatan, namun kawat las yang kita butuhkan tetap sama sampai hari ini, yaitu jenis kawat las berselaput maupun polos (tanpa selaput).</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Tujuan menghitung kawat las</strong></h2>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Nah begitu pentingnya peran kawat las pada pembuatan sebuah konstruksi baja, disini kita akan menghitung secara detail berapa tonase kawat, yang kita butuhkan dalam pembuatan sebuah konstruksi gudang.</p>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Persepsi sebagian tema-teman mungkin tidak anggap ini terlalu penting, karena persentase kebutuhan kawat las pada sebuah gudang tidak besar. Tetapi <em>mindset</em> kami tidak membedakan besar atau kecil kebutuhannya, tetapi semua harus terbukti melalui perhitungan. Termasuk perhitungan yang akan kita lakukan ini, adalah bertujuan untuk:</p>



<ol type="1"><li>Memahami metode perhitungan yang tepat, cepat serta akurat</li><li>Mengetahui jumlah nyata kawat las untuk sebuah konstruksi gudang</li><li>Memperoleh persentase kawat las berdasarkan tonase baja konstruksi gudang </li><li>Data bahan untuk <a href="https://arsitekta.com/cara-membuat-rap-proyek-baja-pada-tahun-ini/">Membuat RAP (Rencana Anggaran Pelaksanaan) Proyek Baja</a></li><li>Melakukan kendali atas biaya yang harus kita alokasikan untuk pembelian kawat las.</li></ol>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Jenis Kawat las yang akan dihitung</strong></h2>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Nah dari 5 tujuan perhitungan tersebut, nomor 1 dan 2 bagi teman-teman yang telah terbiasa melakukan perhitungan dengan asumsi, mungkin mudah mengetahui kisaran jumlah kawat las yang kita butuhkan. Namun bagaimana bila tujuannya adalah untuk &nbsp;nomor 3 s/d 5?, bukankah harus kita lakukan dengan perhitungan yang matang?.</p>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Adapun tahap awal harus kita pastikan sebelum menghitung kebutuhan kawat las adalah jenis mesin. Seperti telah dijelaskan kepada kita melalui artikel tentang <a href="https://arsitekta.com/metode-pengelasan-baja-konstruksi-yang-harus-di-ketahui/">Metode Pengelasan Baja Konstruksi</a>, salah satu jenis alat sambung paling populer saat ini adalah mengelas dengan <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Las_listrik">las busur listrik (<em>Shielded Metal Arc Welding/SMAW).</em></a></p>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="518" height="497" src="https://arsitekta.com/wp-content/uploads/2020/09/Gambar-1_Kelengkapan-alat-las-busur-listrik.jpg" alt="Memahami jenis alat penting sebelum menghitung kebutuhan kawat las" class="wp-image-2438" srcset="https://arsitekta.com/wp-content/uploads/2020/09/Gambar-1_Kelengkapan-alat-las-busur-listrik.jpg 518w, https://arsitekta.com/wp-content/uploads/2020/09/Gambar-1_Kelengkapan-alat-las-busur-listrik-300x288.jpg 300w" sizes="(max-width: 518px) 100vw, 518px" /><figcaption>Gambar 1: Alat las busur listrik (SMAW)</figcaption></figure></div>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Dengan demikian jika jenis alat las yang kita pergunakan ternyata SMAW, selanjutnya dapat diketahui bahwa spesifikasi kawat las yang kita pakai adalah jenis elektroda berselaput. Serta untuk mengelas baja karbon rendah tentu menggunakan jenis/kode elektroda E 6013. <em>Silahkan perhatikan gambar 1.</em></p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Contoh perhitungan kawat las konstruksi gudang</strong></h2>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Disini kita akan hitung berapa jumlah kawat las yang harus kita sediakan untuk pengerjaan sebuah gudang, yang berukuran 48&#215;48 meter. Adapun total <a href="https://arsitekta.com/menghitung-tonase-baja-konstruksi-gudang/">Tonase Baja Pada Konstruksi Gudang</a> ini sebenarnya telah kita hitung yaitu sebesar 29.362,39 Kg, serta kini kita jadikan acuan untuk menghitung kebutuhan elektroda.</p>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Tentu ada tujuan kita menetapkan gudang tersebut sebagai acuan untuk perhitungan kawat las, antara lain untuk memudahkan anda memahami cara menghitung konstruksi baja secara keseluruhan. Artinya perlu kita buat kesinambungan antara menghitung tonase baja dan elektroda, sebab dua material ini memang sama-sama kita butuhkan dalam pembangunan sebuah gudang.</p>



<h3 class="wp-block-heading">1.<strong>Macam-macam bahan yang disambung las</strong></h3>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Ada beberapa jenis bahan baja yang harus kita lakukan pengelasan pada konstruksi gudang tersebut, adalah:</p>



<ol type="1"><li>Pelat sambung baja tebal (t)=6; 8 dan 10 mm</li><li>Besi beton Ø12 mm, yaitu bahan untuk ruji-ruji regel</li><li>Couph/sumpil CT-WF 200x100x5,5&#215;8 mm; CT=Cut; artinya dibelah secara miring/serong</li><li>Sumpil CT-WF 150x75x5x7 mm</li><li>Baja profil siku L 50x50x5 mm, yang berguna sebagai dudukan regel</li><li>Serta siku L 40x40x4 mm, yaitu untuk rangka talang</li></ol>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Adapun total tonase 6 jenis bahan ini adalah sebesar 3.383,67 Kg, yang mana nantinya akan kita jadikan pedoman untuk mencari berapa persentase kawat las.</p>



<h3 class="wp-block-heading">2.<strong>Menentukan diameter kawat las berselaput</strong></h3>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Masih berdasarkan 6 jenis material tersebut, dapat kita ketahui bahwa tebal bahan yang akan kita las adalah (t)= 4 s/d 12 mm. Sehingga sebagai dasar melakukan perhitungan dapat kita pahami beberapa hal, antara lain:</p>



<ol type="1"><li>Untuk bahan t= 8 s/d 12 mm, sesuai ketentuan tebal las (T) adalah 4 mm</li><li>Sementara untuk bahan t˂ 8 mm, tebal las (T)= 3 mm</li></ol>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter size-large"><img decoding="async" width="463" height="424" src="https://arsitekta.com/wp-content/uploads/2020/09/Gambar-2_Typical-pengelasan-dan-penampang-kawat-las.jpg" alt="Gambar berikut sebagai pedoman untuk melakukan perhitungan kebutuhan kawat las" class="wp-image-2451" srcset="https://arsitekta.com/wp-content/uploads/2020/09/Gambar-2_Typical-pengelasan-dan-penampang-kawat-las.jpg 463w, https://arsitekta.com/wp-content/uploads/2020/09/Gambar-2_Typical-pengelasan-dan-penampang-kawat-las-300x275.jpg 300w" sizes="(max-width: 463px) 100vw, 463px" /><figcaption>Gambar 2: Typical pengelasan dan Penampang las</figcaption></figure></div>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Cara menghitung volume (V) kawat untuk pengelasan T=4 mm</strong></h2>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Agar memudahkan perhitungan perlu kita kelompokan, bahwa ada 3 jenis bahan yang akan kita las dengan ketebalan 4 mm, yaitu: 1]. Pelat baja t=10 mm, 2]. Pelat baja t=8, dan 3]. Besi beton Ø12 mm. Serta berkaitan dengan ukuran, baik panjang atau lebar bahan tetap mengacu pada tabel perhitungan <em>“Tonase Baja Pada Konstruksi Gudang”.</em> Silahkan anda buka<em> link</em> artikel tersebut. </p>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Kemudian perhitungan volume kawat las kita lakukan sesuai keterangan pada gambar 2, yaitu dengan langkah-langkah sebagai berikut:</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>I.Menghitung panjang (L) las pada pelat baja t=10 mm</strong></h3>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Pada konstruksi gudang ini, panjang pengelasan pelat baja dengan ketebalan (t)=10 mm, dapat kita hitung masing-masing berdasarkan kegunaan bahan:</p>



<ol type="1"><li>Sebagai pelat landasan <em>(base plate) </em>pada tiang kolom WF 250x125x6x9; kita ketahui panjang las = ((0,25&#215;2)+(0,125&#215;4)) x 9 buah kolom = 9,0 meter</li><li>Pelat landasan pada tiang kolom WF 200x100x5,5&#215;8; maka panjang las adalah = ((0,20&#215;2)+(0,10&#215;4)) x 19 buah kolom = 14,4 meter</li><li>Pelat lekat kuda-kuda WF 200x100x5,5&#215;8, panjang las kita hitung = ((0,20x2x2)+(0,10&#215;6)) x 72 buah = 100,8 meter</li></ol>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Jadi bila kita total panjang (L) keseluruhan pengelasan pada pelat baja t=10 mm adalah:</p>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">9,0+14,4+100,8 meter = 124,2 meter.</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>II.Menghitung panjang (L) las pada baja t=8 mm</strong></h3>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Sementara untuk pengelasan terhadap bahan yang memiliki tebal (t)= 8 mm, adalah terdiri dari:</p>



<ol type="1"><li>Bahan couph/sumpil CT-WF 200x100x5,5&#215;8 mm = (2,5&#215;0,2&#215;2) x 36 buah = 36,0 meter</li><li>Pelat lekat konsol WF 150x75x5x7, dengan panjang las = ((0,15x2x2)+(0,075&#215;6)) x 18 buah = 18,9 meter</li><li>Sepatu ikatan angin (clead plate) = (0,05&#215;2) x 80 bh = 8,0 meter</li></ol>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Lalu kita jumlahkan seluruh pengelasan pada bahan t=8 mm, maka panjangnya (L) adalah: 36,0+18,9+8,0 meter = 63,9 meter. Adapun dasar perhitungan dapat anda perhatikan pada gambar 3, berikut ini.</p>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter size-large"><img decoding="async" width="150" height="150" src="https://arsitekta.com/wp-content/uploads/2020/09/Gambar-3_Contoh-menghitung-kawat-las-pada-kuda-kuda.jpg" alt="Gambar ini berguna sebagai acuan untuk menghitung kebutuhan kawat las" class="wp-image-2452"/><figcaption>Gambar 3: Mengelas pelat baja kuda-kuda dan pengaku (Couph)</figcaption></figure></div>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>III.Menghitung panjang (L) las pada besi beton Ø12 mm</strong></h3>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Pada bahan ini pengelasan kita lakukan pada pertemuan dengan bahan regel lainnya, sehingga panjang (L) kawat las kita hitung pada keliling besi beton saja, yaitu:</p>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">= (0,012&#215;0,14&#215;2) x 1.152 buah = 43,4 meter.</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>IV.Perhitungan volume (V) kawat untuk pengelasan T=4 mm</strong></h3>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Untuk kelompok pengelasan dengan tebal 4 mm, berdasarkan hasil perhitungan tersebut selanjutnya kita rekap total panjang (L) las adalah: 124,2+63,9+43,4 <strong>= 231,5 meter</strong>. Kemudian kita lakukan perhitungan volume las berdasarkan rumus berikut:</p>



<p class="has-normal-font-size"><strong>V         = A x L</strong></p>



<p class="has-normal-font-size">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; = ½ (T x T) x L</p>



<p class="has-normal-font-size">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; = ½ x 0,04 x 0,04 x 231,5 meter = 0,185 m³</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>V.Total tonase kebutuhan kawat las pada pengelasan T=4 mm</strong></h3>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Terakhir untuk mengetahui tonase kawat las untuk pengelasan T=4 mm, kita hitung berdasarkan rumus berikut ini:</p>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size"><strong>Tonase kawat          = Volume kawat las (V) x Berat jenis logam</strong></p>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; = 0,185 x 7.850 Kg/m³</p>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; = 1.452,25 Kg</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Cara menghitung volume (V) kawat untuk pengelasan T=3 mm</strong></h2>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Volume elektroda untuk pengelasan dengan T=3 mm, kita lakukan terhadap 4 jenis bahan yaitu: 1]. Pelat baja t=6 mm, 2]. CT-WF 150x75x5x7 mm, 3]. Dudukan regel L 50x50x5, dan 4]. Rangka talang L 40x40x4 mm. Adapun perhitungan pada masing-masing jenis bahan, akan kita lakukan dengan tahap-tahap berikut:</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>1.Menghitung panjang (L) las pada pelat baja t=6 mm</strong></h3>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Pada konstruksi gudang tersebut pelat baja t=6 mm terdiri dari bermacam fungsi, yang mana masing-masing panjang pengelasan dapat kita rinci, berdasarkan hitungan sebagai berikut:</p>



<ol type="1"><li>Pelat rib <em>(stiffners)</em> pada tiang kolom WF 250x125x6x9; kita ketahui panjang las = ((0,25&#215;2)+(0,125&#215;2)) x (9+27) buah kolom = 27,0 meter</li><li>Pelat rib tiang kolom WF 200x100x5,5&#215;8; perhitungan panjang las adalah: ((0,20&#215;2)+(0,10&#215;2)) x 54 buah kolom = 32,4 meter</li><li>Pelat rib kuda-kuda WF 200x100x5,5&#215;8; = ((0,20&#215;2)+(0,10&#215;2)) x 144 buah kolom = 86,4 meter</li><li>Pelat rib konsol WF 150x75x5x7; dapat kita hitung panjang las adalah: ((0,15&#215;2)+(0,075&#215;2)) x 18 buah kolom = 8,1 meter</li><li>Dudukan gording adalah: (0,10&#215;2) x 324 buah = 64,8 meter</li></ol>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Jadi bila kita total panjang (L) keseluruhan pengelasan pada pelat baja t=6 mm ini adalah:</p>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">27,0+32,4+86,4+8,1+64,8 meter = 218,7 meter.</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>2.Menghitung panjang (L) las pada profil baja lainnya</strong></h3>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Adapun perhitungan panjang pengelasan pada bahan-bahan yang lain, kita ketahui terdiri dari:</p>



<ol type="1"><li>Dudukan regel L 50x50x5; dapat kita hitung panjang las adalah: 0,40 x 24 buah = 9,6 meter</li><li>Bahan couph/sumpil CT-WF 150x75x5x7 mm adalah: (2,5&#215;0,15&#215;2) x 18 buah = 13,5 meter</li><li>Rangka talang L 40x40x4 mm = (0,04&#215;2) x 300 buah = 24,0 meter</li></ol>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Maka kita jumlahkan panjang&nbsp; (L) masing-masing pengelasan tersebut menjadi: 9,60+13,5+24,0 meter = 47,1 meter.</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>3.Perhitungan total volume (V) kawat untuk pengelasan T=3 mm</strong></h3>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Berdasarkan hasil perhitungan tersebut, selanjutnya dapat kita lakukan penjumlahan panjang (L) total las t=3 mm, yakni: 218,7+47,1 =&nbsp; <strong>265,8 meter</strong>. Setelah itu kita hitung volume las melalui rumus berikut:</p>



<p class="has-normal-font-size"><strong>V         = A x L</strong></p>



<p class="has-normal-font-size">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; = ½ (T x T) x L</p>



<p class="has-normal-font-size">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; = ½ x 0,04 x 0,04 x 265,8 meter = 0,212 m³</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>4.Total tonase kebutuhan kawat las pada pengelasan T=3 mm</strong></h3>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Selanjutnya berdasarkan perhitunggan volume tersebut, sehingga dapat kita ketahui tonase kawat las untuk mengelas T=3 mm, adalah:</p>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Tonase kawat          = 0,212 x 7.850 Kg/m³</p>



<p class="has-normal-font-size">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; = 1.664,20 Kg</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Jumlah total kebutuhan kawat las</strong></h2>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Berikut ini kita tahu jumlah total kebutuhan kawat las untuk pengerjaan konstruksi gudang, yaitu dengan menjumlahkan total tonase pengelasan T=4 dan T=3 mm, yakni:</p>



<p class="has-normal-font-size">= 1.452,25+1.664,20 Kg</p>



<p class="has-normal-font-size">= 3.116,45 Kg.</p>



<p class="has-text-align-justify has-pale-cyan-blue-background-color has-background has-normal-font-size">Perlu kita tambahkan, jumlah total kebutuhan las ini adalah untuk mengelas konstruksi dengan total panjang = 497,3 meter. Serta bila kita rata-rata dengan tonase kawat las, maka per meter pengelasan T=3 atau 4 mm membutuhkan ±6,27 Kg elektroda.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Kesimpulan</strong></h2>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Berdasarkan hasil perhitungan kebutuhan kawat las tersebut, apabila kita lakukan perbandingan dengan tonase baja maka hasinya adalah: 3.116,45Kg/29.362,39 Kg = 0,106. Dengan kata lain dapat kita ambil kesimpulan, kebutuhan kawat las untuk pembuatan konstruksi gudang ±10,6% dari tonase baja.</p>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Lalu kita coba <a href="https://lektur.id/arti-konversi/">konversi</a> dengan tonase bahan yang kita las, yaitu: 3.116,45Kg/3.383,67 Kg = 0,921, atau 92,10%. Sehingga dapat kita simpulkan kembali, bahwa kebutuhan kawat las nyaris sama dengan tonase bahan yang disambung.</p>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Sementara terkait dengan jumlah logam hasil pengelasan dengan jumlah elektroda yang telah kita gunakan <em>(Deposition efficiency/DE),</em> disini tidak kita hitung secara detail sebab masing-masing produk berbeda. Namun demikian khusus untuk mengelas SMAW dengan menggunakan kawat las panjang 350 mm, memiliki sekitar 62% dari jumlah elektroda terpakai.</p>



<p class="has-drop-cap has-text-align-justify has-normal-font-size">Adapun catatan terakhir mengenai perhitungan tonase kawat las ini adalah bukan untuk mengelas sambungan perkuatan struktur <em>(Reinforcement), </em>jadi boleh kita sebut berlaku pada pengelasan dengan standar umum. Serta total tonase tersebut telah meliputi untuk kebutuhan <a href="https://arsitekta.com/cara-membuat-las-titik-yang-benar-pada-proyek-baja/">Membuat las Titik.</a> </p>
<p>The post <a href="https://arsitekta.com/cara-menghitung-kebutuhan-kawat-las-konstruksi-gudang/">Cara Menghitung Kebutuhan Kawat Las Konstruksi Gudang</a> appeared first on <a href="https://arsitekta.com">Jasa Arsitektur dan Konstruksi Baja</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://arsitekta.com/cara-menghitung-kebutuhan-kawat-las-konstruksi-gudang/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>1</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Cara Membuat RAP Proyek Baja Pada Tahun Ini</title>
		<link>https://arsitekta.com/cara-membuat-rap-proyek-baja-pada-tahun-ini/</link>
					<comments>https://arsitekta.com/cara-membuat-rap-proyek-baja-pada-tahun-ini/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[arsitekta]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 08 Aug 2020 19:22:18 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Konstruksi Baja]]></category>
		<category><![CDATA[Tutorial]]></category>
		<category><![CDATA[Arsitek]]></category>
		<category><![CDATA[dokumen proyek]]></category>
		<category><![CDATA[manajemen konstruksi]]></category>
		<category><![CDATA[proyek baja]]></category>
		<category><![CDATA[Rangka Baja]]></category>
		<category><![CDATA[rap baja]]></category>
		<category><![CDATA[rap proyek]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://arsitekta.com/cara-membuat-rap-proyek-baja-pada-tahun-ini/</guid>

					<description><![CDATA[<p>Untuk pelaksanaan proyek baja berskala kecil sekalipun, seharusnya setiap kontraktor selalu menyusun RAP sebelum memulai pekerjaan. RAP adalah singkatan dari Rencana Anggaran Pelaksanaan. Yang bertujuan agar mengetahui biaya yang harus anda alokasikan membiayai pelaksanaan suatu perjanjian/kontrak kerja. Yang mana biaya tersebut harus sesuai kebutuhan nyata lapangan (real on site). Mengenai fungsi dan teknis penyusunan RAP [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://arsitekta.com/cara-membuat-rap-proyek-baja-pada-tahun-ini/">Cara Membuat RAP Proyek Baja Pada Tahun Ini</a> appeared first on <a href="https://arsitekta.com">Jasa Arsitektur dan Konstruksi Baja</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="has-drop-cap has-text-align-justify has-normal-font-size">Untuk pelaksanaan proyek baja berskala kecil sekalipun, seharusnya setiap kontraktor selalu menyusun RAP sebelum memulai pekerjaan. RAP adalah singkatan dari Rencana Anggaran Pelaksanaan. Yang bertujuan agar mengetahui biaya yang harus anda alokasikan membiayai pelaksanaan suatu perjanjian/kontrak kerja. Yang mana biaya tersebut harus sesuai kebutuhan nyata lapangan <em>(real on site)</em>.</p>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Mengenai fungsi dan teknis penyusunan RAP proyek baja, anda dapat pelajari tentang <a href="https://arsitekta.com/disini-perbedaan-antara-rab-rap-proyek-baja/">Disini Perbedaan Antara RAB dan RAP Proyek Baja</a>. Sebab sangat penting sebelum anda mempelajari tentang tata cara menyusun sebuah RAP proyek baja.</p>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Adapun cara menyusun RAP proyek baja untuk tahun tahun ini, secara detail kita lakukan dengan teknis seperti berikut ini.</p>



<h2 class="has-vivid-red-color has-text-color wp-block-heading"><strong>Tahap 1:Persiapan sebelum menyusun RAP</strong></h2>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Seperti kita ketahui RAP proyek baja merupakan jabaran dari RAB, jadi untuk menyusun RAP kita harus mengacu pada RAB proyek baja. Adapun tahap pertama yang perlu kita persiapkan sebelum menyusun RAP adalah:</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>Proses 1:  Menghitung kebutuhan bahan baja</strong></h3>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Menghitung kebutuhan bahan/material baja bertujuan untuk mengetahui jumlah <em>real</em> masing-masing bahan yang kita perlukan. Dalam proyek baja bahan terbagi 2 yaitu: bahan/material pokok dan material bantu. Adapun jenis bahan pokok proyek baja terdiri dari bahan baja, mur baut dan cat. Sedangkan material bantu misalnya kawat las, minyak cat, O2 <em>(oxigen)</em>, LPG dan sebagainya.</p>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Setelah semua bahan baja kita hitung, selanjutnya kita buat daftar kebutuhan bahan yang berisi jenis, ukuran serta jumlah masing-masing bahan baja yang kita perlukan. Kemudian dari daftar kebutuhan bahan yang telah kita buat, dapat kita lakukan perhitungan biaya:</p>



<ol type="1"><li>Pembelian material pokok,</li><li>Bongkar muat, dan</li><li>Biaya transportasi/pengiriman bahan.</li></ol>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>Proses 2: Melakukan pembelian bahan/material pokok</strong></h3>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Pembelian bahan baja kita lakukan berdasarkan daftar kebutuhan bahan yang oleh estimator telah siapkan. Sebelum melakukan pembelian, terlebih dahulu kita lakukan cek harga di beberapa suplier/distributor baja untuk mendapatkan harga yang paling kompetitif.</p>



<p class="has-normal-font-size">Ada beberapa hal yang harus kita pertimbangan dalam melakukan pembelian bahan baja, yaitu:</p>



<ol type="1"><li>Bahan baja yang kita beli harus sesuai spesifikasi yang tercantum dalam daftar kebutuhan bahan,</li><li>Tidak menutup kemungkinan pembelian bahan baja kita lakukan dari beberapa suplier/distributor baja yang berbeda,</li><li>Pembelian bahan baja dengan sistem PO <em>(Purchase Order)</em> serta pembayaran dengan sistem tempo atau tidak <em>cash</em>.</li></ol>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Setelah memperoleh harga bahan baja yang kompetitif, selanjutnya harga-harga bahan tersebut kita cantumkan dalam daftar kebutuhan bahan.</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>Proses 3: Membuat daftar kebutuhan alat kerja proyek</strong></h3>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Semua jenis alat yang kita perlukan dalam pelaksanaan proyek baja harus ada, baik alat yang kita gunakan pada saat fabrikasi maupun alat-alat yang kita gunakan saat erection.</p>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Secara umum jenis alat kerja proyek baja terdiri dari alat inti dan alat bantu. Sementara ditinjau dari kepemilikan alat, juga terbagi 2 yaitu alat miliki sendiri dan alat sewa. Lebih detail silahkan, anda dapat pelajari <a href="https://arsitekta.com/ini-jenis-alat-fabrikasi-baja-u-konstruksi/">Seperti Ini Jenis Alat Fabrikai Baja Saat ini.</a></p>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Alat-alat yang telah ada kemudian kita masukan dalam sebuah daftar kebutuhan alat. Selanjutnya untuk kita lakukan perhitungan:</p>



<ol type="1"><li>Biaya penyusutan alat milik sendiri,</li><li>Biaya mobilisasi alat.</li></ol>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>Proses 4: Menyusun struktur organisasi proyek baja</strong></h3>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Menyusun <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Struktur_organisasi">struktur organisasi</a> proyek sebagai sarana dalam pencapaian tujuan. Yaitu dengan mengatur dan mengorganisasi sumberdaya, tenaga kerja, bahan/material, peralatan dan modal secara efektif dan efisien. Serta kita lakukan dengan menerapkan sistem manajemen sesuai kebutuhan proyek.</p>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Struktur organisasi proyek ada 2, yaitu personil lapangan dan personil kantor. Silahkan anda pelajari <a href="https://arsitekta.com/100-istilah-penting-dalam-proyek-konstruksi/">100 Daftar Istilah Dalam Proyek Konstruksi</a>, telah jelas dalam artikel tersebut para pelaku/personil yang menjadi bagian dari struktur organisasi proyek.</p>



<p class="has-normal-font-size">Secara khusus personil lapangan untuk pelaksanaan proyek baja susunannya, adalah:</p>



<ol type="1"><li>PM <em>(</em><em>Project Manager)</em>,</li><li>SEM <em>(</em><em>Site Engineering Manager)</em>,</li><li>Drafter</li><li>Bagian logistik (bahan/alat),</li><li>Admin proyek,</li><li>Pelaksana,</li><li>Teknisi,</li><li>Mandor/bas borong dan</li><li>Tukang.</li></ol>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Setelah struktur organisasi proyek baja telah kita susun, selanjutnya dapat melakukan perhitungan biaya penginapan/mes, biaya transportasi tukang/karyawan/staff lapangan serta biaya pembuatan dan pengadaan <em>direksikeet</em>, brak kerja atau gudang alat.</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>Proses 5: Membuat <em>time schedule</em> proyek baja</strong></h3>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Dalam pelaksanaan proyek baja memerlukan perhitungan secara detail alokasi waktu yang kita butuhkan. Yaitu untuk menyelesaikan masing-masing item pekerjaan baja secara keseluruhan, sesuai batas waktu yang telah tetapkan dalam Surat Perjanjian/kontrak Kerja (SPK).</p>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size"><a href="https://arsitekta.com/time-schedule-proyek-baja-lengkap-realistis/">Time Schedule Proyek Baja Lengkap &amp; Realistis</a>, dapat membantu anda untuk membuat <em>time schedule.</em> Dalam artikel tersebut jelas secara detail tujuan, cara membuat serta implementasi time schedule dalam pelaksanaan proyek baja.</p>



<p class="has-normal-font-size">Setelah time schedule kita buat, selanjutnya jadikan acuan untuk melakukan perhitungan:</p>



<ol type="1"><li>Upah tukang,</li><li>Gaji karyawan/staff lapangan,</li><li>Biaya sewa alat berat<em> (Mobile crane)</em>,</li><li>Biaya keamanan/jaga.</li></ol>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>Proses 6: Membuat metode kerja</strong></h3>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Metode kerja proyek baja berguna untuk mengetahui secara detail proses/rangkaian pekerjaan beberapa komponen bahan baja. Baik rangkaian pekerjaan pada tahap fabrikasi maupun pada tahap erection. Dari metode kerja dapat kita lakukan perhitungan biaya untuk:</p>



<ol type="1"><li>Belanja material bantu,</li><li>Membayar listrik kerja,</li><li>Belanja alat bantu. Misalnya membeli oli mesin, solar, alat K3 dan seterusnya.</li></ol>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Anda perlu mempelajari <a href="https://arsitekta.com/metode-kerja-fabrikasi-baja-u-konstruksi/">Metode Kerja Fabrikasi Baja u/Konstruksi</a>, sebab disana rangkaian proses fabrikasi baja telah lengkap. Yang perlu kita buat selanjutnya adalah metode kerja erection.</p>



<h2 class="has-vivid-red-color has-text-color wp-block-heading"><strong>Tahap 2: (Contoh) Menyusun rekaputilasi RAP proyek baja</strong></h2>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Rekapitulasi RAP proyek baja berarti ringkasan isi dari hasil perhitungan-perhitungan seperti telah kita uraikan pada Tahap 1. Antara lain ringkasan perhitungan biaya pembelian bahan, perhitungan biaya alat, perhitungan biaya operasional dan sebagainya.</p>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Untuk mengetahui tata cara menyusun rekapitulasi RAP, berikut ini contoh RAP proyek baja pada tahun ini. Perhatikan contoh, rekapitulasi RAP terbagi dalam 3 jenis ringkasan perhitungan biaya yaitu:</p>



<h3 class="wp-block-heading">1.<strong>Biaya persiapan dalam RAP proyek baja</strong></h3>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="455" height="192" src="https://arsitekta.com/wp-content/uploads/2020/08/Gambar-1.-Contoh-RAP-proyek-baja.jpg" alt="Gambar ini contoh RAP proyek baja yang berisi ringkasan biaya persiapan" class="wp-image-2135" srcset="https://arsitekta.com/wp-content/uploads/2020/08/Gambar-1.-Contoh-RAP-proyek-baja.jpg 455w, https://arsitekta.com/wp-content/uploads/2020/08/Gambar-1.-Contoh-RAP-proyek-baja-300x127.jpg 300w" sizes="(max-width: 455px) 100vw, 455px" /><figcaption>Gambar contoh RAP proyek baja ringkasan biaya persiapan</figcaption></figure></div>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Adalah sebuah proyek baja dengan total tonase 99,38 Ton dan time schedule selama 75 Hari kerja. Dari gambar dapat kita ketahui ringkasan biaya persiapan pelaksanaan proyek baja, terdiri dari biaya:</p>



<ul><li>Surveri, <em>shop drawing</em>, fotocopy, pembuatan mal kerja, approval material</li><li>Pembuatan brak kerja/gudang (bahan &amp; alat),</li><li>Penginapan/kost tukang,</li><li>Kemanan dan jaga,dan</li><li>Biaya bongkar muat bahan.</li></ul>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Dapat anda lihat pada gambar tercantum rincian perhitungan masing-masing biaya, sehingga kita ketahui total RAP yang harus kita alokasikan untuk biaya persiapan.</p>



<h3 class="wp-block-heading">2.<strong>Biaya pelaksanaan pekerjaan proyek baja</strong></h3>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="456" height="293" src="https://arsitekta.com/wp-content/uploads/2020/08/Gambar-2.-Contoh-RAP-proyek-baja.jpg" alt="Gambar ini contoh RAP proyek baja yang berisi ringkasan biaya pelaksanaan pekerjaan" class="wp-image-2136" srcset="https://arsitekta.com/wp-content/uploads/2020/08/Gambar-2.-Contoh-RAP-proyek-baja.jpg 456w, https://arsitekta.com/wp-content/uploads/2020/08/Gambar-2.-Contoh-RAP-proyek-baja-300x193.jpg 300w" sizes="(max-width: 456px) 100vw, 456px" /><figcaption>Gambar contoh RAP proyek baja ringkasan biaya pelaksanaan</figcaption></figure></div>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Gambar ini adalah contoh RAP proyek baja yang berisi jenis ringkasan biaya pelaksanaan pekerjaan, yang terdiri dari biaya:</p>



<ul><li>Bahan/material pokok,</li><li>Material bantu,</li><li>Peralatan dan perlengkapan (alat bantu),</li><li>Biaya tukang,</li><li>Biaya transportsi (mob demob),</li></ul>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Dalam gambar tidak tercantum rincian perhitungan biaya bahan/material pokok, tetapi telah kita cantumkan dalam daftar kebutuhan bahan. Artinya nominal biaya bahan/material pokok tersebut kita peroleh berdasarkan pembelian bahan, seperti telah jelas pada Tahap 1; proses 2.</p>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Untuk rincian perhitungan biaya peralatan, biaya tukang dan transportasi tercantum dalam gambar, sehingga kita ketahui total RAP yang harus kita alokasikan untuk biaya pelaksanaan pekerjaan.</p>



<h3 class="wp-block-heading">3.<strong>Biaya retensi, serah terima dan lain-lain.</strong></h3>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="456" height="154" src="https://arsitekta.com/wp-content/uploads/2020/08/Gambar-3.-Contoh-RAP-proyek-baja.jpg" alt="Gambar ini contoh RAP proyek baja yang berisi ringkasan biaya retensi, biaya serah terima dan biaya lain-lain" class="wp-image-2137" srcset="https://arsitekta.com/wp-content/uploads/2020/08/Gambar-3.-Contoh-RAP-proyek-baja.jpg 456w, https://arsitekta.com/wp-content/uploads/2020/08/Gambar-3.-Contoh-RAP-proyek-baja-300x101.jpg 300w" sizes="(max-width: 456px) 100vw, 456px" /><figcaption>Gambar contoh RAP proyek baja ringkasan biaya retensi dan lain-lain</figcaption></figure></div>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Gambar terakhir ini adalah contoh RAP proyek baja yang berisi jenis ringkasan biaya retensi, serah terima pekerjaan dan lain-lain. Yang terdiri dari:</p>



<ul><li>Biaya service/perbaikan selama retensi,</li><li><em>Fee </em>marketing,</li><li>Bunga bank,</li><li>Biaya tak terduga <em>(overhead).</em></li></ul>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Rincian perhitungan masing-masing biaya tidak tercantum dalam gambar, yang artinya perhitungan kita lakukan berdasarkan asumsi/standar umum. Misalnya dasar perhitungan biaya <em>overhead</em> dan <em>fee </em>marketing adalah 3% dari nilai kontra. Sehingga kita ketahui total RAP yang harus kita alokasikan untuk biaya <em>retensi</em>, serah terima pekerjaan dan lain-lain.</p>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">Dari jumlah total masing-masing jenis ringkasan akan kita ketahui total RAP proyek baja. Maka selanjutnya, untuk mengetahui <em>margin</em> yaitu nilai kontrak kita kurangi total RAP.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Penutup</strong></h2>



<p class="has-drop-cap has-text-align-justify has-normal-font-size">Ada beberapa proses yang harus kita lakukan untuk menyusun RAP proyek baja, yang melibatkan kerja tim dan harus yang berpengalaman. Itu sebabnya selalu saya katakan, sebab kunci keberhasilan serta kegagalan melaksanakan sebuah proyek baja terlihat dari kemampuan kontraktor menyusun RAP.</p>



<p class="has-text-align-justify has-normal-font-size">RAP proyek baja yang kita susun dengan benar, berdasarkan perhitungan-perhitungan yang detail dan lengkap akan memungkinkan kontraktor sukses menyelesaikan proyek. Sebaliknya Pelaksanaan proyek baja tanpa RAP memungkinkan kontraktor akan gagal menyelesaikan proyek, sebab tidak ada kontrol dan evaluasi mengenai alokasi biaya yang dikeluarkan.</p>
<p>The post <a href="https://arsitekta.com/cara-membuat-rap-proyek-baja-pada-tahun-ini/">Cara Membuat RAP Proyek Baja Pada Tahun Ini</a> appeared first on <a href="https://arsitekta.com">Jasa Arsitektur dan Konstruksi Baja</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://arsitekta.com/cara-membuat-rap-proyek-baja-pada-tahun-ini/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
