Titik Elevasi Konstruksi Bangunan Yang Benar Dan Manfaatnya

Menentukan titik elevasi konstruksi bangunan tidaklah mudah, dan tidak boleh dilakukan oleh orang-orang biasa. Karena dampaknya sangat besar. Yaitu mulai dari keberadaan bangunan di lingkungan sekitar. Hingga fungsi bangunan itu sendiri. Serius banget bukan?.

Proyek Kami Konstruksi Baja

Pengertian, manfaat dan ragam elevasi

Titik elevasi konstruksi adalah posisi berdirinya sebuah konstruksi yang diukur secara tegak lurus terhadap titik elevasi yang berada di bawahnya. Sehingga dengan adanya perbedaan titik elevasi tersebut, diketahui ketinggian pasang konstruksi.

Ragam elevasi pada bangunan dapat dikelompokkan menjadi 3 macam, yaitu:

1. Berdasarkan jenis pekerjaan dan bahan yang digunakan

Contoh pekerjaan konstruksi baja. Pada saat pemasangan angkur baut. Titik elevasi base plat sangat dibutuhkan. Supaya seragam dengan gambar rencana yang dibuat oleh arsitek.

Begitu pula pada saat membuat gambar kerja baja. Agar proses pabrikasi baja tidak keliru. Salah satu ukuran yang Anda butuhkan adalah ketinggian bangunan. Sebab hanya dari ukuran tersebut Anda bisa menetapkan tinggi kolom baja dengan tepat.

Hal yang sama juga terjadi pada sub-sub pekerjaan bangunan lainnya. Misal lingkup pekerjaan instalasi penerangan. Anda pasti membutuhkan titik elevasi. Yakni untuk melakukan pemasangan saklar, dan stop kontak.

Demikian juga pada pekerjaan lanskap. Untuk menentukan permukaan taman. Pun, Anda memerlukan level acuan. Jadi pada prinsipnya, urusan titik elevasi konstruksi tidak hanya terjadi pada pekerjaan yang menggunakan material baja. Tapi semua pekerjaan bangunan.

2. Berdasarkan garis sumbu X dan cara penulisan notasi

Contoh ketika Anda memasang konsol baja pada kolom beton. Dengan tumpuan sistem jepit. Seperti terlihat pada gambar dibawah. Maka elevasi pemasangan konsol di awali dengan simbol + (plus). Yang berarti berada pada ketinggian tertentu dari titik 0.

Potongan kontruksi bangunan lapangan badminton

Beda dengan elevasi pondasi pancang. Karena berada didalam tanah. Maka penulisan elevasi selalu di awali dengan tanda – (minus). Hal itu sekaligus menjelaskan bahwa posisi tiang pancang sampai dengan kedalaman tertentu dari titik 0.

Cara penulisan elevasi terlihat pada gambar potongan kuda-kuda pipa lengkung. Lantai bangunan (Lapangan) adalah sebagai titik acuan. Nah, garis ukuran yang menghubungkan antara 2 elevasi dinamakan level. Atau, tinggi salah satu konstruksi bangunan.

[Panduan] Cara menentukan elevasi bangunan

Setelah membaca penjelasan diatas, pasti Anda penasaran tentang cara menentukan titik elevasi konstruksi. Sebenarnya mudah. Dan, telah ada acuan yang baku. Yaitu tercantum dalam gambar rencana, yang dibuat oleh arsitek yang merancang bangunan.

Tapi, tunggu dulu. Persoalan sering terjadi demikian:

  1. Titik acuan elevasi bangunan, yang ditulis dengan kode ± sudah ada. Namun, tidak pada tempatnya. Seharusnya adalah lantai dasar bangunan. Bukan permukaan jalan, atau halaman.
  2. Elevasi konstruksi bangunan tidak konsisten. Misalnya didalam gambar arsitektur titik +/-0,00 sudah tepat. Namun, didalam gambar struktur beda. Titik ± 0,00 bangunan ditulis sejajar sloof beton. Kan, jadi rancu.

Nah, kalau Anda menemukan kasus yang demikian. Pedoman Anda harus poin 1. Yaitu lantai bangunan. Pun, ketentuan ini berlaku untuk semua jenis pekerjaan konstruksi bangunan. Maksudnya begini.

Misal, ketika Anda hendak memasang kosen pintu dan jendela. Maka titik elevasi konstruksi tersebut tetap mengacu pada titik ± 0,00 bangunan. Supaya tukang tidak salah pasang. Serta tahu ketinggian pemasangan kosen. Lalu, menyiapkan alat untuk pekerjaan tersebut.

Cara mengecek level bangunan

Diatas kertas mungkin saja elevasi bangunan telah benar. Tapi, praktik dilapangan belum tentu. Oleh sebab itu, perlu cek ulang. Bahkan harus sesering mungkin Anda lakukan. Karena item pekerjaan bangunan sangat banyak. Dan, semuanya berkaitan dengan ukuran. Nah untuk melakukan pengecekan tersebut bisa Anda lakukan dengan 2 cara, yakni manual, atau menggunakan mesin.

Cara manual adalah menggunakan selang bangunan. Sedangkan pengukuran titik elevasi konstruksi dengan mesin, maksudnya adalah Total Station (TS). Atau, zaman dulu terkenal dengan nama Thoedolite.

Untuk lingkup pekerjaan yang kecil. Dan, jaraknya pendek. Misalnya pemasangan pipa air bersih didalam rumah. Cukup menggunakan cara pertama. Karena masih terjangkau dengan selang bangunan. Pun, hasilnya juga sangat akurat.

Namun untuk pekerjaan yang luas, dan sangat tinggi. Contohnya pemasangan pondasi penahan tanah. Alat yang tepat adalah TS. Sebab alat ini mampu menjangkau pengukuran sampai ratusan meter.

Dampak level bangunan yang tidak pas

Sebenarnya tidak ada regulasi yang mengatur tentang titik elevasi konstruksi bangunan. Melainkan hanya kebijakan masing-masing pemilik. Dengan atau tanpa melibatkan jasa arsitek.

1. Dampak umum

Level bangunan rumah tinggal misalnya. Idealnya adalah 50 – 75 cm dari permukaan jalan raya. Kalau lebih dari itu. Anda akan kesulitan memasukkan kendaraan. Karena harus membuat jalan/jembatan curam.

Sebaliknya, bila elevasi bangunan terlalu rendah. Atau, rata dengan jalan. Maka, membuat Anda tidak nyaman didalam bangunan. Karena takut banjir, debu banyak dan sebagainya.

2. Dampak secara khusus

Sering terjadi disebabkan oleh kesalahan proses konstruksi. Misalnya pada saat pemasangan tangga. Elevasi anak tangga dibuat dengan jarak yang tidak ideal. Maka tangga tersebut menjadi tidak layak pakai.

Contoh lain adalah ketika memasang talang. Sesungguhnya harus dibuat miring. Supaya air mudah mengalir. Oleh sebab itu, masing-masing ujung talang tersebut harus beda tinggi.

Dan, masih banyak contoh-contoh pekerjaan bangunan yang membutuhkan titik elevasi konstruksi harus benar. Sebab salah satu saja elevasi konstruksi tidak tepat. Maka, hal itu akan berpengaruh pada bangunan secara keseluruhan.

[Penutup] Eksistensi titik elevasi bangunan

Bicara tentang level/elevasi bangunan harus melibatkan banyak pihak. Dan, harus berlangsung jauh-jauh hari sebelum proses pembangunan mulai. Supaya pada saat pelaksanaan pekerjaan tidak terjadi kesalahan, yang berakibat pada kerugian materi dan moril (non materi).

Kerugian materi adalah bangunan jadi tidak nyaman. Dan, kerugian dalam bentuk materi adalah timbulnya pekerjaan bongkar pasang. Sebagai akibat dari titik elevasi konstruksi bangunan yang tidak benar. Jadi, tidak boleh anggap remeh.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Butuh bantuan untuk Desain Arsitek dan Konstruksi baja? Ayo chat dengan kami!